<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2471196886602119956</id><updated>2012-02-16T11:42:10.635-08:00</updated><title type='text'>Tentang Bid'ah</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://hal-bidah.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2471196886602119956/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hal-bidah.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>AWePe</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>10</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2471196886602119956.post-2595477714714553522</id><published>2010-08-09T10:16:00.000-07:00</published><updated>2010-08-09T10:16:23.196-07:00</updated><title type='text'>Membaca Qunut dalam Sholat Shubuh yang katanya Bid’ah mungkar</title><content type='html'>&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Golongan pengingkar berpendapat lebih jauh lagi, yaitu menganggap qunut dalam sholat shubuh sebagai bid’ah mungkar yang harus dihindari. Karena ke- egoisan memegang pahamnya ini, mereka ini tanpa segan-segan mencela orang yang mengamalkannya, dan melontarkan ucapan-ucapan yang justru bisa men- datangkan dosa dan bertentangan dengan akhlak yang diajarkan Nabi saw!! Bagaimana mungkin doa qunut yang masih ada haditsnya itu dikatakan bid’ah mungkar?, sedangkan para sahabat menambah bacaan dalam sholat ,yang telah kami kemukakan, yang tidak pernah diajarkan oleh Nabi saw, tidak dipersalahkan oleh Nabi saw, malah diridhoi dan diberi kabar gembira bagi pembacanya? . Sebelum kami mengutip beberapa hadits tentang qunut, kami tekankan dahulu, bahwa menurut para pendukungnya, &lt;i&gt;qunut pada shalat shubuh&lt;/i&gt; itu mempunyai dasar dari &lt;i&gt;amaliyah &lt;/i&gt;Rasulullah saw dan beliau saw melakukannya, bukan hanya untuk qunut nazilah (bencana) saja. Kedudukan riwayatnya pun cukup kuat, karena diriwayatkan para rawi yang terpercaya, antara lain Al-Bukhari dan Muslim, dan diamalkan para Salaf, Imam Syafi’i, Imam Malik dan lainnya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dalam buku Fiqih Sunnah, Sayid Sabiq ,bhs.Indonesia, jilid 2, edisi kedua th.1977 hal.41 dan 43 disebutkan, bahwa Imam Syafi’i mensunnahkan qunut dalam sholat shubuh, dengan berdalil hadits, dari Anas bin Malik ra. Anas ra pernah ditanya, ‘apakah Nabi saw berqunut dalam sholat shubuh? Ia (Anas ra) menjawab, Ya. Ditanya pula, ‘sebelum rukuk atau sesudahnya’? Ia menjawab, ‘sesudah rukuk’(HR.Jama’ah, kecuali Turmudzi, dari Ibnu Sirin). Juga beliau berdalil dengan hadits lainnya, dari Anas bin Malik ra: “Rasulallah saw itu selalu berqunut dalam sholat shubuh, hingga meninggalkan dunia”(HR. Ahmad, Bazzar, Daruquthni, dan &lt;i&gt;dishohihkan&lt;/i&gt; oleh Al-Baihaqi dan Al-Hakim).Imam Nawawi dalam kitabnya &lt;i&gt;Adzkarun-Nawawiyyah&lt;/i&gt; mengomentari, bahwa hadits tersebut shohih. Adapun Ibn Hajar Al-Asqolani berkomentar dalam&lt;i&gt; takhrij&lt;/i&gt;-nya bahwa hadits tersebut&lt;i&gt; hasan lighoirihi&lt;/i&gt; (baik, karena didukung riwayat lainnya).&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sedangkan lafadh qunut shubuh menurut Imam Syafi’i, ialah&amp;nbsp; yang diajarkan Nabi saw kepada Al-Hasan bin Ali ketika qunut witir, yaitu “&lt;i&gt;Allahummah&amp;nbsp; diini fiiman hadaita …&lt;/i&gt;dan seterusnya”(HR. At-Tirmidzi,&amp;nbsp; Abu Daud, dan lain-lain).&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Hadits dari Al-Barra’ bin Azib ra yang berkata, bahwa ‘Nabi saw dahulu melakukan qunut pada shalat maghrib dan shubuh’ (HR Ahmad, Muslim dan At-Tirmidzi). At-Tirmidzi &lt;i&gt;menshahihkan&lt;/i&gt; hadits ini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Abubakar Jabir Al-Jazairi dalam kitabnya &lt;i&gt;Minhajul Muslim&lt;/i&gt; mengatakan, bahwa disunnahkan qunut subuh setelah rukuk dan dikomentari dalam &lt;i&gt;tahkik&lt;/i&gt; kitab tersebut, bahwa qunut subuh telah &lt;i&gt;tsabit dalam shahihain&lt;/i&gt;!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Seorang ulama golongan tabi’in, Imam Hasan Basri, berkata, ‘aku pernah sholat dibelakang dua puluh delapan orang dari pahlawan Badar (Ahlul Badar), mereka semua melakukan qunut shubuh sesudah ruku’(Irsyadussariy syarah Bukhori juz 3). Al-Hafidh Al-Iraqi ,guru dari Ibnu Hajar, sebagaimana dikutip oleh Al-Qasthalani dalam &lt;i&gt;Irsyadussariy syarah shahih Bukhari&lt;/i&gt; menjelaskan, bahwa qunut &lt;i&gt;shubuh&lt;/i&gt; itu diriwayatkan oleh Abubakar, Umar, Utsman, Ali dan Ibnu Abbas [ra]. Kemudian beliau (al-Hafidh) berkomentar,&lt;b&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;‘telah sah dari mereka ( para shahabat ) dalil tentang qunut tatkala terjadi pertentangan antara pendapat yang menetapkan dan meniadakan, maka &lt;i&gt;didahulukan pendapat yang menetapkan&lt;/i&gt;’. Masih banyak hadits yang meriwayatkan adanya qunut ini, yang tidak tercantum disini. Sebagian ulama ,antara lain Ibnu Taimiyah, yang mengingkari hadits qunut shubuh, dengan alasan sanad hadits itu lemah, karena melalui seorang rawi yang bernama Abu Ja’far Ar-Razi, yang nama aslinya Isa bin Abi Isa. Padahal menurut pakar hadits lainnya, bahwa Abu Ja’far Ar-Razi, nama aslinya adalah Isa Bin Maahaan, layak diterima haditsnya. Yahya bin Ma’in ,guru dari Imam Bukhori, mengatakan bahwa Abu Ja’far adalah orang &lt;i&gt;Tsiqoh.&lt;/i&gt;&amp;nbsp; Abu Hatim pun berkata demikian, bahwa Abu Ja’far itu adalah &lt;i&gt;Tsiqotun Shoduq&lt;/i&gt; (terpercaya lagi jujur). Juga berdasarkan amalan para Salaf, para pakar fiqih,, maka hadits qunut sholat shubuh dapat diterima!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Qunut ini bukan amalan wajib, itu merupakan dzikir dan doa yang dibaca ketika sholat. Umpama saja kita benarkan, hadits mengenai Qunut&amp;nbsp;semuanya lemah, ini tidak menjadi soal untuk mengamalkannya, karena itu termasuk amalan yang mengandung doa dan dzikir. Ibnu Hajar dalam &lt;i&gt;Fathul Mubin&lt;/i&gt;:32: ‘Para ulama sepakat bahwa hadits lemah boleh dipakai pada Fadhailul Amal’. Wallahua’lam.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Semoga dengan keterangan sebelumnya mengenai akidah golongan Wahabi/Salafi serta pengikutnya dan keterangan bid’ah yang singkat ini insya-Allah bisa membuka hati kita masing-masing agar tidak mudah mensesatkan, mengkafirkan dan sebagainya pada saudara muslim kita sendiri yang sedang melakukan ritual-ritual Islam begitu juga yang berlainan madzhab dengan madzhab kita.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2471196886602119956-2595477714714553522?l=hal-bidah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2471196886602119956/posts/default/2595477714714553522'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2471196886602119956/posts/default/2595477714714553522'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hal-bidah.blogspot.com/2010/08/membaca-qunut-dalam-sholat-shubuh-yang.html' title='Membaca Qunut dalam Sholat Shubuh yang katanya Bid’ah mungkar'/><author><name>AWePe</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2471196886602119956.post-9200351399902967561</id><published>2010-08-09T10:13:00.000-07:00</published><updated>2010-08-09T10:13:35.558-07:00</updated><title type='text'>Penggunaan Tasbih yang katanya bid’ah sesat</title><content type='html'>&lt;span lang="NL" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sering yang kita dengar dari golongan muslimin diantaranya dari madzhab Wahabi/Salafi dan pengikutnya yang melarang orang menggunakan &lt;i&gt;Tasbih &lt;/i&gt;waktu berdzikir. Sudah tentu &lt;/span&gt;&lt;span lang="NL" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;sebagaimana kebiasaan golongan ini&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL" style="color: black;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="NL" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;alasan mereka melarang dan sampai-sampai berani membid’ahkan sesat &lt;/span&gt;&lt;span lang="NL" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;karena menurut paham mereka&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; bahwa Rasulallah saw. para sahabat tidak ada yang menggunakan tasbih waktu berdzikir !&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="NL" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;‘Tasbih’&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="NL" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; atau yang dalam bahasa Arab disebut dengan nama ‘&lt;i&gt;Subhah’&lt;/i&gt; adalah butiran-butiran yang dirangkai untuk menghitung jumlah banyaknya dzikir yang diucapkan oleh seseorang, dengan lidah atau dengan hati. Dalam bahasa Sanskerta kuno, tasbih disebut dengan nama &lt;i&gt;Jibmala &lt;/i&gt;yang berarti hitungan dzikir.&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Orang berbeda pendapat mengenai &lt;i&gt;asal-usul&lt;/i&gt; penggunaan tasbih. Ada yang mengatakan bahwa tasbih berasal dari orang Arab, tetapi ada pula yang mengatakan bahwa tasbih berasal dari India yaitu dari kebiasaan orang-orang Hindu. Ada pula orang yang mengatakan bahwa pada mulanya kebiasaan memakai tasbih dilakukan oleh kaum Brahmana di India. Setelah Budhisme lahir, para biksu Budha menggunakan tasbih menurut hitungan Wisnuisme, yaitu 108 butir. Ketika Budhisme menyebar keberbagai negeri, para rahib Nasrani juga menggunakan tasbih, meniru biksu-biksu Budha. Semuanya ini terjadi pada zaman sebelum islam.&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Kemudian datanglah Islam, suatu agama yang memerintahkan para pemeluk nya &amp;nbsp;untuk berdzikir (ingat) juga kepada Allah swt. sebagai salah satu bentuk peribadatan untuk mendekatkan diri kepada Allah swt.. Perintah dzikir bersifat umum, tanpa pembatasan jumlah tertentu dan tidak terikat juga oleh keadaan-keadaan tertentu. Banyak sekali firman Allah swt. dalam Al-Qur’an agar orang banyak berdzikir dalam setiap keadaan atau situasi, umpama berdzikir sambil berdiri, duduk, berbaring dan lain sebagainya.&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sehubungan dengan itu terdapat banyak hadits yang menganjurkan jumlah dan waktu berdzikir, misalnya seusai sholat fardhu yaitu tiga puluh tiga kali dengan ucapan &lt;i&gt;Subhanallah&lt;/i&gt;, tiga puluh tiga kali &lt;i&gt;Alhamdulillah &lt;/i&gt;dan tiga puluh tiga kali &lt;i&gt;Allahu Akbar,&lt;/i&gt; kemudian dilengkapi menjadi seratus dengan ucapan kalimat tauhid &lt;i&gt;‘Laa ilaaha illallahu wahdahu….’&lt;/i&gt;. Kecuali itu terdapat pula hadits-hadits lain yang menerangkan keutamaan berbagai ucapan dzikir bila disebut sepuluh atau seratus kali. Dengan adanya hadits-hadits yang menetapkan jumlah dzikir seperti itu maka dengan sendirinya orang yang berdzikir perlu mengetahui jumlahnya yang pasti.&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 14.4pt; margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Hadits-hadits yang berkaitan dengan cara menghitung dzikir&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, Tirmidzi, An-Nasai dan Al-Hakim berasal dari Ibnu Umar ra. yang mengatakan:&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;“Rasulallah saw. menghitung dzikirnya dengan jari-jari dan menyarankan para sahabatnya supaya mengikuti cara beliau saw.”. Para Imam ahli hadits tersebut juga meriwayatkan sebuah hadits berasal dari &lt;i&gt;Bisrah&lt;/i&gt;, seorang wanita dari kaum Muhajirin, yang mengatakan bahwa Rasulallah saw. pernah berkata:&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;“Hendaklah kalian senantiasa bertasbih (&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;berdzikir)&lt;i&gt;, bertahlil dan bertaqdis (yakni berdzikir dengan menyebut ke–Esa-an dan ke-Suci-an Allah swt.). Janganlah kalian sampai lupa hingga kalian akan melupakan tauhid. Hitunglah dzikir kalian dengan jari, karena jari-jari kelak akan ditanya oleh Allah dan akan diminta berbicara”&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Perhatikanlah&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;: &lt;i&gt;Anjuran menghitung dengan jari dalam hadits itu tidak berarti melarang orang menghitung dzikir dengan cara lain !!!. Untuk mengharamkan atau memunkarkan suatu amalan haruslah mendatangkan nash yang khusus tentang itu, tidak seenaknya sendiri saja !&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Imam Tirmidzi, Al-Hakim dan Thabarani meriwayatkan sebuah hadits berasal dari &lt;i&gt;Shofiyyah&lt;/i&gt; yang mengatakan: “Bahwa pada suatu saat Rasulallah saw. datang kerumahnya. Beliau melihat &lt;i&gt;empat ribu butir biji kurma&lt;/i&gt; yang biasa digunakan oleh Shofiyyah untuk menghitung dzikir. Beliau saw. bertanya; &lt;i&gt;‘Hai binti Huyay, apakah itu&lt;/i&gt; ?‘ Shofiyyah menjawab ; ‘Itulah yang kupergunakan untuk menghitung dzikir’. Beliau saw. berkata lagi; &lt;i&gt;‘Sesungguhnya engkau dapat berdzikir lebih banyak dari itu’&lt;/i&gt;. Shofiyyah menyahut; ‘Ya Rasulallah, ajarilah aku’. Rasulallah saw. kemudian berkata; ‘&lt;i&gt;Sebutlah, Maha Suci Allah sebanyak ciptaan-Nya’&lt;/i&gt; ”. (Hadits &lt;i&gt;shohih&lt;/i&gt;).&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Abu Dawud dan Tirmidzi meriwayatkan sebuah hadits yang dinilai sebagai hadits &lt;i&gt;hasan/baik&lt;/i&gt; oleh An-Nasai, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Al-Hakim yaitu hadits yang berasal dari Sa’ad bin Abi Waqqash ra. yang mengatakan:&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right" class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: right;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;“Bahwa pada suatu hari Rasulallah saw. singgah dirumah seorang wanita. Beliau melihat &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;banyak batu kerikil&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; yang biasa dipergunakan oleh wanita itu untuk menghitung dzikir. Beliau bertanya; ‘&lt;i&gt;Maukah engkau kuberitahu cara yang lebih mudah dari itu dan lebih afdhal/utama ?&lt;/i&gt;’ Sebut sajalah kalimat-kalimat sebagai berikut :&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right" class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: right;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right" class="MsoNormal" dir="rtl" style="direction: rtl; margin-left: 117pt; text-align: left; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="AR-SA" style="color: black; font-size: 16pt;"&gt;سُبْحَانَ اللهِ عَدَدَ مَا خَلـَقَ فِى السَّماَءِ, سُبْحَانَ اللهِ عَدَدَ مَا&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr" lang="SV" style="color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right" class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: right;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA" style="color: black; font-size: 16pt;"&gt;خَلَـقَ فِى الأَرْضِ, سُبْحَانَ اللهِ عَدَدَ مَا بَيْنَ ذَلِكَ, اَللهُ أَكْيَرُ&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA" style="color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right" class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: right;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA" style="color: black; font-size: 16pt;"&gt;مِثْـلُ ذَلِكَ, وَالْحَمْدُ لِلَّهِ مِثْلُ ذَلِكَ,وَ لإِلَهَ إلاَّ الله مِثْلُ ذَلِكَ,&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right" class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: right;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA" style="color: black; font-size: 16pt;"&gt;وَلاَقُوَّةَ إلاَّ بِالله مِثْلُ ذَلِكَ&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Yang artinya : ‘Maha suci Allah sebanyak makhluk-Nya yang dilangit, Maha suci Allah sebanyak makhluk-Nya yang dibumi, Maha suci Allah sebanyak makhluk ciptaan-Nya. (sebutkan juga) Allah Maha Besar, seperti tadi, Puji syukur kepada Allah seperti tadi, Tidak ada Tuhan selain Allah, seperti tadi dan tidak ada kekuatan kecuali dari Allah, seperti tadi !’ “. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Lihat dua hadits diatas ini, Rasulallah saw. melihat Shofiyyah menggunakan &lt;i&gt;biji kurma &lt;/i&gt;untuk menghitung dzikirnya, beliau saw. tidak &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;melarangnya&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;atau tidak mengatakan bahwa dia harus berdzikir dengan jari-jarinya, malah beliau saw. berkata kepadanya &lt;i&gt;engkau dapat berdzikir lebih banyak dari itu&lt;/i&gt; !! Begitu juga beliau saw. tidak melarang seorang wanita lainnya yang menggunakan &lt;i&gt;batu kerikil&lt;/i&gt; untuk menghitung dzikirnya dengan kata lain beliau saw. tidak mengatakan kepada wanita itu, &lt;i&gt;buanglah batu kerikil itu dan hitunglah dzikirmu dengan jari-jarimu !&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Beliau saw. malah mengajarkan kepada mereka berdua bacaan-bacaan yang lebih utama dan lebih mudah dibaca. Sedangkan berapa&amp;nbsp;jumlah dzikir yang harus dibaca, tidak ditentukan oleh Rasulallah saw. jadi terserah kemampuan mereka.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Banyak riwayat bahwa para sahabat Nabi saw. dan kaum salaf yang sholeh pun menggunakan &lt;i&gt;biji kurma, batu-batu kerikil, bundelan-bundelan benang&lt;/i&gt; dan lain sebagainya untuk menghitung dzikir yang dibaca. Ternyata tidak ada orang yang menyalahkan atau membid’ahkan sesat mereka !! &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; Imam Ahmad bin Hanbal didalam &lt;i&gt;Musnadnya&lt;/i&gt; meriwayatkan bahwa seorang sahabat Nabi yang bernama &lt;i&gt;Abu Shofiyyah&lt;/i&gt; menghitung dzikirnya dengan &lt;i&gt;batu-batu kerikil.&lt;/i&gt; Riwayat ini dikemukakan juga oleh &lt;i&gt;Imam Al-Baihaqi &lt;/i&gt;dalam &lt;i&gt;Mu’jamus Shahabah;&amp;nbsp; ”&lt;/i&gt;‘bahwa Abu Shofiyyah, maula Rasulallah saw. menghamparkan selembar kulit kemudian mengambil sebuah &lt;i&gt;kantong berisi batu-batu keriki&lt;/i&gt;l, lalu duduk berdzikir hingga tengah hari. Setelah itu ia menyingkirkannya. Seusai sholat dhuhur ia mengambilnya lagi lalu berdzikir hingga sore hari “.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Abu Dawud meriwayatkan; ‘bahwa Abu Hurairah ra. mempunyai sebuah kantong berisi &lt;i&gt;batu kerikil.&lt;/i&gt; Ia duduk bersimpuh diatas tempat tidurnya ditunggui oleh seorang hamba sahaya wanita berkulit hitam. Abu Hurairah berdzikir dan menghitungnya dengan batu-batu kerikil yang berada dalam kantong itu. Bila batu-batu itu habis dipergunakan, hamba sahayanya menyerahkan kembali batu-batu kerikil itu kepadanya’.&lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Abu Syaibah juga mengutip hadits ‘Ikrimah yang mengatakan; ‘bahwa Abu Hurairah mempunyai seutas benang dengan &lt;i&gt;bundelan seribu buah&lt;/i&gt;. Ia baru tidur setelah berdzikir dua belas ribu kali’.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Imam Ahmad bin Hanbal dalam &lt;i&gt;Musnadnya bab Zuhud&lt;/i&gt; mengemukakan; ‘bahwa Abu Darda ra. mempunyai &lt;i&gt;sejumlah biji kurma&lt;/i&gt; yang disimpan dalam kantong. Usai sholat shubuh biji kurma itu dikeluarkan satu persatu untuk menghitung dzikir hingga habis’. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Abu Syaibah juga mengatakan; ‘bahwa Sa’ad bin Abi Waqqash ra menghitung dzikirnya dengan &lt;i&gt;batu kerikil atau biji kurma&lt;/i&gt;. Demikian pula Abu Sa’id Al-Khudri ’. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dalam kitab &lt;i&gt;Al-Manahil Al-Musalsalah &lt;/i&gt;Abdulbaqi mengetengahkan sebuah riwayat yang mengatakan; ‘bahwa Fathimah binti Al-Husain ra mempunyai benang yang banyak bundelannya untuk menghitung dzikir ’.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dalam kitab &lt;i&gt;Al-Kamil &lt;/i&gt;, Al-Mubarrad mengatakan; &amp;nbsp;“bahwa ‘Ali bin ‘Abdullah bin ‘Abbas ra (wafat th 110 H) mempunyai &lt;i&gt;lima ratus butir biji zaitun&lt;/i&gt;. Tiap hari ia menghitung raka’at-raka’at sholat sunnahnya dengan biji itu, sehingga banyak orang yang menyebut namanya dengan &lt;i&gt;‘Dzu Nafatsat’ “&lt;/i&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Abul Qasim At-Thabari dalam kitab &lt;i&gt;Karamatul-Auliya&lt;/i&gt; mengatakan: ‘Banyak sekali orang-orang keramat yang menggunakan &lt;i&gt;tasbih&lt;/i&gt; untuk menghitung dzikir, antara lain Syeikh Abu Muslim Al-Khaulani dan lain-lain’.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Menurut riwayat bentuk tasbih yang kita kenal pada zaman sekarang ini baru dipergunakan orang mulai abad ke 2 Hijriah. Ketika itu nama ‘tasbih’ belum digunanakan untuk menyebut alat penghitung dzikir. Hal itu diperkuat oleh &lt;i&gt;Az-Zabidi&lt;/i&gt; yang mengutip keterangan dari gurunya didalam kitab &lt;i&gt;Tajul-‘Arus &lt;/i&gt;. &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sejak masa itu tasbih mulai banyak dipergunakan orang dimana-mana. Pada masa itu masih ada beberapa ulama yang memandang penggunaan tasbih untuk menghitung dzikir sebagai hal yang kurang baik. Oleh karena itu tidak aneh kalau ada orang yang pernah bertanya pada seorang Waliyullah yang bernama Al-Junaid: &lt;i&gt;‘Apakah orang semulia anda mau memegang tasbih&lt;/i&gt; ?. Al-Junaid menjawab: &lt;i&gt;‘Jalan yang mendekatkan diriku kepada Allah swt. tidak akan kutinggalkan’&lt;/i&gt;.(Ar-Risalah Al-Qusyariyyah).&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sejak abad ke 5 Hijriah penggunaan tasbih makin meluas dikalangan kaum muslimin, termasuk kaum wanitanya yang tekun beribadah. &lt;i&gt;Tidak ada berita riwayat, baik yang berasal dari kaum Salaf maupun dari kaum Khalaf &lt;/i&gt;(generasi muslimin berikutnya)&lt;i&gt; yang menyebutkan adanya larangan penggunaan tasbih, dan tidak ada pula yang memandang penggunaan tasbih sebagai perbuatan munkar!!&lt;/i&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Pada zaman kita sekarang ini bentuk tasbih terdiri dari seratus buah butiran atau tiga puluh tiga butir, sesuai dengan jumlah banyaknya dzikir yang disebut-sebut dalam hadits-hadits shohih. Bentuk tasbih ini malah &lt;i&gt;lebih praktis dan mudah&lt;/i&gt; dibandingkan pada masa zaman nya Rasulallah saw. dan masa sebelum abad kedua Hijriah. Begitu juga untuk menghitung &lt;i&gt;jumlah dzikir a&lt;/i&gt;gama Islam tidak&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt;menetapkan cara tertentu. &lt;/i&gt;Hal itu diserahkan kepada masing-masing orang yang berdzikir. &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Cara apa saja untuk menghitung bacaan dzikir itu &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;asalkan bacaan dan alat menghitung yang tidak yang dilarang menurut Kitabullah dan Sunnah Rasulallah saw.&lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;itu mustahab/baik untuk diamalkan. Berdasarkan riwayat-riwayat hadits yang telah dikemukakan diatas jelaslah, bahwa menghitung dzikir bukan dengan jari adalah sah/boleh. Begitu juga benda apa pun yang digunakan sebagai tasbih untuk menghitung dzikir, tidak bisa lain, orang tetap menggunakan tangan atau jarinya juga, bukan menggunakan kakinya!! Dengan demikian jari-jari ini juga digunakan untuk kebaikan !! Malah sekarang banyak kita para ulama pakar maupun kaum muslimin lainnya sering menggunakan tasbih bila berdzikir.&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Jadi masalah menghitung dengan butiran-butiran tasbih sesungguhnya tidak perlu dipersoalkan, apalagi kalau ada orang yang menganggapnya sebagai ‘&lt;i&gt;bid’ah dholalah’. &lt;/i&gt;Yang perlu kita ketahui ialah : &lt;i&gt;Manakah yang lebih baik, menghitung dzikir dengan jari tanpa menggunakan tasbih ataukah dengan menggunakan tasbih ?&lt;/i&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Menurut Ibnu ‘Umar ra. menghitung dzikir dengan jari (daripada dengan batu kerikil, biji kurma dll) lebih afdhal/utama. Akan tetapi Ibnu ‘Umar juga mengatakan jika orang yang berdzikir tidak akan salah hitung dengan menggunakan jari, itulah yang afdhal. &lt;/span&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Jika tidak demikian maka menggunakan &lt;i&gt;tasbih&lt;/i&gt; lebih afdhal.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Perlu juga diketahui, bahwa menghitung dzikir dengan tasbih disunnahkan menggunakan &lt;i&gt;tangan kanan&lt;/i&gt;, yaitu sebagaimana yang dilakukan oleh kaum Salaf. Hal itu disebut dalam hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan lain-lain. Dalam soal dzikir yang paling penting dan wajib diperhatikan baik-baik ialah kekhusyu’an, apa yang diucapkan dengan lisan juga dalam hati mengikutinya. Maksudnya bila lisan mengucapkan Subhanallah maka dalam hati juga memantapkan kata-kata yang sama yaitu Subhanallah. &lt;i&gt;Allah swt. melihat apa yang ada didalam hati orang yang berdzikir, bukan melihat kepada benda (tasbih) yang digunakan untuk menghitung dzikir!!&lt;/i&gt; Wallahu a’lam.&lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Insya Allah dengan keterangan singkat ini, para pembaca bisa menilai sendiri apakah benar yang dikatakan golongan pengingkar bahwa penggunaan Tasbih adalah munkar, bid’ah dholalah/sesat dn lain sebagainya ??? Semoga Allah swt. memberi hidayah kepada semua kaum muslimin. Amin. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2471196886602119956-9200351399902967561?l=hal-bidah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2471196886602119956/posts/default/9200351399902967561'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2471196886602119956/posts/default/9200351399902967561'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hal-bidah.blogspot.com/2010/08/penggunaan-tasbih-yang-katanya-bidah.html' title='Penggunaan Tasbih yang katanya bid’ah sesat'/><author><name>AWePe</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2471196886602119956.post-3058800090745125925</id><published>2010-08-09T10:08:00.000-07:00</published><updated>2010-08-09T10:08:43.121-07:00</updated><title type='text'>Menyebut nama Rasulallah saw. dengan awalan kata sayyidina atau maulana</title><content type='html'>&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sebagian orang membid’ahkan panggilan &lt;i&gt;Sayyidinaa &lt;/i&gt;atau &lt;i&gt;Maulana&lt;/i&gt; didepan nama Muhammad Rasulallah saw., dengan alasan bahwa Rasulallah saw. sendiri yang menganjurkan kepada kita tanpa mengagung-agungkan dimuka nama beliau saw. Memang golongan ini mudah sekali membid’ahkan&amp;nbsp; sesuatu amalan tanpa melihat motif makna yang dimaksud Bid’ah itu apa. Mari kita rujuk ayat-ayat Ilahi dan hadits-hadits Rasulallah saw. yang berkaitan dengan kata-kata &lt;i&gt;sayyid.&lt;/i&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Syeikh Muhammad Sulaiman Faraj dalam risalahnya yang berjudul panjang yaitu &lt;i&gt;Dala’ilul-Mahabbah Wa Ta’dzimul-Maqam Fis-Shalati Was-Salam ‘AN Sayyidil-Anam &lt;/i&gt;dengan tegas mengatakan: Menyebut nama Rasulallah saw. dengan tambahan kata &lt;i&gt;Sayyidina &lt;/i&gt;(junjungan kita) didepannya merupakan suatu &lt;i&gt;keharusan&lt;/i&gt; bagi setiap muslim yang mencintai beliau saw. Sebab kata tersebut menunjukkan kemuliaan martabat dan ketinggian kedudukan beliau. Allah swt.memerintahkan ummat Islam supaya menjunjung tinggi martabat Rasulallah saw., menghormati dan memuliakan beliau, bahkan melarang kita memanggil atau menyebut nama beliau dengan cara sebagaimana kita menyebut nama orang diantara sesama kita. Larangan tersebut tidak berarti lain kecuali untuk menjaga kehormatan dan kemuliaan Rasulallah saw. Allah swt.berfirman :&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;“Janganlah kalian memanggil Rasul &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;(Muhammad)&lt;i&gt; seperti kalian memanggil sesama orang diantara kalian”.&lt;/i&gt; (S.An-Nur : 63).&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dalam tafsirnya mengenai ayat diatas ini &lt;i&gt;Ash-Shawi&lt;/i&gt; mengatakan: Makna ayat itu ialah janganlah kalian memanggil atau menyebut nama Rasulallah saw. cukup dengan nama beliau saja, seperti Hai Muhammad atau cukup dengan nama julukannya saja Hai Abul Qasim. Hendaklah kalian menyebut namanya atau memanggilnya dengan penuh hormat, dengan menyebut kemuliaan dan keagungannya. Demikianlah yang dimaksud oleh ayat tersebut diatas. Jadi, tidak patut bagi kita menyebut nama beliau saw.tanpa menunjukkan penghormatan dan pemuliaan kita kepada beliau saw., baik dikala beliau masih hidup didunia maupun setelah beliau kembali keharibaan Allah swt. Yang sudah jelas ialah bahwa orang yang tidak mengindahkan ayat tersebut berarti tidak mengindahkan larangan Allah dalam Al-Qur’an. Sikap demikian bukanlah sikap orang beriman.&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Menurut &lt;i&gt;Ibnu Jarir&lt;/i&gt;, dalam menafsirkan ayat tersebut Qatadah mengatakan : Dengan ayat itu (An-Nur:63) Allah memerintahkan ummat Islam supaya memuliakan dan mengagungkan Rasulallah saw. &lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dalam kitab &lt;i&gt;Al-Iklil Fi Istinbathit-Tanzil&amp;nbsp; &lt;/i&gt;Imam Suyuthi mengatakan: Dengan turunnya ayat tersebut Allah melarang ummat Islam menyebut beliau saw. atau memanggil beliau hanya dengan namanya, tetapi harus menyebut atau memanggil beliau dengan Ya Rasulallah atau Ya Nabiyullah. Menurut kenyataan sebutan atau panggilan demikian itu &lt;i&gt;tetap berlaku&lt;/i&gt;, kendati beliau telah wafat.&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dalam kitab &lt;i&gt;Fathul-Bari&lt;/i&gt; syarh Shahihil Bukhori juga terdapat penegasan seperti tersebut diatas, dengan tambahan keterangan sebuah riwayat berasal dari Ibnu ‘Abbas ra. yang diriwayatkan oleh Ad-Dhahhak, bahwa sebelum ayat tersebut turun kaum Muslimin memanggil Rasulallah saw. hanya dengan &lt;i&gt;Hai Muhammad, Hai Ahmad, Hai Abul-Qasim&lt;/i&gt; dan lain sebagainya. Dengan menurunkan ayat itu Allah swt. melarang mereka menyebut atau memanggil Rasulallah saw. dengan ucapan-ucapan tadi. &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Mereka kemudian menggantinya dengan kata-kata : &lt;i&gt;Ya Rasulallah, dan Ya Nabiyullah&lt;/i&gt;. &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Hampir seluruh ulama Islam dan para ahli Fiqih berbagai madzhab mempunyai pendapat yang sama mengenai soal tersebut, yaitu bahwa mereka semuanya &lt;i&gt;melarang&lt;/i&gt; orang menggunakan sebutan atau panggilan sebagaimana yang dilakukan orang sebelum ayat tersebut diatas turun. &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Didalam Al-Qur’an banyak terdapat ayat-ayat yang mengisyaratkan makna tersebut diatas. Antara lain firman Allah swt. dalam surat Al-A’raf : 157 ; Al-Fath : 8-9, Al-Insyirah : 4 dan lain sebagainya. Dalam ayat-ayat ini Allah swt. memuji kaum muslimin yang bersikap hormat dan memuliakan Rasulallah saw., bahkan menyebut mereka sebagai orang-orang yang beruntung. Juga firman Allah swt. mengajarkan kepada kita tatakrama yang mana dalam firman-Nya tidak pernah memanggil atau menyebut Rasul-Nya dengan kalimat &lt;i&gt;Hai Muhammad&lt;/i&gt;, tetapi memanggil beliau dengan kalimat &lt;i&gt;Hai Rasul&amp;nbsp; &lt;/i&gt;atau &lt;i&gt;Hai Nabi.&lt;/i&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Firman-firman Allah swt. tersebut cukup gamblang dan jelas membuktikan bahwa Allah swt. mengangkat dan menjunjung Rasul-Nya sedemikian tinggi, hingga layak disebut &lt;i&gt;sayyidina&lt;/i&gt; atau junjungan kita Muhammad Rasulallah saw. Menyebut nama beliau saw. tanpa diawali dengan kata yang menunjuk- kan penghormatan, seperti &lt;i&gt;sayyidina&lt;/i&gt; tidak sesuai dengan pengagungan yang selayaknya kepada kedudukan dan martabat beliau. &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dalam surat Aali-‘Imran:39 Allah swt. menyebut Nabi Yahya as. dengan predikat sayyid&lt;i&gt; &lt;/i&gt;:&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;“…Allah memberi kabar gembira kepadamu &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;(Hai Zakariya) &lt;i&gt;akan kelahiran seorang puteramu, Yahya, yang membenarkan kalimat &lt;/i&gt;(yang datang dari)&lt;i&gt; Allah, seorang &lt;b&gt;sayyid &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;(terkemuka, panutan), (sanggup)&lt;i&gt; menahan diri &lt;/i&gt;(dari hawa nafsu)&lt;i&gt; dan Nabi dari keturunan orang-orang sholeh”.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Para penghuni neraka pun menyebut orang-orang yang menjerumuskan mereka dengan istilah &lt;i&gt;saadat&lt;/i&gt; (jamak dari kata sayyid), yang berarti para pemimpin. Penyesalan mereka dilukiskan Allah swt.dalam firman-Nya :&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;“Dan mereka &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;(penghuni neraka)&lt;i&gt; berkata : ‘Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mentaati para pemimpin &lt;/i&gt;(sadatanaa)&lt;i&gt; dan para pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan yang benar”.&lt;/i&gt; (S.Al-Ahzab:67).&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Juga seorang suami dapat disebut dengan kata sayyid, sebagaimana yang terdapat dalam firman Allah swt. dalam surat Yusuf : 25 : &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;“Wanita itu menarik qamis &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;(baju) &lt;i&gt;Yusuf dari belakang hingga koyak, kemudian kedua-duanya memergoki sayyid&lt;/i&gt; (suami)&lt;i&gt; wanita itu didepan pintu”.&lt;/i&gt; Dalam kisah ini yang dimaksud suami ialah raja Mesir.&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Demikian juga kata &lt;i&gt;Maula &lt;/i&gt;yang berarti pengasuh, penguasa, penolong dan lain sebagainya. Banyak terdapat didalam Al-Qur’anul-Karim kata-kata ini, antara lain dalam surat Ad-Dukhan: 41 Allah berfirman :&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;“…Hari&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; (kiamat)&lt;i&gt; dimana seorang maula &lt;/i&gt;(pelindung) &lt;i&gt;tidak dapat memberi manfaat apa pun kepada maula &lt;/i&gt;(yang dilindunginya) &lt;i&gt;dan mereka tidak akan tertolong”.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Juga dalam firman Allah swt. dalam Al-Maidah : 55 disebutkan juga kalimat Maula untuk Allah swt., Rasul dan orang yang beriman.&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Jadi kalau kata sayyid itu dapat digunakan untuk menyebut Nabi Yahya putera Zakariya, dapat digunakan untuk menyebut raja Mesir, bahkan dapat juga digunakan untuk menyebut pemimpin &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;yang semuanya itu menunjuk kan kedudukan seseorang&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;alasan apa yang dapat digunakan untuk menolak sebutan &lt;i&gt;sayyid &lt;/i&gt;&amp;nbsp;bagi junjungan kita Nabi Muhammad saw. Demikian pula soal penggunaan kata &lt;i&gt;maula&lt;/i&gt; . Apakah bid’ah jika seorang menyebut nama seorang Nabi yang diimani dan dicintainya dengan awalan &lt;i&gt;sayyidina&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;maulana&lt;/i&gt; ?! &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Mengapa orang yang menyebut nama seorang pejabat tinggi pemerintahan, kepada para president, para raja atau menteri, atau kepada diri seseorang dengan awalan &lt;i&gt;‘Yang Mulia’&lt;/i&gt;&amp;nbsp; tidak dituduh berbuat bid’ah ? Tidak salah kalau ada orang yang mengatakan, bahwa sikap menolak penggunaan kata &lt;i&gt;sayyid&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;maula &lt;/i&gt;untuk mengawali penyebutan nama Rasulallah saw. itu sesungguhnya dari pikiran &lt;i&gt;meremehkan kedudukan dan martab&lt;/i&gt;at beliau saw. Atau sekurang-kurang hendak menyamakan kedudukan dan martabat beliau saw. dengan manusia awam/biasa.&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sebagaimana kita ketahui, dewasa ini masih banyak orang yang menyebut nama Rasulallah saw. tanpa diawali dengan kata sayyidina dan tanpa dilanjutkan dengan kalimat sallahu ‘alaihi wasallam (saw). Menyebut nama Rasulallah dengan cara demikian menunjukkan sikap tak kenal hormat pada diri orang yang bersangkutan. Cara demikian itu lazim dilakukan oleh orang-orang diluar Islam, seperti kaum orientalis barat dan lain sebagainya. Sikap kaum orientalis ini tidak boleh kita tiru.&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Banyak hadits-hadits shohih yang menggunakan kata &lt;i&gt;sayyid, &lt;/i&gt;beberapa diantaranya ialah :&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;“Setiap anak Adam adalah sayyid. Seorang suami adalah sayyid bagi isterinya dan seorang isteri adalah sayyidah bagi keluarganya&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; (rumah tangga nya)&lt;i&gt;”.&lt;/i&gt; (HR Bukhori dan Adz-Dzahabi).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Jadi kalau setiap anak Adam saja dapat disebut sayyid, apakah anak Adam yang paling tinggi martabatnya dan paling mulia kedudukannya disisi Allah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;yaitu junjungan kita Nabi Muhammad saw.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; tidak boleh disebut sayyid ?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Hadits riwayat Imam Bukhori, Rasulallah saw&amp;nbsp;bersabda: "Janganlah kalian berkata (kepada seorang budak&amp;nbsp;kepada majikannya),&amp;nbsp;'beri makan Rabb mu, wudhu kan Rabb mu, tapi ucapkanlah Sayyidi dan Maulaya (tuanku dan Junjunganku)', dan jangan pula kalian (para pemilik budak) berkata pada mereka,'wahai Hambaku, tapi ucapkanlah : wahai anak, wahai pembantu" (shahih Bukhari hadits no.2414) hadits semakna dalam Shahih Muslim hadits no.2249).&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Rasulallah saw. membolehkan ucapan sayyidi (tuanku) atau maulaya (tuan muliaku) seorang budak&amp;nbsp;terhadap tuannya, dan berkata para ahli hadits, kalau antara tuan yg memiliki budak saja boleh menggunakan Sayyidi wa Maulaya., atau sayyidina wa maulana, maka sungguh Nabi saw jauh lebih berhak dari semua pemilik budak itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Didalam shohih Muslim terdapat sebuah hadits, bahwasanya Rasulallah saw. memberitahu para sahabatnya, bahwa pada hari kiamat kelak Allah swt. akan menggugat hamba-hambaNya : &lt;i&gt;“Bukankah engkau telah Ku-muliakan dan Ku-jadikan sayyid ?” &lt;/i&gt;(alam ukrimuka wa usawwiduka?)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Makna hadits itu ialah, bahwa Allah swt. telah memberikan kemuliaan dan kedudukan tinggi kepada setiap manusia. Kalau setiap manusia dikarunia kemuliaan dan kedudukan tinggi, apakah manusia pilihan Allah yang diutus sebagai Nabi dan Rasul tidak jauh lebih mulia dan lebih tinggi kedudukan dan martabatnya daripada manusia lainnya ? Kalau manusia-manusia biasa saja dapat disebut &lt;i&gt;sayyid &lt;/i&gt;, mengapa Rasulallah saw. tidak boleh disebut &lt;i&gt;sayyid&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;maula &lt;/i&gt;?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dalil-dalil orang yang membantah dan jawabannya&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;– &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Ada sementara orang terkelabui oleh pengarang &lt;i&gt;hadits palsu&lt;/i&gt; yang berbunyi: &lt;i&gt;“Laa tusayyiduunii fis-shalah”&lt;/i&gt; artinya “Jangan menyebutku (Nabi Muhammad saw) sayyid didalam sholat”. Tampaknya pengarang hadits palsu yang mengatas namakan Rasulallah saw. untuk mempertahankan pendiriannya itu lupa &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;atau memang tidak mengerti&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; bahwa didalam bahasa Arab &lt;i&gt;tidak pernah&lt;/i&gt; terdapat kata kerja &lt;i&gt;tusayyidu. &lt;/i&gt;Tidak ada kemungkinan sama sekali Rasulallah saw.mengucapkan kata-kata dengan bahasa Arab &lt;i&gt;gadungan&lt;/i&gt; seperti yang dilukiskan oleh pengarang hadits palsu tersebut. Dilihat dari segi bahasanya saja, hadits&lt;i&gt; &lt;/i&gt;itu tampak jelas kepalsuannya. Namun untuk lebih kuat &lt;i&gt;membuktikan kepalsuan&lt;/i&gt; hadits tersebut baiklah kami kemukakan beberapa pendapat yang dinyatakan oleh para ulama.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dalam kitab &lt;i&gt;Al-Hawi &lt;/i&gt;, atas pertanyaan mengenai hadits tersebut Imam Jalaluddin As-Suyuthi menjawab tegas : “Tidak pernah ada (hadits tersebut), itu bathil !”.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Imam Al-Hafidz As-Sakhawi dalam kitab &lt;i&gt;Al-Maqashidul-Al-Hasanah &lt;/i&gt;menegaskan : “ Hadits itu tidak karuan sumbernya ! “&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Imam Jalaluddin Al-Muhli, Imam As-Syamsur-Ramli, Imam Ibnu Hajar Al-Haitsami, Imam Al-Qari, para ahli Fiqih madzhab Sayfi’i dan madzhab Maliki dan lain-lainnya, semuanya mengatakan : “Hadits itu sama sekali tidak benar”.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;– &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Selain hadits palsu diatas tersebut, masih ada hadits palsu lainnya yang semakna, yaitu yang berbunyi : &lt;i&gt;“La tu’adzdzimuunii fil-masjid”&lt;/i&gt; artinya ;&amp;nbsp; “Jangan mengagungkan aku (Nabi Muhammad saw.) di masjid”. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dalam kitab &lt;i&gt;Kasyful Khufa &lt;/i&gt;Imam Al-Hafidz Al-‘Ajluni dengan tegas mengata- kan: “Itu bathil !”. Demikian pula Imam As-Sakhawi dalam kitab &lt;i&gt;Maulid&lt;/i&gt;-nya yang berjudul &lt;i&gt;Kanzul-‘Ifah &lt;/i&gt;menyatakan tentang hadits ini: “Kebohongan yang diada-adakan”. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Memang masuk akal kalau ada orang yang berkata seperti itu yakni &lt;i&gt;jangan mengagungkan aku&amp;nbsp; di masjid &lt;/i&gt;kepada para hadirin didalam masjid, sebab ucapannya itu merupakan &lt;i&gt;tawadhu&lt;/i&gt;’ (rendah hati). Akan tetapi kalau dikatakan bahwa perkataan tersebut &lt;i&gt;diucapkan oleh Rasulallah saw&lt;/i&gt;.&lt;i&gt; &lt;/i&gt;atau sebagai hadits beliau saw., jelas hal itu suatu &lt;i&gt;pemalsuan&lt;/i&gt; yang terlampau berani. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Mari kita lanjutkan tentang hadits-hadits yang menggunakan kata sayyid berikut ini:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;– &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim dalam Shohihnya bahwa Rasulallah saw.bersabda : &lt;i&gt;“Aku sayyid anak Adam…”&lt;/i&gt; . Jelaslah bahwa kata sayyid dalam hal ini berarti pemimpin ummat, orang yang paling terhormat dan paling mulia dan paling sempurna dalam segala hal sehingga dapat menjadi panutan serta teladan bagi ummat yang dipimpinnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Ibnu ‘Abbas ra mengatakan, bahwa makna &lt;i&gt;sayyid &lt;/i&gt;&amp;nbsp;dalam hadits tersebut ialah orang yang paling mulia disisi Allah. Qatadah ra. mengatakan, bahwa &lt;i&gt;Rasulallah saw. adalah seorang sayyid yang tidak pernah dapat dikalahkan oleh amarahnya. &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;– &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal, Ibnu Majah dan At-Turmudzi, Rasulallah saw. bersabda :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;“Aku adalah sayyid anak Adam pada hari kiamat”.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; Surmber riwayat lain yang diketengahkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Bukhori dan Imam Muslim, mengatakan bahwa Rasulallah saw. bersabda : &lt;i&gt;“Aku sayyid semua manusia pada hari kiamat”.&lt;/i&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Hadit tersebut diberi makna oleh Rasulallah saw. sendiri dengan penjelas- annya: ‘&lt;i&gt;Pada hari kiamat, Adam dan para Nabi keturunannya berada dibawah panjiku”.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sumber riwayat lain mengatakan lebih tegas lagi, yaitu bahwa Rasulallah saw. bersabda : &lt;i&gt;“Aku sayyid dua alam”.&lt;/i&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;– &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Riwayat yang berasal dari Abu Nu’aim sebagaimana tercantum didalam kitab &lt;i&gt;Dala’ilun-Nubuwwah &lt;/i&gt;mengatakan bahwa Rasulallah saw. bersabda : &lt;i&gt;“Aku sayyid kaum Mu’minin pada saat mereka dibangkitkan kembali &lt;/i&gt;(pada hari kiamat)&lt;i&gt;”.&lt;/i&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;– &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Hadits lain yang diriwayatkan oleh Al-Khatib mengatakan, bahwa Rasulallah saw. bersabda: &lt;i&gt;“Aku Imam kaum muslimin dan sayyid kaum yang bertaqwa”.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;– &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sebuah hadits yang dengan terang mengisyaratkan keharusan menyebut nama Rasulallah saw. diawali dengan kata &lt;i&gt;sayyidina&lt;/i&gt; diketengahkan oleh Al-Hakim dalam &lt;i&gt;Al-Mustadrak&lt;/i&gt;. Hadits yang mempunyai isnad shohih ini berasal dari Jabir bin ‘Abdullah ra. yang mengatakan sebagai berikut: &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;“Pada suatu hari kulihat Rasulallah saw. naik keatas mimbar. Setelah memanjatkan puji syukur kehadirat Allah saw. beliau bertanya : &lt;i&gt;‘Siapakah aku ini ?’&lt;/i&gt; Kami menyahut: Rasulallah ! Beliau bertanya lagi: &lt;i&gt;‘Ya, benar, tetapi siapakah aku ini ?’.&lt;/i&gt; Kami menjawab : Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Abdul-Mutthalib bin Hasyim bin ‘Abdi Manaf ! Beliau kemudian menyatakan : &lt;i&gt;‘Aku sayyid anak Adam….’.&lt;/i&gt;”&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Riwayat hadits ini menjelaskan kepada kita bahwa Rasulallah saw. lebih suka kalau para sahabatnya menyebut nama beliau dengan kata &lt;i&gt;sayyid. &lt;/i&gt;Dengan kata sayyid itu menunjukkan perbedaan kedudukan beliau dari kedudukan para Nabi dan Rasul terdahulu, bahkan dari semua manusia sejagat.&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Semua hadits tersebut diatas menunjukkan dengan jelas, bahwa Rasulallah saw. adalah sayyid anak Adam, sayyid kaum muslimin, sayyid dua alam (al-‘alamain), sayyid kaum yang bertakwa. Tidak diragukan lagi bahwa menggunakan kata sayyidina untuk mengawali penyebutan nama Rasulallah saw. merupakan suatu yang dianjurkan bagi setiap muslim yang mencintai beliau saw. &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;– &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Demikian pula soal kata &lt;i&gt;Maula, &lt;/i&gt;Imam Ahmad bin Hanbal di dalam &lt;i&gt;Musnad&lt;/i&gt;nya, Imam Turmduzi, An-Nasa’i dan Ibnu Majah mengetengahkan sebuah hadits, bahwa Rasulallah saw. bersabda :&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;“Man kuntu maulahu fa ‘aliyyun maulahu” artinya : &lt;i&gt;“Barangsiapa aku menjadi maula-&lt;/i&gt;nya&lt;i&gt; &lt;/i&gt;(pemimpinnya). &lt;i&gt;‘Ali (bin Abi Thalib) adalah maula-&lt;/i&gt;nya&lt;i&gt;…”&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;– &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dari hadits semuanya diatas tersebut kita pun mengetahui dengan jelas bahwa Rasulallah saw. adalah &lt;i&gt;sayyidina&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;maulana&lt;/i&gt; (pemimpin kita). Demikian juga para ahlu-baitnya (keluarganya), semua adalah sayyidina. Al-Bukhori meriwayatkan bahwa Rasulallah saw. pernah berkata kepada puteri beliau, Siti Fathimah ra :&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="direction: rtl; margin-left: 70.9pt; text-align: right; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" dir="rtl" style="direction: rtl; margin-left: 70.9pt; text-align: center; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="AR-SA" style="font-size: 16pt;"&gt;يَا فَاطِمَة أَمَا تَرْضيْنَ أَنْ تَكُوْنِي سَيِّدَةَ نِسَاءِ الْمُؤْمِنِيْنَ اَوْ&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="AR-KW" style="font-size: 16pt;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="AR-SA" style="font-size: 16pt;"&gt;سَيِّدَةَ نِسَاءِ&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="AR-KW" style="font-size: 16pt;"&gt; هَذِهِ الأُمَّةِ&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="AR-SA"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Artinya: “Hai Fathimah, apakah engkau tidak puas menjadi sayyidah kaum mu’minin &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;(kaum orang-orang yang beriman)&lt;i&gt; atau sayyidah kaum wanita ummat ini ?”&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;– &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dalam shohih Muslim hadits tersebut berbunyi:&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="direction: rtl; margin-left: 117pt; text-align: right; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="direction: rtl; margin-left: 70.9pt; text-align: right; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="AR-SA" style="font-size: 16pt;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; يَا فَاطِمَة أَمَا تَرْضيْنَ أَنْ تَكُوْنِي سَيِّدَةَ نِسَاءِ الْمُؤْمِناَتِ اَوْ&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="AR-KW" style="font-size: 16pt;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="AR-SA" style="font-size: 16pt;"&gt;سَيِّدَةَ نِسَاءِ&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="AR-KW" style="font-size: 16pt;"&gt; هَذِهِ الأُمَّةِ &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="AR-SA"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Artinya : &lt;i&gt;“Hai Fathimah, apakah engkau tidak puas menjadi sayyidah mu’mininat &lt;/i&gt;(kaum wanitanya orang-orang yang beriman)&lt;i&gt; atau sayyidah kaum wanita ummat ini ?”&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;– &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad, Rasulallah saw. berkata kepada puterinya (Siti Fathimah ra) :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA" style="font-size: 16pt;"&gt;أَمَا تَرْضيْنَ أَنْ تَكُوْنِي سَيِّدَةَ نِسَاء &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-KW" style="font-size: 16pt;"&gt;هَذِهِ الأُمَّةِ &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA" style="font-size: 16pt;"&gt;اَوْ نِسَاءِ الْعَالَمِينَ&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Artinya : “&lt;i&gt;…Apakah engkau tidak puas menjadi sayyidah kaum wanita ummat ini, atau sayyidah kaum wanita sedunia ?”&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Demikianlah pula halnya terhadap dua orang cucu Rasulallah saw. &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Al-Hasan dan Al-Husain radhiyallahu ‘anhuma.&lt;i&gt; &lt;/i&gt;Imam Bukhori dan At-Turmudzi meriwayatkan sebuah hadits yang berisnad shohih bahwa pada suatu hari Rasulallah saw. bersabda : &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-KW"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;الحَسَنُ وَ الحُسَيْنُ سَيِّدَا شَبَابِ أَهْلِ الْجَنَّةِ&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-KW"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Artinya : &lt;i&gt;“Al-Hasan dan Al-Husain dua orang sayyid pemuda ahli surga”.&lt;/i&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Berdasarkan hadits-hadits diatas itu kita menyebut puteri Rasulallah saw. Siti Fathimah Az-Zahra dengan kata awalan &lt;i&gt;sayyidatuna. &lt;/i&gt;Demikianlah pula terhadap dua orang cucu Rasulallah saw. Al-Hasan dan Al-Husain radhiyallahu ‘anhuma.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;– &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Ketika Sa’ad bin Mu’adz ra. diangkat oleh Rasulallah saw. sebagai penguasa kaum Yahudi Bani Quraidah (setelah mereka tunduk kepada kekuasaan kaum muslimin), Rasulallah saw. mengutus seorang memanggil Sa’ad supaya datang menghadap beliau. Sa’ad datang berkendaraan keledai, saat itu Rasulallah saw. berkata kepada orang-orang yang hadir: “Guumuu ilaa sayyidikum au ilaa khoirikum” artinya : &lt;i&gt;“Berdirilah menghormati sayyid &lt;/i&gt;(pemimpin)&lt;i&gt; kalian, atau orang terbaik diantara kalian”. &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Rasulallah saw. menyuruh mereka berdiri bukan karena Sa’ad dalam keadaan &lt;i&gt;sakit &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;sementara fihak menafsirkan mereka disuruh berdiri untuk menolong Sa’ad turun dari keledainya, karena dalam keadaan sakit&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp; sebab jika Sa’ad dalam keadaan sakit, tentu Rasulallah saw. tidak menyuruh &lt;i&gt;mereka semua&lt;/i&gt; menghormat kedatangan Sa’ad, melainkan menyuruh beberapa orang saja untuk berdiri menolong Sa’ad.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sekalipun –misalnya– Rasulallah saw. melarang para sahabatnya berdiri menghormati beliau saw, tetapi beliau sendiri malah memerintahkan mereka supaya berdiri menghormati Sa’ad bin Mu’adz, apakah artinya ? Itulah &lt;i&gt;tatakrama Islam.&lt;/i&gt; Kita harus dapat memahami apa yang dikehendaki oleh Rasulallah saw. dengan &lt;i&gt;larangan &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;perintahnya &lt;/i&gt;mengenai soal yang sama itu. Tidak ada ayah, ibu , kakak dan guru yang secara terang-terangan minta dihormati oleh anak, adik dan murid, akan tetapi si anak, si adik dan si murid &lt;i&gt;harus merasa dirinya wajib&lt;/i&gt; menghormati ayahnya, ibunya, kakaknya dan gurunya. Demikian juga Rasulallah saw. sekalipun beliau menyadari kedudukan dan martabatnya yang sedemikian tinggi disisi Allah swt, beliau tidak &lt;i&gt;menuntut&lt;/i&gt; supaya ummatnya memuliakan dan mengagung-agungkan beliau. Akan tetapi kita, &lt;i&gt;ummat Rasulallah saw., harus merasa wajib menghormati, memuliakan dan mengagungkan beliau saw. &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Allah swt. berfirman dalam Al-Ahzab: 6 : &lt;i&gt;“Bagi orang-orang yang beriman, Nabi &lt;/i&gt;(Muhammad saw.)&lt;i&gt; lebih utama daripada diri mereka sendiri, dan para isterinya adalah ibu-ibu mereka”.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Ibnu ‘Abbas ra. menyatakan: Beliau adalah ayah mereka’ yakni ayah semua orang beiman! Ayat suci diatas ini jelas maknanya, tidak memerlukan penjelasan apa pun juga, bahwa Rasulallah saw. lebih utama dari semua orang beriman dan &lt;i&gt;para isteri&lt;/i&gt; beliau wajib dipandang sebagai ibu-ibu seluruh ummat Islam ! Apakah &lt;/span&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;setelah keterangan semua diatas ini&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; orang yang menyebut nama beliau dengan tambahan kata awalan &lt;i&gt;sayyidina&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;maulana&lt;/i&gt; pantas dituduh berbuat bid’ah? Semoga Allah swt. memberi hidayah kepada kita semua. Amin&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;– Ibnu Mas’ud ra. mengatakan kepada orang-orang yang menuntut ilmu kepadanya: “Apabila kalian mengucapkan shalawat Nabi hendaklah kalian mengucapkan shalawat dengan sebaik-baiknya. Kalian tidak tahu bahwa sholawat itu akan disampaikan kepada beliau saw., karena itu ucapkanlah : ‘Ya Allah, limpahkanlah shalawat-Mu, rahmat-Mu dan berkah-Mu kepada &lt;i&gt;Sayyidul-Mursalin&lt;/i&gt; (pemimpin para Nabi dan Rasulallah) dan &lt;i&gt;Imamul-Muttaqin&lt;/i&gt; (Panutan orang-orang bertakwa)”&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;– Para sahabat Nabi juga menggunakan kata &lt;i&gt;sayyid &lt;/i&gt;untuk saling menyebut nama masing-masing, sebagai tanda saling hormat-menghormati dan harga-menghargai. Didalam &lt;i&gt;Al-Mustadrak&lt;/i&gt; Al-Hakim mengetengahkan sebuah hadits dengan isnad shohih, bahwa “Abu Hurairah ra. dalam menjawab ucapan salam Al-Hasan bin ‘Ali ra. selalu mengatakan &lt;i&gt;“Alaikassalam ya sayyidi”&lt;/i&gt;. Atas pertanyaan seorang sahabat ia menjawab: ‘Aku mendengar sendiri Rasulallah saw. menyebutnya (Al-Hasan ra.) sayyid’ “.&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;– Ibnu ‘Athaillah dalam bukunya &lt;i&gt;Miftahul-Falah &lt;/i&gt;mengenai pembicaraannya soal sholawat Nabi mewanti-wanti pembacanya sebagai berikut: “Hendaknya anda berhati-hati jangan sampai meninggalkan lafadz &lt;i&gt;sayyidina &lt;/i&gt;dalam bersholawat, karena didalam lafadz itu terdapat rahasia yang tampak jelas bagi orang yang selalu mengamalkannya”. Dan masih banyak lagi wejangan para ulama pakar cara sebaik-baiknya membaca sholawat pada Rasulallah saw. yang tidak tercantum disini.&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Nah, kiranya cukuplah sudah uraian diatas mengenai penggunaan kata sayyidina atau maulana untuk mengawali penyebutan nama Rasulallah saw. Setelah orang mengetahui banyak hadits Nabi yang menerangkan persoalan itu yakni menggunakan kata awalan &lt;i&gt;sayyid&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;apakah masih ada yang bersikeras tidak mau menggunakan kata sayyidina dalam menyebut nama beliau saw.?, dan apanya yang salah dalam hal ini ?&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Apakah orang yang demikian itu hendak mengingkari martabat Rasulallah saw. sebagai Sayyidul-Mursalin (penghulu para Rasulallah) dan Habibu Rabbil-‘alamin (Kesayangan Allah Rabbul ‘alamin) ? &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Bagaimana tercelanya orang yang berani &lt;i&gt;membid’ahkan&lt;/i&gt; penyebutan sayyidina atau maulana dimuka nama beliau saw.? Yang lebih aneh lagi sekarang banyak diantara golongan pengingkar ini sendiri yang memanggil nama satu sama lain diawali dengan sayyid atau minta juga agar mereka dipanggil sayyid dimuka nama mereka! Begitu juga orang yang ekstrim ini, bila duduk disatu majlis kemudian datang seorang ulama dimajlis tersebut, mereka ini sampai-sampai berani mengharamkan orang untuk berdiri penghormatan kepada&amp;nbsp;ulama ini.&amp;nbsp;Padahal banyak contoh dalam hadits antara lain yang telah kami kemukakan, para sahabat berdiri untuk para pemimpinnya atau utk orang yang dipandang&amp;nbsp;mulia&amp;nbsp;oleh mereka.&amp;nbsp;Berdiri untuk penghormatan itu bukan suatu yang wajib tetapi tata krama yang diajarkan oleh Rasulallah saw, untuk seorang yang&amp;nbsp;berilmu atau para wauliya sholihin. Sekali lagi untuk mengharamkan sesuatu itu harus ada dalilnya yg jelas dan tegas masalah tsb.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2471196886602119956-3058800090745125925?l=hal-bidah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2471196886602119956/posts/default/3058800090745125925'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2471196886602119956/posts/default/3058800090745125925'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hal-bidah.blogspot.com/2010/08/menyebut-nama-rasulallah-saw-dengan.html' title='Menyebut nama Rasulallah saw. dengan awalan kata sayyidina atau maulana'/><author><name>AWePe</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2471196886602119956.post-171742432274257307</id><published>2010-08-09T10:02:00.000-07:00</published><updated>2010-08-09T10:02:12.455-07:00</updated><title type='text'>Mengusap wajah setelah berdo'a</title><content type='html'>&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Salah satu kebiasaan yang sering kita lihat, setiap selesai berdoa baik telah sholat maupun diluar waktu sholat, umat Islam mengusapkan tangannya kewajahnya. Hal mengusap wajah setelah berdoa ini berdasarkan beberapa hadits, bahwa Rasulullah saw setelah berdoa mengusapkan kedua tangan ke wajahnya. Umpama hadits dari Saib bin Yazid dari ayahnya, “Apabila Rasulullah saw&amp;nbsp; berdoa, beliau selalu mengangkat kedua tangannya, lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangannya”(HR Abu Dawud, no1275, 1492). Dan hadits-hadits lainnya yang serupa dan semakna, dari Umar bin Khattab, Ibnu Abbas dan lainnya, yang antara lain diriwayatkan oleh Abu Dawud, &lt;span style="color: black;"&gt;At Tirmidzi Ibnu ‘Asakir , Ibnu Majah, Ath Thabarani dan lain-lain. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Memang benar ada beberapa riwayat tentang masalah tersebut lemah, karena diantara rawinya terdapat seorang yang dipandang lemah oleh pakar hadits. Namun karena terdapat syawahid/para saksi atau penguatnya dan diriwayatkan dengan berbagai jalan, maka menurut ulama hadits dhoif ini&amp;nbsp;menjadi hadits &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;hasan lighairih &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;(Hasan disebabkan adanya riwayat yang lain). &lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sebagaimana diterangkan dalam kitab &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Bulughul Maram&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;min Adillatil Ahkam&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; oleh al-Hafiz Shaikh Ibn Hajar al-Asqolani, berikut ini: “Diriwayatkan Umar ra yang katanya: Rasulullah saw menadah tangannya ketika berdoa, beliau tidak menurunkan tangan itu hingga menyapu dengan tangannya kewajahnya”(HR at-Tirmidzi, sebagai syawahid hadits dari Ibn Abbas ra disisi Abu Daud dan lainnya, dengan banyaknya beredar hadits itu maka membuat hadits ini (naik derajat) Hasan).&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;Imam &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;as-Son’ani&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; ketika memberi komentar kata-kata Ibn Hajar didalam kitabnya &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Subulus Salam Syarh Bulughul Maram&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;: “Dan padanya (hadits tersebut) menjadi dalil atas di syariatkan menyapu wajah dengan kedua tangan setelah selesai berdoa…”.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Imam as-Son’ani berkata: “Ada ulama yang berkata bahwa hikmahnya adalah karena kedua tangan yang diangkat ketika berdoa itu tidak kosong dari rahmat Allah. Maka wajarlah kalau kedua tangan yang penuh dengan rahmat Allah itu disapukan terlebih dahulu kewajahnya sebelum diturunkan, karena wajah itu dianggap sebagai anggota tubuh manusia yang paling mulia dan paling terhormat”. &lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Hadits-hadits shohih berikut ini mengenai mengusap wajah seusai berdo’a:&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;“Rasulallah saw bila telah menuju pembaringannya &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;nafatsa (&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;meniup disertai butiran kecil airliur) pada kedua telapak tangannya dengan &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Qulhuwallahu ahad dan Mu’awwidzatain &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;(QS Alfalaq dan Annaas), lalu mengusapkan kewajahnya dan anggota tubuhnya yang terjangkau dengan kedua tangan beliau saw. Berkata Aisyah ra, ketika beliau sakit maka beliau menyuruhku untuk melakukannya untuk beliau saw (Bukhari hadits no.5416). Sedangkan dalam kitab Bukhori hadits no.4729: bahwa Rasulallah saw ketika dipembaringannya, merapatkan kedua telapak tangannya lalu &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;nafatsa&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; (meniup dengan sedikit meludah) pada kedua telapak tangannya, lalu membaca surat Al Ikhlas, Alfalaq dan Annaas, lalu &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;mengusapkan kewajahnya&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;, dan seluruh tubuh yang mungkin dicapainya, beliau mengulanginya tiga kali.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Syekh Abu Bakar bin Muhammad Syatha dalam &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;kitab I’anatut Thalibin&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; juz I, hal 184-185 menyatakan: Imam Nawawi dalam kitabnya &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;al-Adzkar &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;(hal. 69), dan kami juga meriwayatkan hadits dalam kitab &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Ibnus Sunni&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; dari sahabat Anas bahwa Rasulullah saw apabila selesai melaksanakan shalat, beliau mengusap wajahnya dengan tangan kanannya. Lalu berdoa: “Saya bersaksi tiada Tuhan kecuali Dia Dzat Yang maha Pengasih dan penyayang. Ya Allah Hilangkan dariku kebingungan dan kesusahan”. &lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Juga didalam kitab&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; al-Adzkar &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;ini pada bab &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;adab-adab ketika berdoa&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;, disebutkan: “Dan telah berkata Abu Hamid al-Ghazali didalam &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;ihya&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;, adab/cara berdo’a itu ada sepuluh..... Yang ketiga: menghadap qiblat, dan mengangkat kedua belah tangan dan &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;menyapu &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;keduanya kewajah pada akhir do’a (setelah berdoa) …”.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Didalam kitab &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Fathul Muin&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; (Al-Malibary): “Dan (disunahkan waktu berdoa itu) mengangkatkan kedua tangan yang bersih sampai sejajar dengan dua bahu, dan disunnahkan menyapu muka dengan kedua tangan itu seusai berdoa …” &lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Didalam &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Hasyiah al-Baijuri&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; juga disebutkan sunnahnya menyapu wajah setelah berdo’a &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;diluar&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; waktu sholat.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Insya Allah jelas buat kita bahwa Nabi saw pernah mencontohkan mengusap tangan kewajahnya setelah berdoa, terutama saat akan tidur. Beliau saw sedang sakitpun menyuruh isterinya Aisyah ra untuk melakukannya. Ini semua &lt;span style="color: black;"&gt;merupakan sunnah dan sebagai salah satu etika berdoa. Begitu jug sebagai &lt;/span&gt;bukti bagi orang yang meniadakan dan membid’ahkan munkar mengusap wajah setelah berdoa. Begitupun juga tidak ada satu dalil pun dari Nabi saw yang &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;mengharamkan&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; mengusap wajah setelah berdoa! Janganlah kita mudah menvonnis bid’ah munkar (baca: haram), sesat, dan lain sebagainya, yang mengamalkan amalan-amalan sunnah atau mubah. Jangan lagi yang masih ada dalilnya, umpama saja tidak ada satu haditspun dari Nabi saw tentang mengusap wajah setelah berdoa &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;diluar&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; waktu sholat, itupun bukan berarti haram untuk di lakukan. Orang boleh melakukan amalan apapun setelah selesai sholat&amp;nbsp; selama hal itu tidak berlawanan yang telah digariskan oleh syari’at Islam. Dan yang penting lagi orang tidak boleh mewajibkan/mensyariatkan amalan yang sunnah atau mubah, dan sebaliknya mensunnahkan suatu amalan padahal amalan ini&amp;nbsp;wajib hukumnya. Wallahu’alam.&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2471196886602119956-171742432274257307?l=hal-bidah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2471196886602119956/posts/default/171742432274257307'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2471196886602119956/posts/default/171742432274257307'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hal-bidah.blogspot.com/2010/08/mengusap-wajah-setelah-berdoa.html' title='Mengusap wajah setelah berdo&apos;a'/><author><name>AWePe</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2471196886602119956.post-610021445228569697</id><published>2010-08-09T09:59:00.000-07:00</published><updated>2010-08-09T09:59:50.189-07:00</updated><title type='text'>Mengenai mengangkat tangan waktu berdo'a</title><content type='html'>&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sebagian golongan ada yang &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;membid’ahkan &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;mengangkat kedua tangan waktu berdo’a. Sebenarnya ini sama sekali tidak ada larangan dalam agama, malah sebaliknya ada hadits bahwa Rasulallah saw. mengangkat tangan waktu berdo’a. Begitupun juga ulama-ulama pakar dari berbagai madzhab (Hanafi, Maliki , Syafi’i dan lain sebagainya) selalu mengangkat tangan waktu berdo’a, karena hal ini termasuk &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;adab atau tata tertib&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; cara berdo’a kepada Allah swt.&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dalam kitab Riyaadus Shalihin jilid 2 terjemahan bahasa Indonesia oleh Almarhum H.Salim Bahreisj cetakan keempat tahun 1978 meriwayatkan sebuah hadits :&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sa’ad bin Abi Waqqash ra.berkata: Kami bersama Rasulallah saw. keluar dari Makkah menuju ke Madinah, dan ketika kami telah mendekati Azwara, tiba-tiba Rasulallah saw. turun dari kendaraannya, kemudian &lt;i&gt;&lt;u&gt;mengangkat kedua&lt;/u&gt; tangan &lt;/i&gt;berdo’a sejenak lalu sujud lama sekali, kemudian bangun &lt;i&gt;mengangkat kedua tangannya&lt;/i&gt; berdo’a, kemudian sujud kembali, diulanginya perbuatan itu tiga kali. Kemudian berkata: &lt;i&gt;‘Sesungguhnya saya minta kepada Tuhan supaya di-izinkan memberikan syafa’at &lt;/i&gt;(bantuan)&lt;i&gt; bagi ummat ku, maka saya sujud syukur kepada Tuhanku, kemudian saya mengangkat kepala dan minta pula kepada Tuhan dan diperkenankan untuk sepertiga, maka saya sujud syukur kepada Tuhan, kemudian saya mengangkat kepala berdo’a minta untuk ummatku, maka diterima oleh Tuhan, maka saya sujud syukur kepada Tuhanku’. &lt;/i&gt;(HR.Abu Dawud). &lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dalam hadits ini menerangkan bahwa Rasulallah saw. tiga kali berdo’a sambil mengangkat tangannya setiap berdo’a, dengan demikian berdo’a sambil mengangkat tangan adalah termasuk sunnah Rasulallah saw..&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dalam Kitab Fiqih Sunnah Sayid Sabiq (bahasa Indonesia) &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;buku yang sering diandalkan juga oleh golongan pengingkar&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;jilid 4 cetakan pertama tahun 1978 halaman 274-275 diterbitkan oleh PT Alma’arif, Bandung Indonesia, dihalaman ini ditulis sebagai berikut :&amp;nbsp; Berdasarkan riwayat Abu Daud dari Ibnu Abbas ra., katanya :&lt;i&gt;&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;“Jika kamu meminta &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;(berdo’a kepada Allah swt.)&lt;i&gt; hendaklah dengan &lt;u&gt;mengangkat&lt;/u&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;kedua tanganmu setentang kedua bahumu atau kira-kira setentangnya, dan jika istiqhfar &lt;/i&gt;(mohon ampunan&lt;i&gt;) ialah dengan menunjuk&lt;/i&gt; &lt;i&gt;dengan sebuah jari, dan jika berdo’a dengan melepas semua jari-jemari tangan”.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Malah dalam hadits ini, kita diberi tahu sampai dimana batas &lt;i&gt;sunnahnya &lt;/i&gt;mengangkat tangan waktu berdo’a, dan waktu mengangkat tangan tersebut disunnahkan dengan menunjuk sebuah jari waktu mohon ampunan, melepas semua jari-jari tangan (membuka telapak tangannya) waktu berdo’a selain istiqfar. &lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Diriwayatkan dari Malik bin Yasar bahwa Rasulallah saw. bersabda :&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;“Jika kamu meminta Allah, maka mintalah dengan bagian dalam telapak tanganmu, jangan dengan punggungnya !” &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sedang dari Salman, sabda Nabi saw : &lt;i&gt;“Sesungguhnya Tuhanmu yang Mahaberkah dan Mahatinggi adalah Mahahidup lagi Mahamurah, ia merasa malu terhadap hamba-Nya jika ia &lt;u&gt;menadahkan&lt;/u&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;tangan &lt;/i&gt;(untuk berdo’a)&lt;i&gt; kepada-Nya, akan menolaknya dengan tangan hampa”.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Lihat hadits ini Allah swt. tidak akan menolak do’a hamba-Nya waktu berdo’a sambil menadahkan tangan kepadaNya, dengan demikian do’a kita akan lebih besar harapan dikabulkan oleh-Nya!&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sedangkan hadits yang diriwayatkan Bukhori dan Muslim dari Anas bin Malik ra.&amp;nbsp; menuturkan :&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&amp;nbsp;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;“Aku pernah melihat Rasulallah saw. &lt;u&gt;mengangkat&lt;/u&gt; dua tangan keatas saat berdo’a sehingga tampak warna keputih-putihan pada ketiak beliau”.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Masih ada hadits yang beredar mengenai mengangkat tangan waktu berdo’a. Dengan hadits-hadits diatas ini, cukup buat kita sebagai dalil atas &lt;i&gt;sunnahnya&lt;/i&gt; mengangkat tangan waktu berdo’a kepada Allah swt. Bagi saudaraku muslim yang tidak mau angkat tangan waktu berdo’a, silahkan,&amp;nbsp; tapi janganlah mencela atau membid’ahkan saudara muslim lainnya yang mengangkat tangan waktu berdo’a !. Karena mengangkat tangan waktu berdo’a adalah sebagai &lt;i&gt;adab atau sopan santun&lt;/i&gt; cara berdo’a kepada Allah swt. dan hal ini diamalkan oleh para salaf dan para ulama pakar (Imam Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Imam Ahmad –radhiyallahu ‘anhum– dan para imam lainnya).&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Janganlah kita cepat membid’ahkan sesuatu amalan karena membaca satu hadits dan mengenyampingkan hadits lainnya. Semuanya ini amalan-amalan sunnah, siapa yang mengamalkan tersebut akan dapat pahala, dan yang tidak mengamalkan hal tersebut juga tidak berdosa. Karena membid'ahkan sesat sama saja mengharamkan amalan tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2471196886602119956-610021445228569697?l=hal-bidah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2471196886602119956/posts/default/610021445228569697'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2471196886602119956/posts/default/610021445228569697'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hal-bidah.blogspot.com/2010/08/mengenai-mengangkat-tangan-waktu-berdoa.html' title='Mengenai mengangkat tangan waktu berdo&apos;a'/><author><name>AWePe</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2471196886602119956.post-1583699922799604745</id><published>2010-08-09T09:57:00.000-07:00</published><updated>2010-08-09T09:57:00.573-07:00</updated><title type='text'>Sholat sunnah Qabliyah (sebelum) sholat Jum’at</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sebagian orang telah membid’ahkan sholat sunnah qabliyah jum’at ini. Menurut pandangan mereka hal ini tidak pernah dikerjakan oleh Rasulallah saw. atau para sahabat. Padahal kalau kita teliti cukup banyak hadits serta wejangan ulama pakar ahli fiqih dalam madzhab Syafi’i dan lainnya &lt;/span&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;baik secara langsung maupun tidak langsung&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; yang berkaitan&amp;nbsp;dengan sunnah- nya sholat qabliyah jum’at ini. Mari kita ikuti hadits-hadits yang berkaitan dengan sholat sunnah diantaranya :&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp; Hadits&lt;i&gt; &lt;/i&gt;riwayat Bukhori dan Muslim : &lt;i&gt;“Dari Abdullah bin Mughaffal al-Muzanni, ia berkata; Rasulallah saw. bersabda: ‘Antara dua adzan itu terdapat shalat’”.&lt;/i&gt; Menurut para ulama yang dimaksud &lt;i&gt;antara dua adzan&lt;/i&gt; ialah antara adzan dan iqamah. &lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Mengenai hadits ini tidak ada seorang ulamapun yang meragukan keshohih- annya karena dia disamping diriwayatkan oleh Bukhori Muslim juga diriwayat kan oleh Ahmad dan Abu Ya’la dalam kitab Musnadnya. Dari hadits ini saja kita sudah dapat memahami bahwa Nabi saw. menganjurkan supaya diantara adzan dan iqamah itu dilakukan sholat sunnah dahulu, termasuk dalam katergori ini sholat sunnah qabliyah jum’at. Tetapi nyatanya para golongan pengingkar&amp;nbsp; tidak mengamalkan amalan sunnah ini karena mereka anggap amalan bid’ah.&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Riwayat dalam sunan Turmudzi II/18: &lt;i&gt;“Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud bahwasanya beliau melakukan shalat sunnah qabliyah jum’at sebanyak empat raka’at dan sholat ba’diyah &lt;/i&gt;(setelah) &lt;i&gt;jum’at sebanyak empat raka’at pula”.&lt;/i&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Abdullah bin Mas’ud merupakan sahabat Nabi saw. yang utama dan tertua, dipercayai oleh Nabi sebagai pembawa amanah sehingga beliau selalu dekat dengan nabi saw. Beliau wafat pada tahun 32 H. Kalau seorang sahabat Nabi yang utama dan selalu dekat dengan beliau saw. mengamal- kan suatu ibadah, maka tentu ibadahnya itu diambil dari sunnah Nabi saw. &lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Penulis kitab &lt;i&gt;Hujjatu Ahlis Sunnah Wal-Jama’ah&lt;/i&gt; setelah mengutip riwayat Abdullah bin Mas’ud tersebut mengatakan:&lt;i&gt; “Secara dhohir &lt;/i&gt;(lahiriyah) &lt;i&gt;apa yang dilakukan oleh Abdullah bin Mas’ud itu adalah berdasarkan petunjuk langsung dari Nabi Muhammad saw.”&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dalam kitab Sunan Turmudzi itu dikatakan pula bahwa Imam Sufyan ats-Tsauri dan Ibnul Mubarak beramal sebagaimana yang diamalkan oleh Abdullah bin Mas’ud ( Al-Majmu’ 1V/10).&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Hadits riwayat Abu Daud: &lt;i&gt;“Dari Ibnu Umar ra. bahwasanya ia senantiasa memanjangkan shalat qabliyyah jum’at. Dan ia juga melakukan shalat ba’diyyah jum’at dua raka’at. Ia menceriterakan bahwasanya Rasulallah saw. senantiasa melakukan hal yang demikian”.&lt;/i&gt;(Nailul Authar III/313).&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Penilaian beberapa ulama mengenai hadits terakhir diatas ialah: Imam Syaukani berkata: &lt;i&gt;‘Menurut Hafidz al-Iraqi, hadits Ibnu Umar itu isnadnya shohih’. ;&lt;/i&gt; Hafidz Ibnu Mulqin dalam kitabnya yang berjudul &lt;i&gt;Ar-Risalah &lt;/i&gt;berkata: ‘&lt;i&gt;Isnadnya shohih tanpa ada keraguan’. ; &lt;/i&gt;Imam Nawawi dalam &lt;i&gt;Al-Khulashah&lt;/i&gt; mengatakan : &lt;i&gt;‘Hadits tersebut shohih menurut persyaratan Imam Bukhori. Juga telah dikeluarkan oleh Ibnu Hibban dalam shohihnya’.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Hadits riwayat Ibnu Majah : “Dari Abu Hurairah dan Abu Sufyan dari Jabir, keduanya berkata; Telah datang Sulaik al-Ghathfani diketika Rasulallah saw. tengah berkhutbah (khotbah jum’at)&lt;i&gt;. &lt;/i&gt;Lalu Nabi saw bertanya kepada- nya&lt;i&gt;: ‘Apakah engkau sudah shalat dua raka’at &lt;b&gt;sebelum&lt;/b&gt; datang kesini ?’ Dia menjawab; Belum&lt;/i&gt;. Nabi saw. bersabda&lt;i&gt;; ‘Shalatlah kamu dua raka’at dan ringkaskan shalatmu itu’ “. &lt;/i&gt;(Nailul Authar III/318).&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Jelas sekali dalam hadits ini bagaimana Rasulallah saw. menganjurkan (pada orang itu) shalat sunnah qabliyyah jum’at dua raka’at sebelum duduk mendengarkan khutbah. Juga dalam menerangkan hadits ini Syeikh Syihabuddin al-Qalyubi &lt;/span&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;wafat 1070H&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;mengatakan; bahwa hadits ini nyata dan jelas berkenaan dengan shalat &lt;i&gt;sunnah qabliyah&lt;/i&gt; jum’at, &lt;i&gt;bukan shalat tahiyyatul masjid.&lt;/i&gt; Hal ini dikarenakan &lt;i&gt;tahiyyatul masjid&lt;/i&gt; tidak boleh dikerjakan dirumah atau diluar masjid melainkan harus dikerjakan di masjid. &lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Syeikh Umairoh berkata: Andai ada orang yang mengatakan bahwa yang disabdakan oleh Nabi itu mungkin sholat tahiyyatul masjid, maka dapat dijawab &lt;i&gt;“Tidak Mungkin”.&lt;/i&gt; Sebab shalat tahiyyatul masjid tidak dapat dilakukan diluar masjid, sedangkan nabi saw. (waktu itu) bertanya; &lt;i&gt;Apakah engkau sudah sholat &lt;u&gt;sebelum&lt;/u&gt; &lt;/i&gt;(dirumahnya)&lt;i&gt; datang kesini&lt;/i&gt; ? (Al-Qalyubi wa Umairoh 1/212).&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Begitu juga Imam Syaukani ketika mengomentari hadits riwayat Ibnu Majah tersebut mengatakan dengan tegas :&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sabda Nabi saw&lt;i&gt;. ‘sebelum engkau datang kesini’ &lt;/i&gt;menunjukkan bahwa sholat dua raka’at itu adalah sunnah qabliyyah jum’at dan bukan sholat sunnah tahiyyatul masjid“.(Nailul Authar III/318)&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Mengenai derajat hadits riwayat Ibnu Majah itu Imam Syaukani berkata ; ‘&lt;i&gt;Hadits Ibnu Majah ini perawi-perawinya adalah orang kepercayaan’&lt;/i&gt;. Begitu juga Hafidz al-Iraqi berkata: &lt;i&gt;‘Hadits Ibnu Majah ini adalah hadits shohih’.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Hadits riwayat Ibnu Hibban dan Thabrani&lt;b&gt;: &lt;/b&gt;&lt;i&gt;“Dari Abdullah bin Zubair, ia berkata, Rasulallah saw. bersabda : ‘Tidak ada satupun sholat yang fardhu kecuali disunnahkan sebelumnya shalat dua raka’at’ “.&lt;/i&gt; Menurut kandungan hadits ini jelas bahwa disunnahkan juga shalat qabliyyah jum’at sebelum sholat fardhu jum’at dikerjakan. &lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Mengenai derajat hadits ini Imam Hafidz &lt;i&gt;as-Suyuthi&lt;/i&gt; mengatakan : ‘&lt;i&gt;Ini adalah hadits shohih’&amp;nbsp; &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;Ibnu Hibban&lt;/i&gt; berkata ; ‘&lt;i&gt;Hadits ini adalah shohih’.&amp;nbsp; &lt;/i&gt;Sedangkan &lt;i&gt;Syeikh al-Kurdi&lt;/i&gt; berkata: “Dalil yang paling kuat untuk dijadikan pegang- an dalam hal disyariatkannya sholat &lt;i&gt;sunnah dua raka’at qabliyyah jum’at&lt;/i&gt; adalah hadits yang dipandang shohih oleh Ibnu Hibban yakni hadits Abdullah bin Zubair yang marfu’ (bersambung sanadnya sampai kepada Nabi saw.) yang artinya: ‘&lt;i&gt;Tidak ada satupun shalat yang fardhu kecuali disunnahkan sebelumnya shalat dua raka’at’ “.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Demikianlah beberapa hadits yang shohih diatas sebagai dalil disunnah- kannya sholat &lt;i&gt;qabliyyah jum’at&lt;/i&gt;. Sedangkan kesimpulan beberapa ulama ahli fiqih khususnya dalam madzhab Syafi’i tentang hukum sholat &lt;i&gt;sunnah qabliyyah jum’at&lt;/i&gt; yang tertulis dalam kitab-kitab mereka ialah :&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Hasiyah al-Bajuri 1/137 :&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;“Shalat jum’at itu sama dengan shalat Dhuhur dalam perkara yang disunnahkan untuknya. Maka disunnahkan sebelum jum’at itu empat raka’at dan sesudahnya juga empat raka’at”.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Al-Majmu’ Syarah Muhazzab 1V/9 :&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;“Disunnahkan shalat sebelum dan sesudah jum’at. Minimalnya adalah dua raka’at qabliyyah dan dua raka’at ba’diyyah (setelah sholat jum’at). Dan yang lebih sempurna adalah empat raka’at qabliyyah dan empat raka’at ba’diyyah’.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Iqna’ oleh Syeikh Khatib Syarbini 1/99 :&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;“Jum’at itu sama seperti shalat Dhuhur.Disunnahkan sebelumnya empat raka’at dan sesudahnya juga empat raka’at”.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Minhajut Thalibin oleh Imam Nawawi :&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;“Disunnahkan shalat sebelum Jum’at sebagaimana shalat sebelum Dzuhur”. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Begitu juga masih banyak pandangan ulama pakar berbagai madzhab mengenai sunnahnya sholat qabliyyah jum'at ini.&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dengan&amp;nbsp;keterangan-keterangan singkat mengenai kesunnahan sholat qabliyyah jum’at, kita akan memahami bahwa ini semua adalah sunnah Rasulallah saw., bukan sebagai amalan bid’ah.&amp;nbsp;Semoga kita semua diberi hidayah oleh Allah swt.&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2471196886602119956-1583699922799604745?l=hal-bidah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2471196886602119956/posts/default/1583699922799604745'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2471196886602119956/posts/default/1583699922799604745'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hal-bidah.blogspot.com/2010/08/sholat-sunnah-qabliyah-sebelum-sholat.html' title='Sholat sunnah Qabliyah (sebelum) sholat Jum’at'/><author><name>AWePe</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2471196886602119956.post-1078965136409649337</id><published>2010-08-09T09:54:00.000-07:00</published><updated>2010-08-09T09:54:28.154-07:00</updated><title type='text'>Qadha (penggantian) Sholat yang ketinggalan dan dalil-dalil yang berkaitan dengannya</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sebagian golongan muslimin telah membid'ahkan, mengharamkan/mem batalkan mengqadha/mengganti sholat yang sengaja tidak dikerjakan pada waktunya. Mereka ini berpegang pada wejangan Ibnu Hazm dan Ibnu Taimiyyah yang mengatakan &lt;i&gt;tidak sah&lt;/i&gt; orang yang ketinggalan sholat fardhu dengan sengaja untuk menggantinya/qadha pada waktu sholat lainnya, mereka harus menambah sholat-sholat sunnah untuk menutupi kekurangannya tersebut. Tetapi pendapat Ibnu Hazm dan Ibnu Taimiyyah ini telah terbantah oleh hadits-hadits dibawah ini dan ijma’ (kesepakatan) para ulama pakar diantaranya Imam Hanafi, Malik dan Imam Syafi’i dan lainnya tentang kewajiban qadha bagi yang meninggalkan sholat baik &lt;i&gt;dengan sengaja maupun tidak sengaja&lt;/i&gt;. Mari kita ikuti beberapa hadits tentang qadha sholat berikut ini :&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;1). HR.Bukhori, Muslim dari Anas bin Malik ra.: “&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Siapa yang l&lt;u&gt;upa&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;(melaksanakan)&lt;i&gt; suatu sholat atau &lt;u&gt;tertidur&lt;/u&gt; dari &lt;/i&gt;(melaksanakan)&lt;i&gt;nya, maka kifaratnya &lt;/i&gt;(tebusannya)&lt;i&gt; adalah melakukannya jika dia ingat”.&lt;/i&gt; Ibnu Hajr Al-‘Asqalany dalam &lt;i&gt;Al-Fath &lt;/i&gt;II:71 ketika menerangkan makna hadits ini berkata; ‘Kewajiban menggadha sholat atas orang &lt;i&gt;yang sengaja meninggalkannya itu &lt;u&gt;lebih utama&lt;/u&gt;. &lt;/i&gt;Karena hal itu termasuk sasaran Khitab (perintah) untuk melaksanakan sholat, dan dia harus melakukannya…’.&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Yang dimaksud Ibnu Hajr ialah kalau perintah Rasulallah saw. bagi orang yang ketinggalan sholat karena &lt;i&gt;lupa dan tertidur itu&lt;/i&gt; harus diqadha, apalagi untuk sholat yang disengaja ditinggalkan itu malah lebih utama/wajib untuk menggadhanya. Maka bagaimana dan darimana dalilnya orang bisa mengatakan bahwa sholat &lt;i&gt;yang sengaja&lt;/i&gt; ditinggalkan itu tidak wajib/tidak sah untuk diqadha ?&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Begitu juga hadits itu menunjukkan bahwa orang yang ketinggalan sholat karena lupa atau tertidur &lt;i&gt;tidak berdosa&lt;/i&gt; hanya wajib menggantinya. Tetapi orang yang meninggalkan sholat &lt;i&gt;dengan sengaja dia berdosa besar&lt;/i&gt; karena kesengajaannya meninggalkan sholat, sedangkan kewajiban qadha tetap berlaku baginya.&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;2). Rasulallah saw. setelah sholat Dhuhur tidak sempat sholat sunnah dua raka’at setelah dhuhur, beliau langsung membagi-bagikan harta, kemudian sampai dengar adzan sholat Ashar. &lt;i&gt;Setelah sholat Ashar&lt;/i&gt; beliau saw. sholat dua rakaat ringan, sebagai ganti/qadha sholat dua rakaat setelah dhuhur tersebut.&amp;nbsp; (HR.Bukhori, Muslim dari Ummu Salamah). &lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;3). Rasulallah saw. bersabda: ‘Barangsiapa tertidur atau terlupa dari mengerjakan shalat witir maka &lt;i&gt;lakukanlah &lt;/i&gt;jika ia ingat atau setelah ia terbangun’. (HR.Tirmidzi dan Abu Daud).(dikutip dari at-taj 1:539)&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;4). Rasulallah saw. bila terhalang dari shalat malam karena tidur atau sakit maka beliau saw. &lt;i&gt;menggantikannya&lt;/i&gt; dengan shalat dua belas rakaat &lt;i&gt;diwaktu siang&lt;/i&gt;. (HR. Muslim dan Nasa’i dari Aisyah ra).(dikutip dari at-taj 1:539)&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Nah alau sholat sunnah muakkad setelah dhuhur, sholat witir dan sholat malam yang tidak dikerjakan pada waktunya itu diganti/diqadha oleh Rasulallah saw. pada waktu setelah sholat Ashar dan waktu-waktu lainnya, maka &lt;i&gt;sholat fardhu yang sengaja&lt;/i&gt; ketinggalan itu lebih utama diganti dari- pada sholat-sholat sunnah ini. &lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;5). HR Muslim dari Abu Qatadah, mengatakan bahwa ia teringat waktu safar pernah Rasulallah saw. ketiduran dan terbangun waktu matahari menyinari punggungnya. Kami terbangun dengan terkejut. Rasulallah saw. bersabda: Naiklah (ketunggangan masing-masing) dan kami menunggangi (tunggangan kami) dan kami berjalan. Ketika matahari telah meninggi, kami turun. Kemudian beliau saw. berwudu dan Bilal adzan utk melaksanakan sholat (shubuh yang ketinggalan). Rasulallah saw. melakukan sholat sunnah sebelum shubuh kemudian sholat shubuh setelah selesai beliau saw. menaiki tunggangannya.&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Ada sementara yang berbisik pada temannya; ‘Apakah kifarat (tebusan) terhadap apa yang kita lakukan dengan mengurangi kesempurnaan shalat kita (at-tafrith fi ash-sholah)? Kemudian Rasulallah saw. bersabda&lt;i&gt;: ’Bukan kah aku sebagai teladan bagi kalian’?, &lt;/i&gt;&amp;nbsp;dan selanjutnya beliau bersabda : ‘&lt;i&gt;Sebetulnya jika karena tidur&lt;/i&gt; (atau lupa) &lt;i&gt;berarti&lt;/i&gt; &lt;i&gt;tidak ada&lt;/i&gt; &lt;i&gt;tafrith&lt;/i&gt; (kelalaian atau kekurangan dalam pelaksanaan ibadah, maknanya juga tidak berdosa). &lt;i&gt;Yang dinamakan&lt;/i&gt; &lt;i&gt;kekurangan dalam pelaksanaan ibadah&lt;/i&gt; (tafrith) &lt;i&gt;yaitu orang yang tidak melakukan&lt;/i&gt; (dengan sengaja) &lt;i&gt;sholat sampai datang lagi waktu sholat lainnya….’.&lt;/i&gt; (Juga Imam Muslim meriwayatkan&amp;nbsp; dari Abu Hurairah, dari Imaran bin Husain dengan kata-kata yang mirip, begitu juga Imam Bukhori dari Imran bin Husain).&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Hadits ini tidak lain berarti bahwa orang yang dinamakan lalai/meng- gampangkan sholat ialah bila meninggalkan sholat &lt;i&gt;dengan sengaja&lt;/i&gt; dan dia berdosa, tapi bila karena &lt;i&gt;tertidur&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;lupa&lt;/i&gt; maka dia tidak berdosa, kedua-duanya wajib menggadha sholat yang ketinggalan tersebut. Dan dalam hadits ini &lt;i&gt;tidak&lt;/i&gt; menyebutkan bahwa orang tidak boleh/haram menggadha sholat yang ketinggalan kecuali selain dari yang lupa atau tertidur, tapi hadits ini menyebutkan &lt;i&gt;tidak ada kelalaian&lt;/i&gt; (berdosa) bagi orang yang meninggal- kan sholat karena tertidur atau lupa. Dengan demikian tidak ada dalam kalimat hadits larangan untuk menggadha sholat !&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;6). Jabir bin Abdullah ra.meriwayatkan bahwa Umar bin Khattab ra. pernah datang pada hari (peperangan)&amp;nbsp; Khandaq setelah matahari terbenam. Dia mencela orang kafir Quraisy, kemudian berkata; ‘Wahai Rasulallah, aku masih melakukan sholat Ashar hingga (ketika itu) matahari hampir terbenam’. Maka Rasulallah saw. menjawab : ‘Demi Allah aku tidak (belum) melakukan sholat Ashar itu’. Lalu kami berdiri (dan pergi) ke Bith-han. Beliau saw. berwudu untuk (melaksanakan) sholat dan kami pun berwudu untuk melakukannya. Beliau saw. (melakukan) sholat Ashar setelah matahari terbenam. Kemudian setelah itu beliau saw. melaksanakan sholat Maghrib. (HR.Bukhori dalam Bab ‘orang yg melakukan sholat bersama orang lain secara berjama’ah setelah waktunya lewat’, Imam Muslim I ;438 hadits nr. 631, meriwayatkannya juga, didalam &lt;i&gt;Al-Fath&lt;/i&gt; II:68, dan pada bab ‘meng- gadha sholat yang paling utama’ dalam &lt;i&gt;Al-Fath Al-Barri&lt;/i&gt; II:72)&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;7). &amp;nbsp;Begitu juga dalam kitab Fiqih empat madzhab atau Fiqih lima madzhab &lt;i&gt;bab 25 sholat Qadha’&lt;/i&gt; menulis: Para ulama sepakat (termasuk Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Syafi’i dan lainnya) bahwa barangsiapa ketinggalan shalat fardhu maka ia wajib menggantinya/menggadhanya. Baik shalat itu ditinggal- kannya dengan sengaja, lupa, tidak tahu maupun karena ketiduran. &lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Memang terdapat perselisihan antara imam madzhab (Hanafi, Malik, Syafi’i dan lainnya), perselisihan antara mereka ini ialah &lt;i&gt;apakah ada&lt;/i&gt; &lt;i&gt;&amp;nbsp;kewajiban&lt;/i&gt; &lt;i&gt;qadha atas orang&lt;/i&gt; &lt;i&gt;gila, pingsan dan orang mabuk. &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;8). Dalam kitab fiqih Sunnah Sayyid Sabiq (bahasa Indonesia) jilid 2 hal. 195 bab &lt;i&gt;Menggadha Sholat&lt;/i&gt; diterangkan: Menurut &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;madzhab jumhur&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; termasuk disini Imam Abu Hanifah, Imam Malik dan Imam Syafi’i mengatakan orang yang sengaja meninggalkan sholat itu &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;berdosa dan ia tetap wajib meng- gadhanya&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; Yang menolak pendapat qadha dan ijma’ ulama ialah Ibnu Hazm dan Ibnu Taimiyyah, mereka ini membatalkan (tidak sah) untuk menggadha sholat !! Dalam buku ini diterangkan panjang lebar alasan dua imam ini. (Tetapi alasan dua imam ini terbantah juga oleh hadits-hadits diatas dan ijma’ para ulama pakar termasuk disini Imam Hanafi, Malik, Syafi’i dan ulama pakar lainnya yang mewajibkan qadha atas sholat yang sengaja ditinggal- kan. Mereka ini juga bathil dari sudut dalil dan berlawanan dengan madzhab jumhur—pen.).&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Kalau kita baca hadits-hadits diatas semuanya masalah qadha sholat, dengan demikian buat kita insya Allah sudah jelas bahwa menggadha/meng- gantikan sholat yang ketinggalan baik secara disengaja maupun tidak disengaja menurut ijma’ ulama hukumnya wajib, sebagaimana yang diutarakan oleh ulama-ulama pakar yang telah diakui oleh ulama-ulama dunia yaitu Imam Hanafi, Imam Malik dan Imam Syafi’i. Hanya perbedaan antara yang disengaja dan tidak disengaja ialah masalah &lt;i&gt;dosanya &lt;/i&gt;jadi bukan masalah &lt;i&gt;qadhanya.&lt;/i&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Semoga dengan adanya dalil-dalil yang cukup jelas ini bisa menjadikan manfaat bagi kita semua. Semoga kita semua tidak saling cela-mencela atau merasa pahamnya/anutannya yang paling benar.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&amp;nbsp;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2471196886602119956-1078965136409649337?l=hal-bidah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2471196886602119956/posts/default/1078965136409649337'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2471196886602119956/posts/default/1078965136409649337'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hal-bidah.blogspot.com/2010/08/qadha-penggantian-sholat-yang.html' title='Qadha (penggantian) Sholat yang ketinggalan dan dalil-dalil yang berkaitan dengannya'/><author><name>AWePe</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2471196886602119956.post-448601120687710850</id><published>2010-08-09T09:50:00.000-07:00</published><updated>2010-08-09T09:50:07.670-07:00</updated><title type='text'>Dalil-dalil yang membantah dan jawabannya</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Hanya orang-orang egois, fanatik dan mau menangnya sendiri sajalah yang mengingkari hal tersebut. Seperti yang telah kemukakan sebelum ini bahwa golongan pengingkar ini selalu menafsirkan Al-Qur’an dan Sunnah secara tekstual oleh karenanya sering mencela semua amalan yang tidak sesuai dengan paham mereka. &lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Misalnya, mereka melarang semua bentuk bid’ah dengan berdalil hadits Rasulallah saw. berikut ini :&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 81pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: -27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA" style="font-size: 14pt;"&gt;كُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ, وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَ لَة&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA" style="font-size: 18pt;"&gt;ُ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA" style="font-size: 18pt;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: -27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;"Setiap yang diada-adakan (muhdatsah) adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat’.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 81pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 81pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Juga hadits Nabi saw.:&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 81pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="margin-right: 81pt; text-align: center;"&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA" style="font-size: 14pt;"&gt;مَنْ أحْدَثَ فِي اَمْرِنَا هَذَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ (رواه البخاري و مسلم)&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 81pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 81pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;'Barangsiapa yang didalam agama kami mengadakan sesuatu yang tidak dari agama ia tertolak’.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 81pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Hadits-hadits tersebut oleh mereka dipandang sebagai pengkhususan hadits &lt;i&gt;Kullu bid’atin dhalalah&lt;/i&gt; yang bersifat umum, karena terdapat penegasan dalam hadits tersebut, yang tidak dari agama ia tertolak, yakni&amp;nbsp; dholalah/ sesat. Dengan adanya kata &lt;i&gt;Kullu&lt;/i&gt; (setiap/semua) pada hadits diatas ini tersebut mereka menetapkan &lt;i&gt;apa saja yang terjadi setelah zaman Rasulallah saw. serta sebelumnya tidak pernah dikerjakan oleh Rasulallah saw adalah bi’dah dholalah.&lt;/i&gt; Mereka tidak memandang apakah hal yang baru itu membawa maslahat/kebaikan dan termasuk yang dikehendaki oleh agama atau tidak. Mereka juga tidak mau meneliti dan membaca contoh-contoh hadits diatas mengenai prakarsa para sahabat yang menambahkan bacaan-bacaan dalam sholat yang mana sebelum dan sesudahnya tidak pernah diperintahkan Rasulallah saw. Mereka juga tidak mau mengerti bahwa memperbanyak kebaikan adalah kebaikan. Jika ilmu agama sedangkal itu orang tidak perlu bersusah-payah memperoleh kebaikan. &lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Ada lagi kaidah yang dipegang dan sering dipakai oleh golongan pengingkar dan pelontar tuduhan-tuduhan bid’ah mengenai suatu amalan, adalah kata-kata sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;“Rasulallah saw. tidak pernah memerintahkan dan mencontohkannya. Begitu juga para sahabatnya &lt;u&gt;tidak ada satupun&lt;/u&gt; diantara mereka yang mengerjakannya. Demikian pula para &lt;u&gt;tabi'in dan tabi'ut-tabi'in&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; &lt;i&gt;Dan k&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;alau&lt;b&gt; &lt;/b&gt;sekiranya amalan itu baik, mengapa hal itu tidak dilakukan oleh Rasulallah, sahabat dan para tabi'in?"&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Atau ucapan mereka : &lt;i&gt;“Kita kaum muslimin diperintahkan untuk mengikuti Nabi yakni mengikuti segala perbuatan Nabi. Semua yang tidak pernah beliau lakukan, kenapa justru kita yang melakukannya..? Bukankah kita harus menjauhkan diri dari sesuatu yang tidak pernah dilakukan Nabi saw., para sahabat, ulama-ulama salaf..? Karena melakukan sesuatu yang tidak pernah dikerjakan oleh Nabi &lt;u&gt;adalah bid’ah&lt;/u&gt;”.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Kaidah-kaidah seperti itulah yang sering dijadikan pegangan dan dipakai sebagai perlindungan oleh golongan pengingkar ini juga sering mereka jadikan sebagai &lt;i&gt;dalil/ hujjah&lt;/i&gt; untuk melegitimasi tuduhan bid’ah mereka terhadap semua perbuatan amalan yang baru termasuk &lt;i&gt;tahlilan, peringatan Maulid Nabi saw dan sebagainya.&lt;/i&gt; Terhadap semua ini mereka langsung menghukumnya dengan &lt;i&gt;‘sesat, haram, mungkar, syirik&lt;/i&gt; dan sebagainya’,&amp;nbsp; tanpa mau mengembalikannya kepada kaidah-kaidah atau melakukan &lt;i&gt;penelitian &lt;/i&gt;terhadap hukum-hukum pokok/asal agama. &lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Ucapan mereka seperti diatas ini adalah ucapan yang awalnya &lt;i&gt;haq/benar&lt;/i&gt; namun akhirnya &lt;i&gt;batil &lt;/i&gt;atau awalnya &lt;i&gt;shohih &lt;/i&gt;namun akhirnya &lt;i&gt;fasid&lt;/i&gt;. Yang benar adalah keadaan Nabi saw. atau para sahabat yang tidak pernah mengamalkannya (umpamanya; berkumpul untuk tahlilan, peringatan keagamaan dan lain sebagainya). Sedangkan yang batil/salah atau fasid adalah &lt;i&gt;penghukuman &lt;/i&gt;mereka terhadap semua perbuatan amalan yang baru itu dengan &lt;i&gt;hukum&lt;/i&gt; &lt;i&gt;haram, sesat, syirik, mungkar dan sebagainya&lt;/i&gt;. &lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Yang demikian itu karena Nabi saw. atau salafus sholih yang tidak mengerjakan satu perbuatan bukanlah termasuk dalil, bahkan penghukuman dengan berdasarkan kaidah diatas tersebut adalah penghukuman tanpa dalil/nash. Dalil untuk mengharamkan sesuatu perbuatan haruslah menggunakan nash yang jelas, baik itu dari Al-Qur’an maupun hadits yang melarang dan mengingkari perbuatan tersebut. &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Jadi tidak bisa suatu perbuatan &lt;u&gt;diharamkan&lt;/u&gt; hanya karena Nabi saw. atau salafus sholih tidak pernah melakukannya.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Telitilah lagi hadits-hadits diatas yakni amalan-amalan bid'ah yang diada-adakan para sahabat,&amp;nbsp;yang belum pernah dikerjakan atau diperintahkan&amp;nbsp;oleh Rasulallah saw. dan bagaimana Rasulallah saw. menanggapinya. &lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Cara penanggapan Rasulallah saw. inilah&amp;nbsp;yang harus kita contoh&amp;nbsp;! &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Demikian pula para ulama mengatakan’ bahwa &lt;i&gt;amalan ibadah itu bila &lt;u&gt;tidak ada&lt;/u&gt; keterangan yang valid dari Rasulullah saw., maka amalan itu tidak boleh &lt;u&gt;dinisbahkan &lt;/u&gt;kepada beliau saw. !! &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Jelas disini para ulama &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;tidak&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;mengatakan bahwa suatu amalan ibadah &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;tidak boleh&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; diamalkan karena tidak ada keterangan dari beliau saw., mereka hanya mengatakan amalan itu &lt;i&gt;tidak boleh dinisbahkan kepada Rasulallah&lt;/i&gt; saw. bila tidak ada dalil dari beliau saw. !&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Kalau kita teliti perbedaan paham setiap ulama atau setiap madzhab selalu ada, dan tidak bisa disatukan. Sebagaimana yang sering kita baca dikitab-kitab fiqih para ulama pakar yaitu &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Satu hadits bisa dishohihkan oleh sebagian ulama pakar dan hadits yang sama ini bisa &lt;u&gt;dilemahkan atau dipalsukan&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;oleh ulama pakar lainnya. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;Kedua kelompok ulama ini sama-sama berpedoman kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulallah saw. tetapi berbeda cara penguraiannya.&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-style: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-style: normal;"&gt;Tidak lain semuanya&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;,&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; karena status keshahihan itu masih bersifat subjektif kepada yang mengatakannya. Dari sini saja kita sudah bisa ambil kesimpul an; Kalau hukum atas derajat suatu hadits itu masih berbeda-beda diantara para ulama, tentu saja ketika para ulama mengambil kesimpulan apakah suatu amal itu merupakan sunnah dari Rasulullah saw. pun berbeda juga !! &lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Para ulama pun berbeda pandangan ketika menyimpulkan hasil dari sekian banyak hadits yang berserakan. Umpamanya mereka berbeda dalam meng- ambil kesimpulan hukum atas suatu amal, walaupun amal ini disebutkan didalam suatu hadits yang shohih. Para ulama juga mengenal beberapa macam sunnah yang sumbernya langsung dari Rasulallah saw., umpama- nya;&amp;nbsp; &lt;i&gt;Sunnah Qauliyyah, Sunnah Fi’liyyah dan Sunnah Taqriyyah. &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sunnah Qauliyyah&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; ialah sunnah di mana Rasulullah saw. sendiri menganjur-kan atau mensarankan suatu amalan, tetapi &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;belum tentu&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; kita mendapatkan dalil bahwa Rasulllah saw. &lt;i&gt;pernah&lt;/i&gt; mengerjakannya secara langsung. Jadi sunnah Qauliyyah ini&amp;nbsp; adalah sunnah Rasulallah saw. yang dalilnya/riwayatnya sampai kepada kita bukan dengan cara dicontohkan, melainkan dengan diucapkan saja oleh beliau saw. Dimana ucapan itu tidak selalu berbentuk &lt;i&gt;fi'il amr&lt;/i&gt; (kata perintah), tetapi bisa saja dalam bentuk anjuran, janji pahala dan sebagainya.&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Contoh sunnah qauliyyah yang mudah saja: Ada hadits Rasulallah saw. yang menganjurkan orang untuk belajar berenang, tetapi kita belum pernah mendengar bahwa Rasulallah saw. atau para sahabat telah belajar atau kursus berenang !! &lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sunnah Fi'liyah&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;ialah&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;sunnah yang ada dalilnya juga dan pernah dilakukan langsung oleh Rasulallah saw. Misalnya ibadah shalat sunnah seperti shalat istisqa’, puasa sunnah Senin Kamis, makan dengan tangan kanan dan lain sebagainya. Para shahabat melihat langsung beliau saw. melakukannya, kemudian meriwayatkannya kepada kita.&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sedangkan&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;i&gt;Sunnah Taqriyyah&lt;/i&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;ialah sunnah di mana Rasulullah saw. &lt;i&gt;tidak melakukannya&lt;/i&gt; langsung, juga &lt;i&gt;tidak pernah&lt;/i&gt; memerintahkannya dengan lisannya, namun hanya mendiamkannya saja. Sunnah yang terakhir ini seringkali disebut dengan &lt;i&gt;sunnah taqriyyah&lt;/i&gt;. Contohnya ialah beberapa amalan para sahabat yang telah kami kemukakan sebelumnya.&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Begitu juga dengan amalan-amalan ibadah yang belum pernah dikerjakan oleh Rasulallah saw. atau para sahabatnya, tetapi diamalkan oleh para ulama salaf (ulama terdahulu) atau ulama khalaf (ulama belakangan) misalnya mengadakan majlis maulidin Nabi saw., majlis tahlilan/ yasinan dan lain sebagainya (baca keterangannya pada bab Maulid Nabi saw.dan bab Ziarah kubur). Tidak lain para ulama yang mengamalkan ini mengambil dalil-dalil baik dari Kitabullah atau Sunnah Rasulallah saw. yang menganjurkan agar manusia selalu berbuat kebaikan atau dalil-dalil tentang pahala-pahala bacaan dan amalan ibadah lainnya. Berbuat kebaikan ini banyak macam dan caranya semuanya mustahab asalkan tidak tidak bertentangan dengan apa yang telah digariskan oleh syari’at. &lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Apalagi didalam majlis-majlis (maulidin-Nabi, tahlil/yasinan, Istighotsah) yang sering diteror oleh golongan tertentu, disitu sering didengungkan kalimat Tauhid, Tasbih, Takbir dan Sholawat kepada Rasulallah saw. yang semuanya itu dianjurkan oleh Allah swt. dan Rasul-Nya. Semuanya ini mendekatkan/taqarrub kita kepada Allah swt.!!&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Mari kita rujuk ayat al-Qur’an:&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 81pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="margin-right: 81pt; text-align: center;"&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA" style="font-size: 14pt;"&gt;وَمَا اَتَاكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوْا&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 81pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;‘Apa saja yang &lt;u&gt;didatangkan&lt;/u&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;oleh Rasul kepadamu, maka ambillah dia dan apa saja yang kamu &lt;u&gt;dilarang&lt;/u&gt; daripadanya, maka berhentilah (mengerjakannya).&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;(QS. Al-Hasyr : 7). &lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dalam ayat ini jelas bahwa perintah untuk tidak mengerjakan sesuatu itu adalah apabila telah tegas dan jelas larangannya dari Rasulallah saw. ! &lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dalam ayat diatas ini &lt;i&gt;tidak&lt;/i&gt; dikatakan :&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 81pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 81pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA" style="font-size: 14pt;"&gt;وَماَلَمْ يَفْعَلْهُ فَانْتَهُوْا&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 81pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 81pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;‘&lt;i&gt;Dan apa saja yang &lt;u&gt;tidak pernah&lt;/u&gt; dikerjakannya (oleh Rasulallah), maka berhentilah (mengerjakannya)&lt;/i&gt;’.&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 81pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 81pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Juga dalam hadits Nabi saw yang diriwayatkan oleh Bukhori:&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 81pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 81pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA" style="font-size: 14pt;"&gt;فَاجْتَنِبُوْه&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA" style="font-size: 18pt;"&gt;ُ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA" style="font-size: 14pt;"&gt;اِذَا أمَرْتُكُمْ بِأمْرٍ فَأْتُوْا مِنْهُ مَااسْتَطَعْتُمْ وَاِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْئٍ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA" style="font-size: 14pt;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 81pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;‘Jika aku &lt;u&gt;menyuruhmu&lt;/u&gt; melakukan sesuatu, maka lakukanlah semampumu dan jika aku &lt;u&gt;melarangmu&lt;/u&gt; melakukan sesuatu, maka jauhilah dia !‘&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 81pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 81pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dalam hadits ini Rasulallah saw. &lt;i&gt;tidak&lt;/i&gt; mengatakan: &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 81pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: -27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA" style="font-size: 14pt;"&gt;وَاِذَا لَمْ أفْعَلْ شَيْئًا فَاجْتَنِبُوْه&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA" style="font-size: 18pt;"&gt;ُ&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 81pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 81pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;‘Dan apabila sesuatu itu &lt;u&gt;tidak pernah&lt;/u&gt; aku kerjakan, maka jauhilah dia!’ &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 81pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL"&gt;Jadi pemahaman golongan yang melarang semua bentuk bid’ah dengan berdalil dua hadits yang telah kami kemukakan &lt;i&gt;Setiap yang diada-adakan (muhdatsah) adalah... &lt;/i&gt;dan hadits &lt;i&gt;Barangsiapa yang didalam agama... &lt;/i&gt;adalah tidak benar, karena adanya beberapa keterangan dari Rasulallah saw. didalam hadits-hadits yang lain dimana beliau merestui banyak perkara yang merupakan prakarsa para sahabat sedangkan beliau saw. sendiri tidak pernah melakukan apalagi memerintahkan. Maka para ulama menarik kesimpulan bahwa &lt;i&gt;bid’ah (prakarsa) yang dianggap sesat&lt;/i&gt; ialah &lt;i&gt;yang mensyari’atkan sebagian dari agama yang tidak diizinkan Allah swt.&lt;/i&gt; (QS Asy-Syura :21)&lt;i&gt; &lt;/i&gt;serta prakarsa-prakarsa yang bertentangan dengan yang telah digariskan oleh syari’at Islam baik dalam Al-Qur’an maupun sunnah Rasulallah saw., contohnya yang mudah ialah:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sengaja sholat tidak menghadap kearah kiblat, Shalat dimulai dengan salam dan diakhiri denga takbir ; Melakukan sholat dengan satu sujud saja;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; &lt;i&gt;Melaku kan sholat Shubuh dengan sengaja sebanyak tiga raka’at dan lain sebagainya.&lt;/i&gt; Semuanya ini dilarang oleh agama karena bertentangan dengan apa yang telah digariskan oleh syari’at.&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL"&gt;Makna hadits Rasulallah saw. diatas yang mengatakan, &lt;i&gt;&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="NL"&gt;mengada-adakan sesuatu itu....&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&amp;nbsp;adalah masalah pokok-pokok agama yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Itulah yang tidak boleh dirubah atau ditambah. Saya ambil perumpamaan lagi yang mudah saja, ada orang mengatakan bahwa sholat &lt;i&gt;wajib&lt;/i&gt; itu setiap harinya &lt;i&gt;dua kali&lt;/i&gt;, padahal agama menetapkan &lt;i&gt;lima kali&lt;/i&gt; sehari. Atau orang yang sanggup &lt;/span&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;tidak berhalangan karena sakit, musafir dan lain-lain&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt; berpuasa wajib pada bulan Ramadhan mengatakan bahwa kita tidak perlu puasa pada bulan tersebut tapi bisa diganti dengan puasa pada bulan apapun saja. Inilah yang dinamakan menambah dan mengada-adakan agama. Jadi bukan masalah-masalah &lt;i&gt;nafilah, sunnah&lt;/i&gt; atau lainnya yang tidak termasuk pokok agama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL"&gt;Telitilah isi hadits Qudsi berikut ini yang diriwayatkan Bukhori dari Abu Hurairah :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: -27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: -27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;...... وَمَا تَقَرَّبَ اِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْئٍ&amp;nbsp;أحَبَّ اِلَيَّ مِمَّا افْتَرَطْتُ عَلَيْهِ,&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: -27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ أِلَيَّ بِالنّـَوَافِلِ حَتَّى اُحِبَّهُ فَاِذَا أحْبَبْتهُ كُنْتُ سَمْـعَهُ الَّذِي يَسمَعُ بِهِ&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: -27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;وَبَصَرَهُ اَلَّذِي يُبْصِرُبِهِ, وَيَدَهُ اَلَّتِي يَبْـطِشُ بِهَا وَرِجْلـَهُ اَلَّتِي يَمْشِي بِهَا&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: -27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;وَاِنْ سَألَنِي&amp;nbsp;أعْطَيْتهُ وَلَئِنِ اسْتَعَـاذَنِي لاُ عيْذَنَّهُ.&amp;nbsp;&amp;nbsp; (رواه البخاري)&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 81pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;“.... HambaKu yang mendekatkan diri kepadaku dengan sesuatu yang lebih Ku sukai daripada yang telah &lt;u&gt;Kuwajibkan&lt;/u&gt; kepadanya, dan selagi hambaKu mendekatkan diri kepadaKu dengan &lt;u&gt;nawafil&lt;/u&gt; (amalan-amalan atau sholat sunnah) sehingga Aku mencintainya, maka jika Aku telah mencintainya. Akulah yang menjadi pendengarannya dan dengan itu ia mendengar, Akulah yang menjadi penglihatannya dan dengan itu ia melihat, dan Aku yang menjadi tangannya dengan itu ia memukul (musuh), dan Aku juga menjadi kakinya dan dengan itu ia berjalan. Bila ia mohon kepadaKu itu pasti Kuberi dan bila ia mohon perlindungan kepadaKu ia pasti Ku lindungi”.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dalam hadits qudsi ini Allah swt. mencintai orang-orang yang menambah amalan sunnah disamping amalan wajibnya.&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Mari kita rujuk ayat-ayat ilahi yang ada kata-kata &lt;i&gt;Kullu&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;yang mana kata ini tidak harus berarti &lt;i&gt;semua/setiap&lt;/i&gt;, tapi bisa berarti khusus untuk beberapa hal saja.&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dalam surat Al-Ahqaf ayat 25 Allah swt.berfirman : &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;“Angin taufan itu telah menghancurkan &lt;u&gt;segala sesuatu&lt;/u&gt; atas perintah Tuhannya”. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;Namun demikian keumuman pada ayat diatas ini tidak terpakai karena pada saat itu gunung-gunung, langit dan bumi tidak ikut hancur.&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dalam surat An-Naml ayat 23 Allah swt.berfirman : &lt;i&gt;“Ratu Balqis itu telah diberikan &lt;u&gt;segala sesuatu&lt;/u&gt;”. &lt;/i&gt;Keumuman pada ayat ini juga tidak terpakai karena Ratu Balqis tidak diberi singgasana dan kekuasaan seperti yang diberikan kepada Nabi Sulaiman as.&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Begitupun juga dalam surat An-Najm ayat 39 Allah swt.berfirman&lt;i&gt;: “Bahwasanya setiap manusia itu tidak memperoleh &lt;u&gt;selain apa yang telah diusahakannya&lt;/u&gt;”.&lt;/i&gt; Kalimat ‘&lt;i&gt;selain apa yang telah diusahakannya’&lt;/i&gt; pada ayat ini bersifat umum, namun keumumannya itu tidak terpakai karena banyak sekali hadits-hadits shohih yang menunjukkan bahwa seorang muslim yang telah meninggal masih dapat memperoleh kebaikan dan manfaat dari muslim yang lain seperti sholat jenazah, do’a, sedekah dan lain-lain.&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dalam surat Thoha ayat 15 Allah swt. berfirman : “&lt;i&gt;Agar setiap manusia menerima balasan atas &lt;u&gt;apa yang telah diusahakannya&lt;/u&gt;”.&lt;/i&gt; Kalimat &lt;i&gt;‘apa yang telah diusahakannya’&lt;/i&gt; mencakup semua amal baik yang hasanah (baik) maupun yang sayyiah (jelek). Namun demikian amal yang sayyiah &lt;i&gt;yang telah diampuni&lt;/i&gt; oleh Allah swt. &lt;i&gt;tidaklah&lt;/i&gt; termasuk yang akan memperoleh balasannya (siksa). &lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dalam surat Aali 'Imran : 173 Allah swt. berfirman mengenai suatu peristiwa dalam perang Uhud :&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&amp;nbsp;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;"Kepada mereka &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;(kaum Muslimin)&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; ada yang mengatakan bahwa semua orang (&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;di Mekkah) &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang...." &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;Yang dimaksud &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;semua orang &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;(an-naas) dalam ayat ini tidak bermakna secara harfiahnya, tetapi hanya untuk kaum musyrikin Quraisy di Mekkah yang dipimpin oleh Abu Sufyan bin Harb&amp;nbsp;yang memerangi Rasulallah saw. dan kaum Muslimin didaratan tinggi Uhud, jadi bukan semua orang Mekkah atau semua orang Arab.&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dalam surat Al-Anbiya : 98 : &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;"Sesungguhnya kalian dan apa yang kalian sembah selain Alah adalah umpan neraka jahannam..".&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&amp;nbsp; Ayat ini sama sekali tidak boleh ditafsirkan bahwa Nabi 'Isa as dan bundanya yang dipertuhankan oleh kaum Nasrani akan menajdi umpan neraka. Begitu juga para malaikat yang oleh kaum musyrikin lainnya dianggap sebagai tuhan-tuhan mereka.&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dalam surat Aali &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;'Imran : 159&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;: "Ajaklah mereka bermusyawarah dalam suatu urusan...". &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;Kalimat dalam &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;suatu urusan&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; (fil amri) tidak bermakna semua urusan&amp;nbsp; termasuk urusan agama dan urusan akhirat&amp;nbsp;, tidak ! Yang dimaksud &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;urusan&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; dalam hal ini ialah &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;urusan duniawi&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;. Allah swt. tidak memerintahkan Rasul-Nya supaya memusyawarahkan soal-soal keagamaan atau keukhrawian dengan para sahabatnya atau dengan ummatnya.&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dalam surat Al-An'am : 44 : &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;'Kami bukakan bagi mereka pintu segala sesuatu'.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; Akan tetapi pengertian ayat ini terkait, Allah tidak membukakan pintu rahmat bagi mereka (orang-orang kafir durhaka). Kalimat &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;segala sesuatu &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;adalah umum, tetapi kalimat itu bermaksud khusus.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dalam surat Al-Isra : 70 : "&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam....dan seterusnya ". &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;Firman Allah ini bersifat umum, sebab Allah swt. juga telah berfirman, bahwa ada manusia-manusia yang mempunyai hati tetapi tidak memahami ayat-ayat Allah, mempunyai mata tetapi tidak menggunakannya untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah, dan mempunyai telinga tetapi tidak menggunakannya untuk mendengarkan firman-firman Allah; mereka itu bagaikan &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;binatang ternak,&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;bahkan lebih sesat lagi (QS.Al-A'raf : 179). &lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Firman Allah swt dalam Al-Kahfi: 79, kisah Nabi Musa as. dengan Khidir (hamba Allah yang sholeh), sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;“Adapun perahu itu, maka dia adalah miliknya orang orang miskin yang bermata pencaharian dilautan dan aku bertujuan merusaknya karena dibelakang mereka terdapat seorang raja yang suka merampas &lt;u&gt;semua&lt;/u&gt; perahu”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Ayat ini menunjukkan tidak semua perahu yang akan dirampas oleh raja itu, melainkan perahu yang masih dalam kondisi baik saja. Oleh karenanya Khidir/seorang hamba yang sholeh sengaja membocorkan perahu orang-orang miskin itu agar terlihat sebagai perahu yang cacat/jelek sehingga tidaklah dia ikut dirampas oleh raja itu. Dengan demikian maka kata safiinah dalam Al-Qur’an itu maknanya adalah &lt;i&gt;safiinah hasanah&lt;/i&gt; atau perahu yang baik. Ini berarti safiinah diayat ini tidak bersifat umum dalam arti tidak semua safiinah/perahu yang akan dirampas oleh raja melainkan safiinah hasanah saja walaupun didalam ayat itu disebut &lt;i&gt;Kullu safiinah&lt;/i&gt; (semua/setiap perahu). &lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IT" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Al-Qu’an surat Al-Anbiya’ ; 30 :&lt;/span&gt;&lt;span lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IT" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 13.5pt;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 13.5pt;"&gt;وَجَعَلْنَا&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 13.5pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 13.5pt;"&gt;مِنَ&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 13.5pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 13.5pt;"&gt;الْْمَاءِ&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 13.5pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 13.5pt;"&gt;كُلَّ&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 13.5pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 13.5pt;"&gt;شَيْءٍ&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 13.5pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 13.5pt;"&gt;حَيٍّ&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 13.5pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 13.5pt;"&gt;أَفَلاَ&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 13.5pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 13.5pt;"&gt;يُؤْمِنُونَ&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 13.5pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IT" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 13.5pt;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;“Dan dari air kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” QS. Al-Anbiya’:30. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Meskipun ayat ini menggunakan kalimat &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;kullu&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;, namun tidak berarti semua makhluk hidup diciptakan dari air. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dalam ayat al-Qur’an Ar-Rahman:15 berikut ini:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 13.5pt;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 13.5pt;"&gt;وَخَلَقَ&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 13.5pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 13.5pt;"&gt;الْْجَانَّ&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 13.5pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 13.5pt;"&gt;مِنْ&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 13.5pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 13.5pt;"&gt;مَارِجٍ&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 13.5pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 13.5pt;"&gt;مِنْ&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 13.5pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 13.5pt;"&gt;نَارٍ&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 13.5pt;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 13.5pt;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;“Dan Allah SWT menciptakan Jin dari percikan api yang menyala”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;. QS. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Begitu juga para malaikat, tidaklah Allah ciptakan dari air.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Hadits riwayat Imam Ahmad :&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center" style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 13.5pt;"&gt;عَنِ&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 13.5pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 13.5pt;"&gt;الْأَشْعَرِيِّ&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 13.5pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 13.5pt;"&gt;قَالَ&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 13.5pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 13.5pt;"&gt;قَالَ&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 13.5pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 13.5pt;"&gt;رَسُولُ&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 13.5pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 13.5pt;"&gt;اللَّهِ&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 13.5pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 13.5pt;"&gt;صَلَّى&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 13.5pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 13.5pt;"&gt;اللَّهُ&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 13.5pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 13.5pt;"&gt;عَلَيْهِ&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 13.5pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 13.5pt;"&gt;وَسَلَّمَ&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 13.5pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 13.5pt;"&gt;كُلُّ&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 13.5pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 13.5pt;"&gt;عَيْنٍ&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 13.5pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 13.5pt;"&gt;زَانِيَةٌ&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 13.5pt;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dari al-Asyari berkata: “ Rasulullah SAW bersabda: “ setiap mata berzina” (musnad Imam Ahmad)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sekalipun hadits di atas menggunakan kata &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;kullu&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;, namun bukan bermakna keseluruhan/semua, akan tetapi bermakna sebagian, yaitu &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;mata yang melihat kepada wanita ajnabiyah (yang bukan muhrim). &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Begitu juga Imam Jalaluddin Abdurrahman Assuyuthiy rahimahullah berkata: ”Mengenai hadits &lt;i&gt;‘Bid’ah Dhalalah’&lt;/i&gt; ini bermakna &lt;i&gt;‘Aammun makhsush’,&lt;/i&gt; [sesuatu yang umum yang ada pengecualiannya], seperti firman Allah: ‘… &lt;i&gt;yang menghancurkan segala sesuatu’&lt;/i&gt; [QS Al-Ahqaf 25] dan kenyataannya tidak segalanya hancur, (atau ayat: ‘&lt;i&gt;Sungguh telah kupastikan ketentuan-Ku untuk memenuhi jahannam dengan jin dan manusia keseluruh annya’&lt;/i&gt; QS Assajdah-13), dan pada kenyataannya bukan semua manusia masuk neraka, tapi ayat itu bukan bermakna keseluruhan tapi bermakna seluruh musyrikin dan orang dhalim--.pen) atau hadits: &lt;i&gt;‘Aku dan hari kiamat bagaikan kedua jari ini ’&lt;/i&gt; [dan kenyataannya kiamat masih ribuan tahun setelah wafatnya Rasul saw.] (Syarh Assuyuthiy Juz 3 hal 189).&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Jadi jelaslah, bahwa secara umum manusia adalah makhluk yang mulia, tetapi secara khusus banyak manusia yang setaraf dengan binatang ternak, bahkan lebih sesat.&amp;nbsp;Masih banyak lagi ayat-ayat Ilahi yang walaupun didalamnya terdapat keumuman namun ternyata keumumannya itu tidak terpakai untuk semua hal atau masalah. !!&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sebuah hadits Nabi saw. yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulallah saw. bersabda: &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;"Orang yang menunaikan sholat sebelum matahari terbit dan sebelum matahari terbenam tidak akan masuk neraka". &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;Hadits ini bersifat umum, tidak dapat diartikan secara harfiah. Yang dimaksud oleh&amp;nbsp;hadits tersebut bukan berarti bahwa seorang Muslim cukup dengan sholat shubuh dan maghrib saja, tidak diwajibkan menunaikan sholat&amp;nbsp;wajib&amp;nbsp;yang lain seperti dhuhur, ashar dan isya !&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Ibnu Hajar mengatakan; '&amp;nbsp;Hadits-hadits shahih yang&amp;nbsp;mengenai satu persoalan harus dihubungkan satu sama lain untuk dapat diketahui dengan jelas maknanya yang &lt;i&gt;muthlak&lt;/i&gt; dan yang &lt;i&gt;muqayyad&lt;/i&gt;. Dengan demikian maka semua yang di-isyaratkan oleh hadits-hadits itu semuanya dapat dilaksana- kan'.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dalam &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;shohih Bukhori&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; dan juga dalam &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Al-Muwattha&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; terdapat penegasan Rasulallah saw. yang menyatakan bahwa &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;jasad semua anak Adam akan hancur dimakan tanah.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; Mengenai itu Ibnu 'Abdul Birr rh. dalam &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;At-Tamhid&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;mengatakan: Hadits mengenai itu menurut lahirnya dan menurut keumuman maknanya adalah, bahwa semua anak Adam sama dalam hal itu. Akan tetapi dalam hadits yang lain Rasulallah saw. menegaskan pula, bahwa &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;jasad para Nabi dan para pahlawan syahid tidak akan dimakan tanah (hancur) !&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Masih banyak contoh seperti diatas baik didalam nash Al-Qur'an maupun&amp;nbsp;Hadits. Banyak sekali ayat Ilahi yang menurut&amp;nbsp;kalimatnya bersifat umum, dan dalam ayat yang lain dikhususkan maksud dan maknanya, demikian pula banyak terdapat didalam hadits. Begitu banyaknya sehingga ada sekelompok ulama mengatakan; &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;'Hal yang umum hendaknya tidak diamalkan dulu sebelum dicari kekhususan-kekhususannya'.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Begitu juga halnya dengan hadits Nabi&amp;nbsp; ‘&lt;i&gt;Kullu bid’ atin dholalah’&lt;/i&gt; walaupun sifatnya umum tapi berdasarkan dalil hadits lainnya maka disimpulkanlah bahwa &lt;i&gt;tidak semua bid’ah (prakarsa) itu dholalah/sesat&lt;/i&gt; ! Mereka juga lupa yang disebut agama bukan hanya masalah peribadatan saja. Allah swt. menetapkan agama Islam bagi umat manusia mencakup semua perilaku dan segi kehidupan manusia. Yang kesemuanya ini bisa dimasuki bid’ah baik yang hasanah maupun yang sayyiah/buruk.&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Banyak kenyataan membuktikan, bahwa Rasulallah saw. membenarkan dan meirdhoi macam-macam perbuatan yang berada diluar perintah Allah dan perintah beliau saw. Silahkan baca kembali hadits-hadits yang telah kami kemukakan diatas. Bagaimanakah cara kita memahami semua persoalan itu? Apakah kita berpegang pada satu hadits Nabi (yakni kalimat: semua bid'ah adalah sesat) diatas dan &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;kita buang&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; ayat ilahi dan hadits-hadits yang lain yang lebih jelas uraiannya (yang menganjurkan manusia selalu berbuat kebaikan)&amp;nbsp;? Yang benar ialah bahwa kita harus berpegang pada semua hadits&amp;nbsp;yang telah diterima kebenarannya oleh jumhurul-ulama. Untuk itu tidak ada jalan yang lebih tepat daripada yang telah ditunjukkan oleh para imam dan ulama Fiqih, yaitu sebagaimana yang telah dipecahkan oleh Imam Syafi'i dan lain-lain.&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Insya Allah dengan keterangan singkat tentang hadits-hadits Rasulallah saw. masalh Bid’ah, akan bisa membuka pikiran kita untuk mengetahui bid’ah mana yang haram dan bid’ah yang Hasanah/baik. &lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2471196886602119956-448601120687710850?l=hal-bidah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2471196886602119956/posts/default/448601120687710850'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2471196886602119956/posts/default/448601120687710850'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hal-bidah.blogspot.com/2010/08/dalil-dalil-yang-membantah-dan.html' title='Dalil-dalil yang membantah dan jawabannya'/><author><name>AWePe</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2471196886602119956.post-2418326218497018983</id><published>2010-08-09T09:13:00.000-07:00</published><updated>2010-08-09T09:13:13.614-07:00</updated><title type='text'>Contoh-contoh bid’ah yang diamalkan para sahabat</title><content type='html'>Marilah kita sekarang rujuk hadits-hadits&amp;nbsp;Rasulallah saw. mengenai amal kebaikan yang dilakukan oleh para sahabat Nabi saw. atas prakarsa mereka sendiri, bukan perintah Allah swt. atau Nabi saw., dan bagaimana Rasulallah saw. menanggapi masalah itu. Insya Allah dengan adanya beberapa hadits ini para pembaca cukup jelas bahwa semua hal-hal yang baru (bid’ah) yang sebelum atau sesudahnya tidak pernah diamalkan, diajarkan atau diperintahkan oleh Rasulallah saw. selama hal ini tidak merubah dan keluar dari garis-garis yang ditentukan syari’at itu adalah boleh diamalkan apalagi dalam bidang kebaikan itu malah dianjurkan oleh agama dan mendapat pahala.&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;a&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;. Hadits&amp;nbsp;dari Abu Hurairah: “Rasulallah saw. bertanya pada Bilal ra seusai sholat Shubuh : &lt;i&gt;‘Hai Bilal, katakanlah padaku apa yang paling engkau harapkan dari amal yang telah engkau perbuat, sebab aku mendengar suara terompahmu didalam surga’&lt;/i&gt;. Bilal menjawab : Bagiku amal yang paling kuharapkan ialah aku selalu suci tiap waktu (yakni selalu dalam keadaan berwudhu) siang-malam sebagaimana aku menunaikan shalat “. (HR Bukhori, Muslim dan Ahmad bin Hanbal). &lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dalam hadits lain yang diketengahkan oleh Tirmidzi dan disebutnya sebagai hadits hasan dan shohih, oleh Al-Hakim dan Ad-Dzahabi yang mengakui juga sebagai hadits shohih ialah Rasulallah saw. meridhoi prakarsa Bilal yang tidak pernah meninggalkan sholat dua rakaat setelah adzan dan pada tiap saat wudhu’nya batal, dia segera mengambil air wudhu dan sholat dua raka’at demi karena Allah swt. (lillah).&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Al-Hafidh Ibnu Hajar dalam kitab &lt;i&gt;Al-Fath&lt;/i&gt;&amp;nbsp;mengatakan: Dari hadits tersebut dapat diperoleh pengertian, bahwa &lt;i&gt;ijtihad&lt;/i&gt; menetapkan &lt;i&gt;waktu ibadah&lt;/i&gt; diperbolehkan. Apa yang dikatakan oleh Bilal kepada Rasulallah saw.adalah hasil istinbath (ijtihad)-nya sendiri dan ternyata dibenarkan oleh beliau saw. (Fathul Bari jilid 111/276).&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;b.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; Hadits lain berasal dari Khabbab dalam Shahih Bukhori mengenai perbuatan Khabbab shalat dua rakaat sebagai pernyataan sabar (bela sungkawa) disaat menghadapi orang muslim yang mati terbunuh. (Fathul Bari jilid 8/313).&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dua hadits tersebut kita mengetahui jelas, bahwa Bilal dan Khabbab telah menetapkan waktu-waktu ibadah atas dasar prakarsanya sendiri-sendiri. Rasulallah saw. tidak memerintahkan hal itu dan tidak pula melakukannya, beliau hanya secara umum menganjurkan supaya kaum muslimin banyak beribadah. Sekalipun demikian beliau saw. tidak melarang, bahkan membenarkan prakarsa dua orang sahabat itu.&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="NL" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;c.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="NL" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp; Hadits riwayat Imam Bukhori dalam shohihnya II :284, hadits berasal dari Rifa’ah bin Rafi’ az-Zuraqi yang menerangkan bahwa: &lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;“Pada suatu hari aku sesudah shalat dibelakang Rasulallah saw. Ketika berdiri (I’tidal) sesudah ruku’ beliau saw. mengucapkan ‘sami’allahu liman hamidah’. Salah seorang yang ma’mum menyusul ucapan beliau itu dengan berdo’a: ‘&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Rabbana lakal hamdu hamdan katsiiran thayyiban mubarakan fiihi’&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; (Ya Tuhan kami, puji syukur sebanyak-banyaknya dan sebaik-baiknya atas limpahan keberkahan-Mu). Setelah shalat Rasulallah saw. bertanya : &lt;i&gt;‘Siapa tadi yang berdo’a?’.&lt;/i&gt; Orang yang bersangkutan menjawab: Aku, ya Rasul- Allah. Rasulallah saw. berkata : &lt;i&gt;‘Aku melihat lebih dari 30 malaikat ber-rebut ingin mencatat do’a itu lebih dulu’ “.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Al-Fath&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;II:287 mengatakan:&amp;nbsp; ' Hadits tersebut dijadikan dalil untuk membolehkan membaca suatu dzikir dalam sholat yang tidak diberi contoh oleh Nabi saw. (ghair ma'tsur) jika ternyata dzikir tersebut tidak bertolak belakang&amp;nbsp;atau bertentangan dengan dzikir yang &lt;i&gt;ma'tsur&lt;/i&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="NL" style="color: black; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;dicontohkan langsung oleh&amp;nbsp;Nabi Muhammad saw&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL" style="color: black; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;. Disamping itu, hadits tersebut mengisyaratkan bolehnya mengeraskan suara &lt;/span&gt;&lt;span lang="NL" style="color: black; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;bagi makmum&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL" style="color: black; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="NL" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;selama tidak mengganggu orang yang ada didekatnya...'.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Al-Hafidh dalam &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Al-Fath&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; mengatakan bahwa hadits tersebut menunjukkan juga diperbolehkannya orang berdo’a atau berdzikir diwaktu shalat selain dari yang sudah biasa, asalkan maknanya tidak berlawanan dengan kebiasaan yang telah ditentukan (diwajibkan). Juga hadits itu memperbolehkan orang mengeraskan suara diwaktu shalat dalam batas tidak menimbulkan keberisikan.&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Lihat pula kitab &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Itqan Ash-Shan'ah Fi Tahqiq&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; untuk mengetahui makna al-bid'ah karangan Imam Muhaddis Abdullah bin Shiddiq Al-Ghimary untuk mengetahui makna al-bid'ah&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;d.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; Hadits serupa diatas yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Anas bin Malik ra. “Seorang dengan terengah-engah (Hafazahu Al-Nafs) masuk kedalam barisan (shaf). Kemudian dia mengatakan (dalam sholatnya) &lt;i&gt;al-hamdulillah hamdan katsiran thayyiban mubarakan fihi&lt;/i&gt; (segala puji hanya bagi Allah dengan pujian yang banyak, bagus dan penuh berkah). Setelah Rasulallah saw. selesai dari sholatnya, beliau bersabda : ‘&lt;i&gt;Siapakah diantaramu yang mengatakan beberapa kata&lt;/i&gt; (kalimat) (tadi)’ ? Orang-orang diam. Lalu beliau saw. bertanya lagi: ‘&lt;i&gt;Siapakah diantaramu yang mengatakannya&lt;/i&gt; ? &lt;i&gt;Sesungguhnya dia tidak mengatakan sesuatu yang percuma’. &lt;/i&gt;Orang yang datang tadi berkata: ‘Aku datang sambil terengah-engah (kelelahan) sehingga aku mengatakannya’. Maka Rasulallah saw. bersabda:&amp;nbsp; &lt;i&gt;‘Sungguh aku melihat dua belas malaikat memburunya dengan cepat, siapakah diantara mereka &lt;/i&gt;(para malaikat)&lt;i&gt; yang mengangkatkannya &lt;/i&gt;(amalannya ke Hadhirat Allah) “. (Shohih Muslim 1:419 ).&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;e&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;.&amp;nbsp;&amp;nbsp;Dalam &lt;i&gt;Kitabut-Tauhid&lt;/i&gt; Al-Bukhori mengetengahkan sebuah hadits dari ‘Aisyah ra. yang mengatakan: &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;“&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;Pada suatu saat Rasulallah saw. menugaskan seorang dengan beberapa temannya ke suatu daerah untuk menangkal serangan kaum musyrikin. Tiap sholat berjama’ah, selaku imam ia selalu membaca Surat Al-Ikhlas di samping Surah lainnya sesudah Al-Fatihah. Setelah mereka pulang ke Madinah, seorang diantaranya memberitahukan persoalan itu kepada Rasulallah saw. Beliau saw.menjawab :&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; ‘Tanyakanlah kepadanya apa yang dimaksud’.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; Atas pertanyaan temannya itu orang yang bersangkutan menjawab &lt;i&gt;:&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-style: normal;"&gt; ‘Karena Surat Al-Ikhlas itu menerangkan sifat ar-Rahman, dan aku suka sekali membacanya’&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; Ketika jawaban itu disampaikan kepada Rasulallah saw. beliau berpesan : &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;‘Sampaikan kepadanya bahwa Allah menyukai nya’&amp;nbsp; .&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Apa yang dilakukan oleh orang tadi tidak pernah dilakukan dan tidak pernah diperintahkan oleh Rasulallah saw.. Itu hanya merupakan prakarsa orang itu sendiri. Sekalipun begitu Rasulallah saw. tidak mempersalahkan dan tidak pula mencelanya, bahkan memuji dan meridhoinya dengan ucapan “Allah menyukainya”.&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;f.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; &amp;nbsp;Bukhori dalam &lt;i&gt;Kitabus Sholah&lt;/i&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; hadits yang serupa diatas&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; dari Anas bin Malik yang menceriterakan bahwa: “Beberapa orang menunaikan shalat dimasjid Quba. Orang yang mengimami shalat itu setelah membaca surah Al-Fatihah dan satu surah yang lain selalu menambah lagi dengan surah Al-Ikhlas. Dan ini dilakukannya setiap rakaat. Setelah shalat para ma’mum menegurnya: Kenapa anda setelah baca Fatihah dan surah lainnya selalu menambah dengan surah Al-Ikhlas? Anda kan bisa memilih surah yang lain dan meninggalkan surah Al-Ikhlas atau membaca surah Al-Ikhlas tanpa membaca surah yang lain ! Imam tersebut menjawab : Tidak !, aku tidak mau meninggalkan surah Al-Ikhlas kalau kalian setuju, aku mau mengimami kalian untuk seterusnya tapi kalau kalian tidak suka aku tidak mau mengimami kalian. Karena para ma’mum tidak melihat orang lain yang lebih baik dan utama dari imam tadi mereka tidak mau diimami oleh orang lain. Setiba di Madinah mereka menemui Rasulallah saw. dan menceriterakan hal tersebut pada beliau. Kepada imam tersebut Rasulallah saw. bertanya: &lt;i&gt;‘Hai, fulan, apa sesungguhnya yang membuatmu tidak mau menuruti permintaan teman-temanmu dan terus menerus membaca surat Al-Ikhlas pada setiap rakaat’?&lt;/i&gt;&amp;nbsp; Imam tersebut menjawab: ‘Ya Rasulallah, aku sangat mencintai Surah itu’. Beliau saw. berkata: &lt;i&gt;‘Kecintaanmu kepada Surah itu akan memasukkan dirimu ke dalam surga’ “.. &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Mengenai makna hadits ini Imam Al-Hafidh dalam kitabnya &lt;i&gt;Al-Fath&lt;/i&gt; mengatakan antara lain&lt;i&gt;; &lt;/i&gt;‘Orang itu berbuat melebihi kebiasaan yang telah ditentukan karena terdorong oleh kecintaannya kepada surah tersebut. Namun Rasulallah saw. menggembirakan orang itu dengan pernyataan bahwa ia akan masuk surga. Hal ini menunjukkan bahwa beliau saw. meridhainya’. &lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Imam Nashiruddin Ibnul Munir&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; menjelaskan makna hadits tersebut dengan menegaskan : ‘&lt;i&gt;&lt;u&gt;Niat&lt;/u&gt; atau tujuan dapat mengubah kedudukan hukum suatu perbuatan’&lt;/i&gt;. Selanjutnya ia menerangkan; ‘Seumpama orang itu menjawab dengan alasan karena ia tidak hafal Surah yang lain, mungkin Rasulallah saw. akan menyuruhnya supaya belajar menghafal Surah-surah selain yang selalu dibacanya berulang-ulang. Akan tetapi karena ia mengemukakan alasan &lt;i&gt;karena sangat mencintai Surah itu &lt;/i&gt;(yakni Al-Ikhlas), Rasulallah saw. dapat membenarkannya, sebab alasan itu menunjukkan niat baik dan tujuan yang sehat’. Lebih jauh Imam Nashiruddin mengatakan ; ‘Hadits tersebut juga menunjukkan, bahwa orang boleh membaca berulang-ulang Surah atau ayat-ayat khusus dalam Al-Qur’an menurut kesukaannya. Kesukaan demikian itu tidak dapat diartikan bahwa orang yang bersangkutan tidak menyukai seluruh isi Al-Qur’an atau meninggalkannya’.&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Menurut kenyataan, baik para ulama zaman Salaf maupun pada zaman-zaman berikutnya, tidak ada yang mengatakan perbuatan seperti itu merupakan suatu bid’ah sesat, dan tidak ada juga yang mengatakan bahwa perbuat- an itu merupakan sunnah yang tetap. Sebab sunnah yang tetap dan wajib dipertahankan serta dipelihara baik-baik ialah sunnah yang dilakukan dan diperintahkan oleh Rasulallah saw. Sedangkan sunnah-sunnah yang tidak pernah dijalankan atau diperintahkan oleh Rasulallah saw. bila tidak keluar dari ketentuan syari’at dan tetap berada didalam kerangka amal kebajikan yang diminta oleh agama Islam itu boleh diamalkan apalagi dalam persoalan berdzikir kepada Allah swt.&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;g.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Al-Bukhori mengetengahkan sebuah hadits tentang &lt;i&gt;Fadha’il&lt;/i&gt; (keutamaan) Surah Al-Ikhlas berasal dari Sa’id Al-Khudriy ra. yang mengatakan, bahwa ia mendengar seorang mengulang-ulang bacaan &lt;i&gt;Qul huwallahu ahad….&lt;/i&gt; Keesokan harinya ia ( Sa’id Al-Khudriy ra) memberitahukan hal itu kepada Rasulallah saw., dalam keadaan orang yang dilaporkan itu masih terus mengulang-ulang bacaannya. Menanggapi laporan Sa’id itu Rasulallah saw.berkata : &lt;i&gt;‘Demi Allah yang nyawaku berada ditanganNya, itu sama dengan membaca sepertiga Qur’an’.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Imam Al-Hafidh mengatakan didalam &lt;i&gt;Al-Fathul-Bari&lt;/i&gt;; bahwa orang yang disebut dalam hadits itu ialah &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Qatadah bin Nu’man&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;. Hadits tersebut diriwayatkan oleh Ahmad bin Tharif dari Abu Sa’id, yang mengatakan, bahwa sepanjang malam Qatadah bin Nu’man terus-menerus membaca &lt;i&gt;Qul huwallahu ahad&lt;/i&gt;, tidak lebih. Mungkin yang mendengar adalah saudaranya seibu (dari lain ayah), yaitu Abu Sa’id yang tempat tinggalnya berdekatan sekali dengan Qatadah bin Nu’man. Hadits yang sama diriwayatkan juga oleh Malik bin Anas, bahwa Abu Sa’id mengatakan: ‘Tetanggaku selalu bersembahyang di malam hari dan terus-menerus membaca &lt;i&gt;Qul huwallahu ahad’.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;h&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;. Ashabus-Sunan, Imam Ahmad bin Hanbal dan Ibnu Hibban dalam &lt;i&gt;Shohih-&lt;/i&gt;nya meriwayatkan sebuah hadits berasal dari ayah Abu Buraidah yang menceriterakan kesaksiannya sendiri sebagai berikut: ‘Pada suatu hari aku bersama Rasulallah saw. masuk kedalam masjid Nabawi (masjid Madinah). Didalamnya terdapat seorang sedang menunaikan sholat sambil berdo’a; &lt;i&gt;Ya Allah, aku mohon kepada-Mu dengan bersaksi bahwa tiada tuhan selain Engkau. Engkaulah Al-Ahad, As-Shamad, Lam yalid wa lam yuulad wa lam yakullahu kufuwan ahad’.&lt;/i&gt; Mendengar do’a itu Rasulallah saw. bersabda; ‘&lt;i&gt;Demi Allah yang nyawaku berada di tangan-Nya, dia mohon kepada Allah dengan Asma-Nya Yang Maha Besar, yang bila dimintai akan memberi dan bila orang berdo’a kepada-Nya Dia akan menjawab’.&lt;/i&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Tidak diragukan lagi, bahwa do'a yang mendapat tanggapan sangat menggembirakan dari Rasulallah saw. itu &lt;i&gt;disusun&lt;/i&gt; atas dasar &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;prakarsa&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; orang yang berdo’a itu sendiri, bukan do’a yang diajarkan atau diperintahkan oleh Rasulallah saw. kepadanya. Karena &lt;i&gt;susunan do’a&lt;/i&gt; itu sesuai dengan ketentuan syari’at dan bernafaskan tauhid, maka beliau saw. menanggapinya dengan baik, membenarkan dan meridhoinya.&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;i.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;Hadits dari Ibnu Umar katanya; “Ketika kami sedang melakukan shalat bersama Nabi saw. ada seorang lelaki dari yang hadir yang mengucapkan &lt;i&gt;‘Allahu Akbaru Kabiiran Wal&amp;nbsp; Hamdu Lillahi Katsiiran Wa Subhaanallahi Bukratan Wa Ashiila’&lt;/i&gt;. Setelah selesai sholatnya, maka Rasulallah saw. bertanya; &lt;i&gt;‘Siapakah yang mengucapkan kalimat-kalimat tadi?&lt;/i&gt; Jawab seseorang dari kaum; Wahai Rasulallah, akulah yang mengucapkan kalimat-kalimat tadi. Sabda beliau saw.; ‘&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Aku sangat kagum dengan kalimat-kalimat tadi sesungguhnya langit telah dibuka pintu-pintunya karenanya'&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;. Kata Ibnu Umar: Sejak aku mendengar ucapan itu dari Nabi saw. maka aku tidak pernah meninggalkan untuk mengucapkan kalimat-kalimat tadi.”&amp;nbsp;(HR. Muslim dan Tirmidzi). As-Shan’ani ‘Abdurrazzaq juga mengutipnya dalam &lt;i&gt;Al-Mushannaf&lt;/i&gt;. &lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Demikianlah bukti yang berkaitan dengan &lt;i&gt;pembenaran&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;keridhaan &lt;/i&gt;Rasulallah saw. terhadap prakarsa-prakarsa baru yang berupa do’a-do’a dan bacaan surah &lt;i&gt;di dalam sholat&lt;/i&gt;, walaupun beliau saw. sendiri tidak pernah melakukannya atau memerintahkannya. Kemudian Ibnu Umar mengamalkan hal tersebut bukan karena anjuran dari Rasulallah saw. tapi karena mendengar jawaban beliau saw. mengenai bacaan itu.&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Pada hadits-hadits tadi Rasulallah saw. juga tidak melarang orang untuk berdo’a dalam waktu sholat dengan lafadz-lafadz do’a yang tidak pernah diajarkan atau diperintahkan oleh beliau saw. dan membaca surah Al-Ikhlas berulang-ulang baik dalam waktu sholat maupun diluar sholat,&amp;nbsp;malah beliau memberi kabar gembira bagi orang yang mengamalkannya. &lt;i&gt;Mengapa justru golongan pengingkar berani mengharamkan, membid’ahkan munkar orang membaca tahlilan/yasinan berulang-ulang yang mana dimajlis itu bukan hanya satu surat saja yang dibaca tetapi bermacam-macam surah dari Al-Qur’an dan do’a-do’a yang baik?&lt;/i&gt; Kalau mereka mengatakan sebagai &lt;i&gt;pengikut para Salaf&lt;/i&gt;, mengapa tidak mencontoh bagaimana cara Rasulallah saw. &lt;/span&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Raja dan Guru terbesarnya para Salaf&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; menanggapi amalan-amalan bid’ah (baru) yang telah dikemukakan tadi? &lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;j&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;. Hadits dari Abu Sa’id al-Khudri tentang &lt;i&gt;Ruqyah&lt;/i&gt; yakni sistem pengobatan dengan jalan berdo’a kepada Allah swt. atau dengan jalan &lt;i&gt;bertabarruk&lt;/i&gt; pada ayat-ayat Al-Qur’an. Sekelompok sahabat Nabi saw. yang sempat singgah pada pemukiman suku arab badui sewaktu mereka dalam perjalanan. Karena sangat lapar mereka minta pada orang-orang suku tersebut agar bersedia untuk menjamu mereka. Tapi permintaan ini ditolak. Pada saat itu kepala suku arab badui itu disengat binatang berbisa sehingga tidak dapat jalan. Karena tidak ada orang dari suku tersebut yang bisa mengobatinya, akhirnya mereka mendekati sahabat Nabi seraya berkata: Siapa diantara kalian yang bisa mengobati kepala suku kami yang disengat binatang berbisa? Salah seorang sahabat sanggup menyembuhkannya tapi dengan syarat suku badui mau memberikan makanan pada mereka. Hal ini disetujui oleh suku badui tersebut. Maka sahabat Nabi itu segera mendatangi kepala suku lalu membacakannya &lt;i&gt;surah al-Fatihah&lt;/i&gt;, seketika itu juga dia sembuh dan langsung bisa berjalan. Maka segeralah diberikan pada para sahabat beberapa ekor kambing sesuai dengan perjanjian. Para sahabat belum berani membagi kambing itu sebelum menghadap Rasulallah saw.. Setiba dihadapan Rasulallah saw, mereka menceriterakan apa yang telah mereka lakukan terhadap kepala suku itu. Rasulallah saw. bertanya ; &lt;i&gt;‘Bagaimana engkau tahu bahwa surah al-Fatihah itu dapat menyembuhkan’?&lt;/i&gt; Rasulallah saw. membenarkan mereka dan &lt;i&gt;ikut memakan&lt;/i&gt; sebagian dari daging kambing tersebut “.&amp;nbsp; (HR.Bukhori)&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;k&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;. Abu Daud, At-Tirmudzi dan An-Nasa’i mengetengahkan sebuah riwayat hadits berasal dari paman Kharijah bin Shilt yang mengatakan; “Pada suatu hari ia melihat banyak orang bergerombol dan ditengah-tengah mereka terdapat seorang gila dalam keadaan terikat dengan rantai besi. Kepada paman Kharijah itu mereka berkata: ‘Anda tampaknya datang membawa kebajikan dari orang itu (yang dimaksud Rasulallah saw.), tolonglah sembuhkan orang gila ini’. Paman Kharijah kemudian dengan suara lirih membaca surat Al-Fatihah, dan ternyata orang gila itu menjadi sembuh”. (Hadits ini juga diketengahkan oleh Al-Hafidh didalam &lt;i&gt;Al-Fath&lt;/i&gt;) &lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Masih banyak hadits&amp;nbsp;yang tak tercantum disini, yang meriwayatkan amal perbuatan para sahabat atas dasar prakarsa dan ijtihadnya sendiri yang tidak dijalani serta dianjurkan oleh Rasulallah saw.. Semuanya&amp;nbsp;itu diridhoi oleh Rasulallah saw. dan beliau memberi kabar gembira pada mereka. Amalan-amalan tersebut juga &lt;i&gt;tidak diperintah atau dianjurkan oleh Rasulallah saw. sebelum atau sesudahnya. &lt;/i&gt;Karena semua itu bertujuan baik,&amp;nbsp; tidak melanggar syariát maka oleh Nabi saw. diridhoi dan mereka diberi kabar gembira. Perbuatan-perbuatan tersebut dalam pandangan syari’at dinamakan &lt;i&gt;sunnah mustanbathah&lt;/i&gt; yakni sunnah yang ditetapkan berdasarkan &lt;i&gt;istinbath atau hasil ijtihad&lt;/i&gt;. Dengan demikian hadits-hadits diatas bisa dijadikan dalil&amp;nbsp;untuk setiap amal kebaik- an&amp;nbsp;selama tidak keluar dari garis-garis yang ditentukan syari'at&amp;nbsp;Islam&amp;nbsp;itu mustahab/baik hukumnya, apalagi masalah tersebut bermanfaat bagi masyarakat muslim khususnya malah dianjurkan oleh agama.&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Kalau kita teliti hadits-hadits diatas tersebut banyak yang&amp;nbsp;berkaitan dengan masalah &lt;i&gt;shalat &lt;/i&gt;yaitu suatu ibadah pokok dan terpenting dalam Islam. Sebagaimana Rasulallah saw. telah bersabda : &lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="margin-right: 81pt; text-align: center;"&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA" style="font-size: 14pt;"&gt;صَلُُوْا كَمَا رَأيْتُمُوْنِي أصَلِي&amp;nbsp; (رواه البخاري&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 81pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 81pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;‘Hendaklah kamu sholat sebagaimana kalian melihat aku sholat’&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;. (HR Bukhori).&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 81pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sekalipun demikian beliau saw. dapat membenarkan dan meridhoi tambahan&amp;nbsp; tambahan tertentu yang berupa do’a dan bacaan surah atas prakarsa mereka itu. Karena beliau saw. memandang do’a dan bacaan surah tersebut diatas tidak keluar dari batas-batas yang telah ditentukan oleh syari’at dan juga bernafaskan tauhid. Bila ijtihad dan amalan para sahabat itu melanggar&amp;nbsp;dan merubah hukum-hukum yang telah ditentukan oleh syari'at, pasti akan ditegur dan dilarang oleh Rasulallah saw.&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Mungkin ada orang yang bertanya-tanya lagi; &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Bagaimanakah pendapat orang tentang penetapan sesuatu yang disebut sunnah atau mustahab, yaitu penetapan yang dilakukan oleh masyarakat muslimin pada abad pertama Hijriyah, padahal apa yang dikatakan sunnah atau mustahab itu tidak pernah dikenal pada zaman hidupnya Nabi saw.?&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Memang benar, bahwa masyarakat yang hidup pada zaman abad pertama Hijriyah dan generasi berikutnya, banyak menetapkan hal-hal yang bersifat mustahab dan baik. Pada masa itu banyak sekali para ulama yang menurut kesanggupannya masing-masing dalam menguasai ilmu pengetahuan, giat melakukan ijtihad (studi mendalam untuk mengambil kesimpulan hukum) dan menetapkan suatu cara yang dipandang baik atau mustahab.&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Untuk menerangkan hal ini baiklah kita ambil contoh yang paling mudah dipahami dan yang pada umumnya telah dimengerti oleh kaum muslimin, yaitu soal kodifikasi (pengitaban) ayat-ayat suci Al-Qur’an, sebagaimana yang telah kita kenal sekarang ini. &lt;span style="color: black;"&gt;Al-Quran waktu zaman Nabi saw. dan zaman khalifah Abubakar ra, masih bertebaran di tembok-tembok, di kulit onta, hafalan para sahabat ra yang hanya sebagian dituliskan. Namun dengan adanya pengitaban tersebut, sekarang kita masih mengenal Al-Quran secara utuh dan dengan adanya Bid’ah Hasanah ini pula kita masih mengenal hadits-hadits Rasulullah saw, maka jadilah Islam ini kokoh dan Abadi. Bila hal tersebut tidak terjadi, maka akan muncul beribu-ribu Versi Al-Quran di zaman sekarang, karena semua orang akan mengumpulkan dan membukukannya, yang masing-masing dengan riwayatnya sendiri, maka hancurlah Al-Quran dan hancurlah Islam. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Para sahabat Nabi saw. sendiri pada masa-masa sepeninggal beliau saw. berpendapat bahwa pengkodifikasian ayat-ayat suci Al-Qur’an adalah bid’ah sayyiah. Mereka khawatir kalau-kalau pengkodifikasian itu akan mengakibatkan rusaknya kemurnian agama Allah swt., Islam. ‘Umar bin Khattab ra. sendiri sampai merasa takut kalau-kalau dikemudian hari ayat-ayat Al-Qur’an akan lenyap karena wafatnya para sahabat Nabi saw. yang hafal ayat-ayat Al-Qur’an. &lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Ia mengemukakan kekhawatirannya itu kepada Khalifah Abu Bakra ra. dan mengusulkan supaya Khalifah memerintahkan pengitaban ayat-ayat Al-Qur’an. Tetapi ketika itu Khalifah Abu Bakar menolak usul ‘Umar dan berkata kepada ‘Umar; &lt;i&gt;Bagaimana mungkin aku melakukan sesuatu yang tidak dilakukan oleh Rasulallah saw.?&lt;/i&gt; ‘Umar bin Khattab ra. menjawab; &lt;i&gt;Itu merupakan hal yang baik&lt;/i&gt;. Namun, tidak berapa lama kemudian Allah swt. membukakan pikiran Khalifah Abu Bakar ra seperti yang dibukakan lebih dulu pada pikiran ‘Umar bin Khattab ra, dan akhirnya bersepakatlah dua orang sahabat Nabi itu untuk mengitabkaan ayat-ayat Al-Qur’an. Khalifah Abu Bakar memanggil Zaid bin Tsabit dan diperintahkan supaya melaksanakan pengitabatan ayat-ayat Al-Qur’an itu. Zaid bin Tsabit ra. juga menjawab kepada Abu Bakar; &lt;i&gt;Bagaimana mungkin aku melakukan sesuatu yang tidak dilakukan oleh Rasulallah saw.?&lt;/i&gt; Abu Bakar menjawab kepadanya;&lt;i&gt; Itu&amp;nbsp; pekerjaan yang baik&lt;/i&gt;! &lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Untuk lebih detail keterangannya sebagai berikut: Ketika terjadi pembunuhan besar-besaran atas para Huffadh (yang hafal) Alqur’an dan Ahli Alqur’an dari sahabat Rasulallah saw. (Ahlul yamaamah) di zaman Khalifah Abubakar Asshiddiq ra, berkata Abubakar Ashiddiq ra kepada Zaid bin Tsabit ra : “Sungguh Umar (ra) telah datang kepadaku dan melaporkan pembunuhan atas ahlulyamaamah dan ditakutkan pembunuhan akan terus terjadi pada para Ahlulqur’an, lalu ia menyarankan agar aku (Abubakar Asshiddiq ra) mengumpulkan dan menulis Alqur’an, aku berkata: Bagaimana aku berbuat suatu hal yang tidak diperbuat oleh Rasulullah..?, maka Umar berkata padaku; Demi Allah ini adalah demi kebaikan dan merupakan kebaikan, dan ia terus meyakinkanku sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan Umar, dan engkau (zeyd) adalah pemuda, cerdas, dan kami tak menuduhmu (kau tak pernah berbuat jahat), kau telah mencatat wahyu, dan sekarang ikutilah dan kumpulkanlah Alqur’an dan tulislah Alqur’an..!”. Berkata Zaid: “Demi Allah sungguh bagiku diperintah memindahkan sebuah gunung daripada gunung gunung tidak seberat perintahmu padaku untuk mengumpulkan Alqur’an, bagaimana kalian berdua berbuat sesuatu yang tak diperbuat oleh Rasulullah saw?”, maka Abubakar ra mengatakannya bahwa hal itu adalah kebaikan, hingga iapun meyakinkanku sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan mereka berdua dan aku mulai mengumpulkan Alqur’an”. (Shahih Bukhari hadits no.4402 dan 6768). Riwayat ini juga&amp;nbsp; dikemukakan oleh Imam Bukhori dalam Shohih-nya jilid 4 halaman 243 mengenai pengitaban ayat-ayat suci Al-Qur’an.&amp;nbsp; Penulisan Alqur’an selesai dimasa Khalifah Utsman bin Affan ra hingga Alqur’an kini dikenal dengan nama Mushaf &amp;nbsp;Utsmani, dan Ali bin Abi Thalib kw menghadiri dan menyetujui hal itu.&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Jelaslah sudah, baik Abu Bakar, ‘Umar maupun Zaid bin Tsabit [ra] pada masa itu telah melakukan suatu cara yang tidak pernah dikenal pada waktu Rasulallah saw masih hidup. Bahkan sebelum melakukan pengitaban Al-Qur’an itu Khalifah Abu Bakar dan Zaid bin Tsabit sendiri masing-masing telah menolak lebih dulu, tetapi akhirnya mereka dibukakan dadanya oleh Allah saw. sehingga dapat menyetujui dan menerima baik prakarsa ‘Umar bin Khattab ra. Demikianlah contoh suatu amalan yang tidak pernah dikenal pada zaman hidupnya Nabi saw.&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Secara umum &lt;i&gt;bid’ah&lt;/i&gt; adalah sesat karena berada diluar perintah Allah swt. dan Rasul-Nya. Akan tetapi banyak kenyataan membuktikan, bahwa Nabi &amp;nbsp;saw. membenarkan dan meridhoi banyak persoalan yang telah kami kemukakan yang berada diluar perintah Allah dan perintah beliau saw.&amp;nbsp; Hadits-hadits diatas itu mengisyaratkan adanya &lt;i&gt;bid’ah hasanah,&lt;/i&gt; karena Rasulallah saw. &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;membenarkan serta meridhoi&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; atas kata-kata tambahan dalam sholat dan semua bentuk kebajikan yang diamalkan para sahabat walaupun Nabi saw. belum menetapkan atau memerintahkan amalan-amalan tersebut. Begitu juga prakarsa para sahabat diatas setelah wafatnya beliau saw.&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Darisini kita bisa ambil kesimpulan bahwa semua bentuk amalan-amalan,&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;baik itu dijalankan atau tidak&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; pada masa Rasulallah saw. atau zaman dahulu setelah zaman Nabi saw.&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; yang tidak melanggar syariát serta mempunyai tujuan&amp;nbsp;dan niat mendekatkan diri untuk mendapatkan ridha Allah swt. dan&amp;nbsp;untuk mengingatkan (dzikir) kita semua pada Allah serta Rasul-Nya itu adalah bagian dari agama dan dapat diterima.&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 81pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sebagaimana hadits Rasulallah saw.:&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 81pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="margin-right: 81pt; text-align: center;"&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA" style="font-size: 14pt;"&gt;اِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالْنـِّيَّاتِ وَاِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى, فَمَنْ كَانَتْ&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="margin-right: -27pt; text-align: center;"&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA" style="font-size: 14pt;"&gt;هجْرَتُهُ الَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ اِلى اللهِ وَرَسُوْلِهِ (رواه البخاري&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 81pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="NL"&gt;‘Sesungguhnya segala perbuatan tergantung kepada niat, dan setiap manusia akan mendapat sekadar apa yang diniatkan, siapa yang hijrahnya &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="NL"&gt;(tujuannya)&lt;i&gt; karena Allah&amp;nbsp; dan Rasul-Nya,&amp;nbsp;hijrahnya itu adalah karena Allah dan Rasul-Nya &lt;/i&gt;(berhasil)’&lt;i&gt;.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;(HR. Bukhori).&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sekiranya orang-orang yang gemar melontarkan tuduhan &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;bid’ah&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; dapat memahami hikmah apa yang ada pada sikap Rasulallah saw. dalam meng- hadapi amal kebajikan yang dilakukan oleh para sahabatnya sebagaimana yang telah kami kemukakan dalil-dalil haditsnya tentu mereka mau dan akan menghargai orang lain yang tidak sependapat atau sepaham dengan mereka. &lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Tetapi sayangnya golongan pengingkar ini tetap sering mencela dan mensesatkan para ulama yang tidak sepaham dengannya. Mereka ini malah mengatakan; ‘Bahwa para ulama dan Imam yang memilah-milahkan bid’ah menjadi beberapa jenis telah membuka pintu selebar-lebarnya bagi kaum Muslim untuk berbuat segala macam bid’ah ! Kemudian mereka ini tanpa pengertian yang benar mengatakan, bahwa &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;semua bid’ah adalah dhalalah (sesat) dan sesat didalam neraka!".&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; Saya berlindung pada Allah swt. atas pemahaman mereka semacam ini.&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2471196886602119956-2418326218497018983?l=hal-bidah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2471196886602119956/posts/default/2418326218497018983'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2471196886602119956/posts/default/2418326218497018983'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hal-bidah.blogspot.com/2010/08/contoh-contoh-bidah-yang-diamalkan-para.html' title='Contoh-contoh bid’ah yang diamalkan para sahabat'/><author><name>AWePe</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2471196886602119956.post-5649542389378721252</id><published>2010-08-02T10:56:00.000-07:00</published><updated>2010-08-02T11:13:49.510-07:00</updated><title type='text'>Apa yang dimaksud Bid'ah dalam hadits Rasulallah saw.?</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_uK6_qhrF-cI/TFcJ0Lh2OFI/AAAAAAAAADw/ccTUj5P4NUA/s1600/makam-Nabi-SAW.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_uK6_qhrF-cI/TFcJ0Lh2OFI/AAAAAAAAADw/ccTUj5P4NUA/s320/makam-Nabi-SAW.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Marilah kita bahas apa yang dimaksud &lt;i&gt;Bid’ah&lt;/i&gt; menurut syari’at Islam serta wejangan/ &amp;nbsp; pandangan para ulama pakar tentang masalah ini.&amp;nbsp;Dengan demikian&amp;nbsp;insya Allah buat kita lebih jelas bidáh mana yang&amp;nbsp;dilarang dan yang dibolehkan dalam syari’at Islam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Sunnah&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt; dan &lt;i&gt;bid’ah&lt;/i&gt; adalah dua soal yang saling berhadap-hadapan dalam memahami ucapan-ucapan Rasulallah saw. sebagai Shohibusy-Syara’ (yang berwenang menetapkan hukum syari’at). Sunnah dan bid’ah masing-masing tidak dapat ditentukan batas-batas pengertiannya, kecuali jika yang satu sudah ditentukan batas pengertiannya lebih dulu. Tidak sedikit orang yang menetap- kan batas pengertian &lt;i&gt;bid’ah &lt;/i&gt;tanpa menetapkan lebih dulu batas pengertian &lt;i&gt;sunnah&lt;/i&gt;.&amp;nbsp; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Karena itu mereka terperosok kedalam pemikiran sempit dan tidak dapat keluar meninggalkannya, dan akhirnya mereka terbentur pada dalil-dalil yang berlawanan dengan pengertian mereka sendiri tentang bid’ah. Seandainya mereka menetapkan batas pengertian sunnah lebih dulu tentu mereka akan memperoleh kesimpulan yang tidak berlainan. Umpamanya dalam hadits berikut ini tampak jelas bahwa Rasulallah saw. menekankan soal &lt;i&gt;sunnah&lt;/i&gt; lebih dulu, baru kemudian memperingatkan soal &lt;i&gt;bid’ah.&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam shohihnya dari Jabir ra. bahwa Rasulallah saw. bila berkhutbah tampak matanya kemerah-merahan dan dengan suara keras bersabda: &lt;i&gt;‘Amma ba’du, sesungguhnya tutur kata yang terbaik ialah Kitabullah &lt;/i&gt;(Al-Qur’an)&lt;i&gt; dan petunjuk &lt;/i&gt;(huda)&lt;i&gt; yang terbaik ialah petunjuk Muhammad saw. Sedangkan persoalan yang terburuk ialah hal-hal yang diada-adakan, dan setiap hal yang diada-adakan ialah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat’&lt;/i&gt;. (diketengahkan juga oleh Imam Bukhori hadits dari Ibnu Mas’ud ra).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Makna hadits diatas ini diperjelas dengan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Jarir ra. bahwa Rasulallah saw. bersabda: &lt;i&gt;‘Barangsiapa yang didalam Islam merintis jalan kebajikan ia memperoleh pahalanya dan pahala orang yang mengerjakannya sesudah dia tanpa dikurangi sedikit pun juga. Barangsiapa yang didalam Islam merintis jalan kejahatan ia memikul dosanya dan dosa orang yang mengerjakannya sesudah dia tanpa dikurangi sedikit pun &lt;/i&gt;juga’ (Shohih Muslim V11 hal.61...&lt;span lang="EN-GB" style="color: black; font-family: Arial;"&gt;Shahih Muslim hadits no.1017, demikian pula diriwayatkan pada Shahih Ibn Khuzaimah, Sunan Baihaqi Alkubra, Sunan Addarimiy, Shahih Ibn Hibban dan banyak lagi). Hadits ini menjelaskan makna Bid’ah hasanah dan Bid’ah dhalalah. Nabi saw mengetahui bahwa ummatnya bukan hidup untuk 10 atau 100 tahun, tapi ribuan tahun akan berlanjut dan akan muncul kemajuan zaman modernisasi, merajalela kemaksiatan dan lain sebagainya maka dibolehkannya hal-hal yang baru yang diadakan selama berada dalam kebaikan dan tidak keluar dari garis-garis yang telah ditentukan oleh syariát Islam demi menjaga muslimin lebih terjaga dalam kemuliaan. Demikianlah bentuk kesempurnaan agama ini, yang tetap akan bisa dipakai hingga akhir zaman.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="color: black; font-family: Arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="color: black; font-family: Arial;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="color: black; font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Mengenai pendapat yang mengatakan bahwa hadits ini adalah khusus untuk sedekah saja, maka tentu ini adalah pendapat mereka yang dangkal dalam pemahaman&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: black; font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="color: black; font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;syariah, karena hadits diatas jelas jelas tak menyebutkan pembatasan hanya untuk&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: black; font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; sed&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="color: black; font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;ekah saja, terbukti dengan perbuatan bid’ah hasanah oleh para Sahabat dan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="color: black; font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="color: black; font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Tabi’in.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: black; font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Begitu juga kaidah pokok yang telah disepakati bulat oleh para ulama menetapkan; &lt;i&gt;‘Pengertian berdasarkan keumuman lafadh, bukan ber- dasarkan kekhususan sebab’&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Dari hadits Jabir yang pertama diatas kita mengetahui dengan jelas bahwa Kitabullah dan petunjuk Rasulallah saw., berhadap-hadapan dengan bid’ah, yaitu sesuatu yang diada-adakan yang menyalahi Kitabullah dan petunjuk Rasulallah saw. Dari hadits berikutnya kita melihat bahwa jalan kebajikan (sunnah hasanah) berhadap-hadapan dengan jalan kejahatan (sunnah sayyiah). Jadi jelaslah, bahwa yang pokok adalah &lt;i&gt;Sunnah&lt;/i&gt;, sedangkan yang menyimpang dan berlawanan dengan sunnah adalah &lt;i&gt;Bid’ah .&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Ar-Raghib Al-Ashfahani dalam kitab &lt;i&gt;Mufradatul-Qur’an &lt;/i&gt;Bab Sunan hal.245 mengatakan: ‘&lt;i&gt;Sunan &lt;/i&gt;adalah jamak dari kata &lt;i&gt;sunnah&lt;/i&gt; .Sunnah sesuatu berarti jalan sesuatu, sunnah Rasulallah saw. berarti Jalan Rasulallah saw. yaitu jalan yang ditempuh dan ditunjukkan oleh beliau. &lt;i&gt;Sunnatullah&lt;/i&gt; dapat diartikan &lt;i&gt;Jalan hikmah-Nya&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;jalan mentaati-Nya. . &lt;/i&gt;Contoh firman Allah swt. dalam surat Al-Fatah : 23 : &lt;i&gt;‘Sunnatullah yang telah berlaku sejak dahulu. Kalian tidak akan menemukan perubahan pada Sunnatullah itu’&lt;/i&gt; .&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Penjelasannya ialah bahwa cabang-cabang hukum syari’at sekalipun berlainan bentuknya, tetapi tujuan dan maksudnya tidak berbeda dan tidak berubah, yaitu membersihkan jiwa manusia dan mengantarkan kepada keridhoan Allah swt. Demikianlah Ar-Raghib Al-Ashfahani.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya &lt;i&gt;Iqtidha’us Shiratul Mustaqim&lt;/i&gt; hal.76 mengatakan: ‘Sunnah Jahiliyah adalah adat kebiasaan yang berlaku dikalangan masyarakat jahiliyyah. Jadi kata &lt;i&gt;sunnah&lt;/i&gt; dalam hal itu berarti &lt;i&gt;adat kebiasaan &lt;/i&gt;yaitu jalan atau cara yang berulang-ulang dilakukan oleh orang banyak, baik mengenai soal-soal yang dianggap sebagai peribadatan maupun yang tidak dianggap sebagai peribadatan’.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Demikian juga dikatakan oleh Imam Al-Hafidh didalam &lt;i&gt;Al-Fath &lt;/i&gt;dalam tafsirnya mengenai makna kata &lt;i&gt;Fithrah.&lt;/i&gt; Ia mengatakan, bahwa beberapa riwayat hadits menggunakan kata &lt;i&gt;sunnah&lt;/i&gt; sebagai pengganti kata &lt;i&gt;fithrah, &lt;/i&gt;dan bermakna &lt;i&gt;thariqah&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;jalan.&lt;/i&gt; Imam Abu Hamid dan Al-Mawardi juga mengartikan kata &lt;i&gt;sunnah&lt;/i&gt; dengan &lt;i&gt;thariqah &lt;/i&gt;(jalan).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Karena itu kita harus dapat memahami sunnah Rasulallah saw. dalam menghadapi berbagai persoalan yang terjadi pada zamannya, yaitu persoalan-persoalan yang tidak dilakukan, tidak diucapkan dan tidak diperintahkan oleh beliau saw., tetapi dipahami dan dilakukan oleh orang-orang yang &lt;i&gt;berijtihad &lt;/i&gt;menurut kesanggupan akal pikirannya dengan tetap berpedoman pada Kitab Allah dan Sunnah Rasulallah saw.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kita juga harus mengikuti dan menelusuri persoalan-persoalan itu agar kita dapat memahami jalan atau sunnah yang ditempuh Rasulallah saw. dalam membenarkan, menerima atau menolak sesuatu yang dilakukan orang. Dengan mengikuti dan menelusuri persoalan-persoalan itu kita dapat mempunyai keyakinan yang benar dalam memahami sunnah beliau saw. mengenai soal-soal baru&amp;nbsp; yang terjadi sepeninggal Rasulallah saw. Mana yang baik dan sesuai dengan Sunnah beliau saw., itulah yang kita namakan &lt;i&gt;Sunnah, &lt;/i&gt;dan mana yang buruk, tidak sesuai dan bertentangan dengan Sunnah Rasulallah saw., itulah yang kita namakan &lt;i&gt;Bid’ah&lt;/i&gt;. Ini semua baru dapat kita ketahui setelah kita dapat &lt;i&gt;membedakan &lt;/i&gt;lebih dahulu mana yang &lt;i&gt;sunnah&lt;/i&gt; dan mana yang &lt;i&gt;bid’ah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Mungkin ada orang yang mengatakan bahwa sesuatu kejadian yang dibiarkan (tidak dicela dan tidak dilarang) oleh Rasulallah saw. termasuk kategori &lt;i&gt;sunnah.&lt;/i&gt; Itu memang benar, akan tetapi kejadian yang dibiarkan oleh beliau itu merupakan &lt;i&gt;petunjuk&lt;/i&gt; juga bagi kita untuk dapat mengetahui bagaimana cara Rasulallah saw. membiarkan atau menerima kenyataan yang terjadi. Perlu juga diketahui bahwa banyak sekali kejadian yang dibiarkan Rasulallah saw. tidak menjadi &lt;i&gt;sunnah&lt;/i&gt; dan tidak ada seorangpun yang mengatakan itu sunnah. Sebab, apa yang diperbuat dan dilakukan oleh beliau saw. pasti lebih utama, lebih afdhal dan lebih mustahak diikuti. Begitu juga suatu kejadian atau perbuatan yang didiamkan atau dibiarkan oleh beliau saw. merupakan petunjuk bagi kita bahwa beliau saw. &lt;i&gt;tidak menolak sesuatu yang baik&lt;/i&gt;, jika yang baik itu tidak bertentangan dengan tuntunan dan petunjuk beliau saw. serta tidak mendatangkan akibat buruk ! &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Itulah yang dimaksud oleh kesimpulan para ulama yang mengatakan, bahwa &lt;i&gt;sesuatu yang diminta oleh syara’ baik yang bersifat khusus maupun umum, bukanlah bid’ah, kendati pun sesuatu itu tidak dilakukan dan tidak diperintahkan secara khusus oleh Rasulallah saw.&lt;/i&gt;! Mengenai persoalan itu banyak sekali hadits shohih dan hasan yang menunjukkan bahwa Rasulallah saw. sering membenarkan prakarsa baik (umpama amal perbuatan, dzikir, do’a dan lain sebagainya) yang diamalkan oleh &lt;i&gt;para sahabatnya&lt;/i&gt;.(silahkan baca halaman selanjutnya). Tidak lain para sahabat mengambil prakarsa dan mengerjakannya berdasarkan pemikiran dan keyakinannya sendiri, bahwa yang dilakukannya itu merupakan kebajikan yang dianjurkan oleh agama Islam dan secara umum diserukan oleh Rasulallah saw. (lihat hadits yang lalu) begitu juga mereka berpedoman pada firman Allah swt. dalam surat Al-Hajj:77: &lt;i&gt;‘Hendaklah kalian berbuat kebajikan, agar kalian memperoleh keberuntungan’ .&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Walaupun para sahabat berbuat amalan atas dasar prakarsa masing-masing, itu &lt;i&gt;tidak berarti&lt;/i&gt; &lt;i&gt;setiap orang&lt;/i&gt; dapat mengambil prakarsa, karena agama Islam mempunyai kaidah-kaidah dan pedoman-pedoman yang telah ditetapkan batas-batasnya. Amal kebajikan yang prakarsanya diambil oleh para sahabat Nabi saw. berdasarkan &lt;i&gt;ijtihad&lt;/i&gt; dapat dipandang sejalan dengan sunnah Rasulallah saw. &lt;i&gt;jika amal kebajikan itu sesuai dan tidak bertentangan&lt;/i&gt; dengan syari’at. Jika menyalahi ketentuan syari’at maka prakarsa itu tidak dapat dibenarkan dan harus ditolak !&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Pada dasarnya semua amal kebajikan yang sejalan dengan tuntutan syari’at, tidak bertentangan dengan Kitabullah dan Sunnah Rasulallah saw, dan tidak mendatangkan madharat/akibat buruk, tidak dapat disebut &lt;i&gt;Bid’ah&lt;/i&gt; menurut pengertian istilah syara’. Nama yang tepat adalah &lt;i&gt;Sunnah Hasanah&lt;/i&gt;, sebagaimana yang terdapat dalam hadits Rasulallah saw. yang lalu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Amal kebajikan seperti itu dapat disebut &lt;i&gt;‘Bid’ah’&lt;/i&gt; hanya menurut pengertian &lt;i&gt;bahasa&lt;/i&gt;, karena apa saja yang baru ‘diadakan’ disebut dengan nama &lt;i&gt;Bid’ah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Ada orang berpegang bahwa istilah bid’ah itu hanya &lt;i&gt;satu saja&lt;/i&gt; dengan berdalil sabda Rasulallah saw. “&lt;i&gt;Setiap bid’ah adalah sesat&lt;/i&gt;...” &lt;i&gt;(“Kullu bid’atin dholalah”)&lt;/i&gt;, serta tidak ada istilah &lt;i&gt;bid'ah hasanah, wajib&lt;/i&gt; dan sebagainya. Setiap amal yang dikategorikan sebagai bid'ah, maka hukumya haram, karena bid'ah dalam pandangan mereka adalah sesuatu yang haram dikerja- kan secara mutlak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Sayangnya mereka ini tidak mau berpegang kepada hadits–hadits lain (keterangan lebih mendetail baca halaman selanjutnya) yang membuktikan sikap Rasulallah saw. yang membenarkan dan meridhoi berbagai amal kebajikan tertentu (yang baru ‘diadakan’ ) yang dilakukan oleh para sahabatnya yang sebelum dan sesudahnya tidak ada perintah dari beliau saw.! &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="color: black; font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Disamping itu banyak sekali&amp;nbsp;amal kebajikan yang dikerjakan setelah wafatnya Rasulallah saw. umpamanya oleh isteri Nabi saw. 'Aisyah ra, Khalifah 'Umar bin Khattab&amp;nbsp;serta para sahabat lainnya&amp;nbsp;&amp;nbsp;yang mana amalan-amalan ini tidak pernah adanya&amp;nbsp; petunjuk dari Rasulallah saw dan mereka&amp;nbsp;kategorikan atau ucapkan sendiri sebagai amalan&amp;nbsp; &lt;i&gt;bid'ah&lt;/i&gt; (baca uraian selanjutnya),&amp;nbsp;tetapi tidak ada satupun dari para sahabat yang mengatakan bahwa&amp;nbsp;sebutan bid'ah itu adalah otomatis &lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;haram, sesat&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; dan tidak ada kata bid'ah selain haram. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Untuk mencegah timbulnya kesalah-fahaman mengenai kata Bid’ah itulah para Imam dan ulama Fiqih memisahkan makna &lt;i&gt;Bid’ah &lt;/i&gt;menjadi beberapa jenis, misalnya :&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 81pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 81pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Menurut Imam Syafi’i tentang pemahaman bid’ah ada dua riwayat yang menjelaskannya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 81pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 81pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;Pertama,&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt; riwayat Abu Nu’aim;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in -27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in -27pt 0pt 0in; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA" style="font-family: 'Arabic Transparent'; font-size: 14pt;"&gt;اَلبِدْعَة ُبِدْعَتَانِ , بِدْعَة ٌمَحْمُودَةٌ وَبِدْعَةِ مَذْمُوْمَةٌ فِْمَا وَافَقَ السُّنَّةَ فَهُوَ مَحْمُوْدَةٌ&amp;nbsp;وَمَا خَالَفَهَا فَهُو مَذْمُوم&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 81pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA" style="font-family: 'Arabic Transparent';"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;‘Bid’ah itu ada dua macam, bid’ah &lt;b&gt;terpuji&lt;/b&gt; dan bid’ah &lt;b&gt;tercela&lt;/b&gt;. Bid’ah yang sesuai dengan sunnah, maka itulah bid’ah yang terpuji sedangkan yang menyalahi sunnah, maka dialah bid’ah yang tercela’.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 81pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;Kedua,&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt; riwayat Al-Baihaqi dalam Manakib Imam Syafi’i&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt; :&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in -27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 81pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; .&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;اَ&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA" style="font-family: 'Arabic Transparent'; font-size: 14pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;لمُحْدَثَاتُ ضَرْبَانِ, مَا اُحْدِثَ يُخَالِفُ كِتَابًا اَوْ سُنَّةً اَوْ أثَرًا اَوْ اِجْمَاعًا فَهَذِهِ بِدْعَةُ الضّلالَةُ&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 81pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA" style="font-family: 'Arabic Transparent'; font-size: 14pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;&amp;nbsp;وَمَا اُحْدِثَ مِنَ الْخَيْرِ لاَ يُخَالِفُ شَيْئًا ِمْن ذَالِكَ فَهَذِهِ بِدْعَةٌ غَيْر مَذْمُوْمَةٌ&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 81pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;'Perkara-perkara baru itu ada dua macam. Pertama, perkara-perkara baru yang menyalahi Al-Qur’an, Hadits, Atsar atau Ijma’. Inilah &lt;u&gt;bid’ah dholalah &lt;/u&gt;&lt;b&gt;/&lt;/b&gt; sesat. Kedua, adalah perkara-perkara baru yang mengandung kebaikan dan tidak bertentangan dengan salah satu dari yang disebutkan tadi, maka bid’ah yang seperti ini tidaklah tercela’.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Didalam kitab &lt;i&gt;tafsir&lt;/i&gt; &lt;i&gt;Imam Qurtubi&lt;/i&gt; juz. 2 halaman 86-87 mengatakan: “ Imam Syafi’i berkata, bahwa bid’ah terbagi dua, yaitu &lt;i&gt;bid’ah mahmudah&lt;/i&gt; (terpuji) dan &lt;i&gt;bid’ah madzmumah&lt;/i&gt; (tercela), maka yang sejalan dengan sunnah maka ia terpuji, dan yang tidak selaras dengan sunnah adalah tercela, beliau berdalil dengan ucapan Umar bin Khattab ra mengenai shalat tarawih: ‘inilah sebaik-baik bid’ah’ “.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya Al-Hafidh Muhammad bin Ahmad Al-Qurtubi rahimahullah berkata: “Menanggapi ucapan ini (ucapan Imam Syafi’i), maka kukatakan (Imam Qurtubi berkata) bahwa makna hadits Nabi saw yg berbunyi: &lt;i&gt;‘seburuk buruk permasalahan adalah hal yg baru, dan semua Bid’ah adalah dhalalah’&lt;/i&gt; (wa syarrul umuuri muhdatsaatuha wa kullu bid’atin dhalaalah), yang dimaksud adalah hal-hal yang &lt;i&gt;tidak sejalan&lt;/i&gt; dengan Alqur’an dan Sunnah Rasul saw., atau perbuatan Sahabat radhiyallahu ‘anhum, sungguh telah diperjelas mengenai hal ini oleh hadits lainnya: ‘Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik dalam islam, maka baginya pahala dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikit pun dari pahalanya, dan barang siapa membuat buat hal baru yang buruk dalam islam, maka baginya dosa dan dosa orang yg mengikutinya’ (Shahih Muslim hadits no.1017--red) dan hadits ini merupakan inti penjelasan mengenai bid’ah yang baik dan bid’ah yang sesat”. (Tafsir Imam Qurtubi juz 2 hal. 87)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Menurut kenyataan memang demikian, ada bid’ah yang baik dan terpuji dan ada pula bid’ah yang buruk dan tercela. Banyak sekali para Imam dan ulama pakar yang sependapat dengan Imam Syafi’i itu. Bahkan banyak lagi yang menetapkan perincian &lt;i&gt;lebih jelas lagi&lt;/i&gt; seperti Imam Nawawi, Imam Ibnu ‘Abdussalam, Imam Al-Qurafi, Imam Ibnul-‘Arabi, Imam Al-Hafidh Ibnu Hajar dan lain-lain. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Al-Muhaddits Al-Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf Annawawi rahimahullah (Imam Nawawi) “Penjelasan mengenai hadits: ‘Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikit pun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat-buat hal baru yang dosanya….’, hadits ini merupakan anjuran untuk membuat kebiasaan-kebiasaan yang baik, dan ancaman untuk membuat kebiasaan yang buruk, dan pada hadits ini terdapat pengecualian dari sabda beliau saw : ‘semua yang baru adalah Bid’ah, dan semua yang Bid’ah adalah sesat’, sungguh yang dimaksudkan adalah hal baru yang &lt;i&gt;buruk&lt;/i&gt; dan Bid’ah yang &lt;i&gt;tercela ” &lt;/i&gt;. (Syarh An-nawawi ‘ala Shahih Muslim juz 7 hal 104-105)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;Dan berkata pula Imam Nawawi “ bahwa Ulama membagi bid’ah menjadi &lt;i&gt;lima bagian&lt;/i&gt;, yaitu bid’ah wajib, bid’ah mandub, bid’ah mubah, bid’ah makruh dan bid’ah haram. &lt;i&gt;Bid’ah wajib&lt;/i&gt; contohnya adalah mencantumkan dalil-dalil pada ucapan-ucapan yang menentang kemungkaran, contoh &lt;i&gt;bid’ah mandub&lt;/i&gt; (mendapat pahala bila dilakukan dan tak mendapat dosa bila di tinggalkan) adalah membuat buku-buku ilmu syariah, membangun majelis ta’lim dan pesantren. Contoh &lt;i&gt;bid’ah mubah&lt;/i&gt; adalah bermacam-macam dari jenis makanan dan &lt;i&gt;bid’ah makruh&lt;/i&gt; &lt;i&gt;dan haram&lt;/i&gt; sudah jelas di ketahui, demikianlah makna pengecualian dan kekhususan dari makna yang umum, sebagaimana ucapan Umar ra atas jama’ah tarawih bahwa ‘inilah sebaik-baik bid’ah’ ”. (Syarh Imam Nawawi ala shahih Muslim Juz 6 hal 154-155)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Menurut Al-Hafidh Ibnu Hajar dalam kitabnya Fathul Baari 4/318 sebagai berikut: “Pada asalnya bid’ah itu berarti sesuatu yang diadakan dengan tanpa ada contoh yang mendahului. Menurut syara’ bid’ah itu dipergunakan untuk sesuatu yang bertentangan dengan sunnah, maka jadilah dia tercela. Yang tepat bahwa bid’ah itu apabila dia termasuk diantara sesuatu yang dianggap baik menurut syara’, maka dia menjadi baik dan jika dia termasuk diantara sesuatu yang dianggap jelek oleh syara’, maka dia menjadi jelek. Jika tidak begitu, maka dia termasuk bagian yang mubah. Dan terkadang bid’ah itu terbagi &lt;i&gt;kepada hukum-hukum yang lima&lt;/i&gt;”.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Pendapat beliau ini senada juga yang diungkapkan oleh ulama-ulama pakar berikut ini :&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Jalaluddin as-Suyuthi dalam risalahnya Husnul Maqooshid fii ‘Amalil Maulid dan juga dalam risalahnya Al-Mashoobih fii Sholaatit Taroowih; Az-Zarqooni dalam Syarah al Muwattho’ ; Izzuddin bin Abdus Salam dalam Al-Qowaa’id ; As-Syaukani dalam Nailul Author ; Ali al Qoori’ dalam Syarhul Misykaat; Al-Qastholaani dalam Irsyaadus Saari Syarah Shahih Bukhori, dan masih banyak lagi ulama lainnya yang senada dengan Ibnu Hajr ini yang tidak saya kutip disini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Ada golongan lagi yang menganggap semua bidáh itu dholalah/sesat dan tidak mengakui adanya bidáh hasanah/mahmudah, tetapi mereka sendiri ada yang membagi bidáh menjadi beberapa macam. Ada &lt;span style="font-family: Arial;"&gt;bidáh mukaffarah&lt;/span&gt; (bidáh kufur),&amp;nbsp; &lt;span style="font-family: Arial;"&gt;bidáh muharramah&lt;/span&gt; (bidáh haram) dan &lt;span style="font-family: Arial;"&gt;bidáh makruh&lt;/span&gt; (bidáh yang tidak disukai). Mereka tidak menetapkan adanya &lt;span style="font-family: Arial;"&gt;bidáh mubah&lt;/span&gt;, seolah-olah mubah itu tidak termasuk ketentuan hukum syariát, atau seolah-olah bidáh diluar bidang ibadah tidak perlu dibicarakan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Bila semua bid’ah&lt;/i&gt; (masalah yang baru)&lt;i&gt; adalah dholalah/sesat atau haram, maka sebagian amalan-amalan para sahabat serta para ulama yang belum pernah dilakukan atau diperintahkan Rasulallah saw. semuanya dholalah atau haram, misalnya :&lt;/i&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;i&gt;a&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;i&gt;).&lt;/i&gt; Pengumpulan ayat-ayat Al-Qur’an, penulisannya serta pengumpulannya (kodifikasinya) sebagai Mushhaf&amp;nbsp; (Kitab) yang dilakukan oleh sahabat Abubakar, Umar bin Khattab dan Zaid bin Tsabit [ra] adalah haram. Padahal tujuan mereka untuk menyelamatkan dan melestarikan keutuhan dan keautentikan ayat-ayat Allah. Mereka khawatir kemungkinan ada ayat-ayat Al-Qur’an yang hilang karena orang-orang yang menghafalnya meninggal.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;b&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;). Perbuatan khalifah Umar bin Khattab ra yang mengumpulkan kaum muslimin dalam shalat tarawih bermakmum pada &lt;span style="font-family: Arial;"&gt;seorang imam&lt;/span&gt; adalah haram. Bahkan ketika itu beliau sendiri &amp;nbsp;berkata :&lt;i&gt; ‘Bid’ah ini sungguh nikmat’.&lt;/i&gt; ( Shohih Bukhori hadits nr.1906)&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="color: #333333; font-family: Helvetica; font-size: 12pt;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: Arial; font-size: 10pt;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;i&gt;c&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;i&gt;).&amp;nbsp;&lt;/i&gt; Pemberian gelar atau titel kesarjanaan seperti; doktor, drs dan sebagainya pada universitas Islam adalah haram, yang pada zaman Rasulallah saw. cukup banyak para sahabat yang pandai dalam belajar ilmu agama, tapi tak satupun dari mereka memakai titel dibelakang namanya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;d&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;).&amp;nbsp; Mengumandangkan adzan dengan pengeras suara, membangun rumah sakit, panti asuhan untuk anak yatim piatu, membangun penjara untuk mengurung orang &amp;nbsp;yang bersalah berbulan-bulan atau bertahun-tahun &lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;baik itu kesalahan kecil maupun besar&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt; dan sebagainya adalah haram. Sebab dahulu orang yang bersalah diberi&amp;nbsp;hukumannya tidak harus dikurung dahulu.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;e&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;). Tambahan adzan sebelum khotbah Jum’at yang dilaksanakan pada zamannya khalifah Usman ra. Sampai sekarang bisa kita lihat dan dengar pada waktu sholat Jum’at baik di Indonesia, di masjid Haram Mekkah dan Madinah dan negara-negara Islam lainnya. Hal ini dilakukan oleh khalifah Usman karena bertambah banyaknya ummat Islam&amp;nbsp;(HR,Bukhori hadits nr.873)&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="color: #333333; font-family: Helvetica; font-size: 12pt;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;f&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;).&amp;nbsp; Menata ayat-ayat Al-Qur’an dan memberi titik pada huruf-hurufnya, memberi nomer pada ayat-ayatnya. Mengatur juz dan rubu’nya dan tempat-tempat dimana dilakukan sujud tilawah, menjelaskan ayat Makkiyyah dan Madaniyyah pada kof setiap surat dan sebagainya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;g&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;). Begitu juga masalah menyusun kekuatan yang diperintahkan &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: Arial;"&gt;Allah swt. kepada ummat Muhammad saw. Kita tidak terikat harus meneruskan cara-cara yang biasa dilakukan oleh kaum muslimin pada masa hidupnya Nabi saw., lalu menolak atau melarang penggunaan pesawat-pesawat tempur, tank-tank raksasa, peluru-peluru kendali, roket-roket dan persenjataan modern lainnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Masih banyak lagi contoh-contoh bid’ah/masalah yang baru, yang berkaitan dengan peribadatan,&amp;nbsp;seperti mengadakan bacaan syukuran waktu memperingati hari kemerdekaan, halal bihalal, memperingati hari ulang tahun berdirinya sebuah negara atau pabrik dan sebagainya (pada waktu&amp;nbsp;memperingati semua ini mereka sering mengadakan bacaan syukuran),&amp;nbsp;yang mana semua ini belum pernah dilakukan pada masa hidupnya Rasulallah saw. serta para pendahulu kita dimasa lampau. Juga didalam manasik haji banyak kita lihat dalam hal peribadatan tidak sesuai dengan zamannya Rasulallah saw. atau para sahabat dan tabi'in umpamanya; pembangunan hotel-hotel disekitar Mina dan tenda-tenda yang pakai full a/c sehingga orang tidak akan kepanasan, nyenyak tidur, menaiki mobil &lt;b&gt;yang tertutup&lt;/b&gt; (beratap) untuk ke Arafat, Mina atau kelain tempat yang dituju untuk manasik Haji tersebut dan lain sebagainya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Sesungguhnya bid'ah (masalah baru) tersebut walaupun tidak pernah dilakukan&amp;nbsp;pada masa Nabi saw. serta para pendahulu kita, selama masalah ini tidak menyalahi syari’at Islam, &lt;span style="font-family: Arial;"&gt;bukan berarti haram&lt;/span&gt; untuk dilakukan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kalau semua masalah baru tersebut dianggap bid’ah dholalah (sesat), maka akan tertutup pintu ijtihad para ulama, terutama pada zaman sekarang tehnologi yang sangat maju sekali, tapi alhamdulillah pikiran dan akidah sebagian besar umat muslim tidak sedangkal itu. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Sebagaimana telah penulis cantumkan sebelumnya bahwa para ulama diantaranya Imam Syafi’i, Al-Izz bin Abdis Salam, Imam Nawawi dan Ibnu Atsir ra. serta para ulama lainnya menerangkan: “Bid’ah/masalah baru yang diadakan ini bila tidak menyalahi atau menyimpang dari garis-garis syari’at, semuanya mustahab (dibolehkan) apalagi dalam hal kebaikan dan sejalan dengan dalil syar’i adalah bagian dari agama”.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Semua amal kebaikan yang dilakukan para sahabat, kaum salaf sepeninggal Rasulallah saw. telah diteliti para ulama dan diuji dengan Kitabullah, Sunnah Rasulallah saw. dan kaidah-kaidah hukum syari’at. Dan setelah diuji ternyata baik, maka prakarsa tersebut dinilai baik dan dapat diterima. Sebaliknya, bila setelah diuji ternyata buruk, maka hal tersebut dinilai buruk dan dipandang sebagai bid’ah tercela.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya &lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Iqtidha'us Shiratil-Mustaqim &lt;/span&gt;banyak menyebutkan bentuk-bentuk kebaikan dan sunnah yang dilakukan oleh generasi-generasi yang hidup pada abad-abad permulaan Hijriyyah dan zaman berikutnya. Kebajikan-kebajikan yang belum pernah dikenal&amp;nbsp;pada masa hidupnya Nabi&amp;nbsp;Muhammad saw. itu diakui kebaikannya oleh Ibnu Taimiyyah.&amp;nbsp;Beliau tidak melontarkan &lt;span style="font-family: Arial;"&gt;celaan &lt;/span&gt;terhadap ulama-ulama terdahulu yang mensunnahkan kebajikan tersebut, seperti Imam Ahmad bin Hanbal, Ibnu Abbas, Umar&amp;nbsp;bin Khattab dan lain-lainnya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Diantara kebajikan yang disebutkan oleh beliau dalam kitabnya itu ialah pendapat Imam Ahmad bin Hanbal diantaranya : Mensunnahkan orang berhenti sejenak disebuah tempat dekat gunung&amp;nbsp;'Arafah sebelum wukuf dipadang 'Arafah &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;bukannya didalam masjid tertentu sebelum&amp;nbsp;Mekkah&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; mengusap-usap mimbar Nabi saw. didalam masjid Nabawi di Madinah, dan&amp;nbsp;lain sebagainya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Ibnu Taimiyyah membenarkan pendapat kaum muslimin di Syam yang &lt;i&gt;mensunnahkan &lt;/i&gt;shalat disebuah tempat dalam masjid&amp;nbsp;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;i&gt;Al-aqsha &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;(Palestina), tempat khalifah Umar dahulu pernah menunaikan sholat. Padahal sama sekali tidak ada nash mengenai sunnahnya hal-hal tersebut diatas. Semua- nya hanyalah pemikiran atau ijtihad mereka sendiri dalam rangka usaha memperbanyak kebajikan, hal mana kemudian diikuti oleh orang banyak dengan i’tikad jujur dan niat baik. Meskipun begitu, dikalangan muslimin pada masa itu tidak ada yang mengatakan: "&lt;i&gt;Kalau hal-hal itu baik tentu sudah diamalkan oleh kaum Muhajirin dan Anshar pada zaman sebelumnya”. (perkataan ini sering diungkapkan oleh golongan pengingkar).&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Masalah-masalah serupa itu banyak disebut oleh Ibnu Taimiyyah dikitab &lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;i&gt;Iqtidha&lt;/i&gt;&lt;/span&gt; ini, antara lain soal &lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;i&gt;tawassul&lt;/i&gt;&lt;/span&gt; (doá perantaran) yang dilakukan oleh isteri Rasulallah saw. 'Aisyah ra. yaitu ketika ia &lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;i&gt;membuka penutup&lt;/i&gt;&lt;/span&gt; makam Nabi saw. lalu sholat istisqa (sholat mohon hujan) ditempat itu, tidak beberapa lama turunlah hujan di Madinah, padahal tidak ada nash sama sekali&amp;nbsp;mengenai cara-cara seperti itu. Walaupun itu hal yang baru (bid'ah) tapi dipandang baik oleh kaum muslimin, dan tidak ada sahabat yang mencela dan mengatakan bid’ah dholalah/sesat.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Sebuah hadits yang diketengahkan oleh Imam Bukhori dalam shohihnya jilid 1 halaman 304 dari Siti 'Aisyah ra., bahwasanya ia selalu sholat Dhuha, padahal&amp;nbsp;Aisyah ra. sendiri&amp;nbsp;berkata bahwa&amp;nbsp;ia &lt;i&gt;tidak pernah&lt;/i&gt; menyaksikan Rasulallah saw. sholat dhuha. Pada halaman 305 dibuku ini Imam Bukhori juga mengetengahkan sebuah riwayat yang berasal dari &lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;i&gt;Mujahid &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;yang mengatakan : "Saya bersama Úrwah bin Zubair masuk kedalam masjid Nabi saw.. Tiba-tiba kami melihat 'Abdullah bin Zubair sedang duduk dekat kamar 'Aisyah ra dan banyak orang lainnya sedang&amp;nbsp;sholat dhuha. Ketika hal itu kami tanyakan kepada 'Abudllah bin Zubair (mengenai sholat dhuha ini)&amp;nbsp;ia menjawab : &lt;i&gt;"Bidáh".&lt;/i&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;'Aisyah ra seorang isteri Nabi saw. yang terkenal cerdas, telah mengatakan sendiri bahwa dia sholat dhuha sedangkan Nabi saw. tidak mengamalkannya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Begitu juga 'Abdullah bin&amp;nbsp;Umar (Ibnu Umar)&amp;nbsp;mengatakan sholat dhuha adalah &lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;i&gt;bid'ah&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;, tetapi tidak seorangpun yang mengatakan bahwa bid'ah itu &lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;i&gt;bid'ah dholalah&lt;/i&gt;&lt;/span&gt; yang pelakunya akan dimasukkan keneraka! &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Dengan demikian masalah baru yang dinilai baik dan dapat diterima ini disebut &lt;i&gt;bid’ah hasanah&lt;/i&gt;. Karena sesuatu yang diperbuat atau dikerjakan oleh isteri Nabi atau para sahabat yang tersebut diatas bukan atas perintah Allah dan Rasul-Nya itu bisa disebut bid’ah tapi sebagai &lt;i&gt;bid’ah hasanah.&lt;/i&gt; Semuanya ini dalam pandangan hukum syari’at bukan bid’ah melainkan &lt;i&gt;sunnah mustanbathah&lt;/i&gt; yakni sunnah yang ditetapkan berdasarkan i&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;i&gt;stinbath &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;atau &lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;i&gt;hasil ijtihad.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Dalam makalah As-Sayyid Muhammad bin Alawiy Al-Maliki Al-Hasani rh yang berjudul &lt;i&gt;Haulal Ihtifal bil Mauliddin Nabawiyyisy Syarif&lt;/i&gt; tersebut disebutkan: Yang dikatakan oleh orang fanatik (extreem) bahwa apa-apa yang belum pernah dilakukan oleh kaum salaf, tidaklah mempunyai dalil bahkan tiada dalil sama sekali bagi hal itu. Ini bisa dijawab bahwa tiap orang yang mendalami ilmu ushuluddin mengetahui bahwa Asy-Syar’i (Rasulallah saw.) menyebutnya &lt;i&gt;bid’ahtul hadyi&lt;/i&gt; (bid’ah dalam menentukan petunjuk pada kebenaran Allah dan Rasul-Nya) sunnah, dan menjanjikan pahala bagi pelakunya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Firman Allah swt. &lt;i&gt;‘Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung&lt;/i&gt;’.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;(Ali Imran (3) : 104).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Allah swt. berfirman : &lt;i&gt;‘Hendaklah kalian berbuat kebaikan agar kalian memperoleh keuntungan”&lt;/i&gt;.&amp;nbsp;(Al-Hajj:77)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Abu Mas’ud&amp;nbsp; (Uqbah) bin Amru Al-Anshory ra berkata; bersabda Rasulallah saw.; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA" style="font-family: 'Arabic Transparent';"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA" style="font-family: 'Arabic Transparent'; font-size: 14pt;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; وَعَنْ أبِي مَسْعُوْدِ&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA" style="font-family: 'Arabic Transparent'; font-size: 12pt;"&gt; (ر) &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA" style="font-family: 'Arabic Transparent'; font-size: 14pt;"&gt;عُقْبَةُ ِبنْ عَمْرُو الأ نْصَارِيُّ&amp;nbsp; قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ الله &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA" style="font-family: 'Arabic Transparent'; font-size: 12pt;"&gt;.صَ.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA" style="font-family: 'Arabic Transparent'; font-size: 14pt;"&gt;: مَنْ دَلَّ عَلىَ خَيْرٍ فَلَهُ مِثْـلُ أَجْرُ فَاعِلُهُ(رواه&amp;nbsp;مسلم)&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA" style="font-family: 'Arabic Transparent';"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;Artinya: ‘Siapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia mendapat pahala sama dengan yang mengerjakannya’&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;( HR.Muslim) &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Dalam hadits riwayat Muslim Rasulallah saw. bersabda:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;‘Barangsiapa menciptakan satu gagasan yang baik dalam Islam maka dia memperoleh pahalanya dan juga pahala orang yang melaksanakannya dengan tanpa dikurangi sedikitpun, dan barangsiapa menciptakan satu gagasan yang jelek dalam Islam maka dia terkena dosanya dan juga dosa orang-orang yang mengamalkan nya dengan tanpa dikurangi sedikitpun”. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;Masih banyak lagi hadits yang serupa/semakna diatas riwayat Muslim dari Abu Hurairah dan dari Ibnu Mas’ud ra. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Sebagian golongan memberi takwil bahwa yang dimaksud dengan kalimat &lt;i&gt;sunnah &lt;/i&gt;dalam hadits diatas adalah; &lt;i&gt;Apa-apa yang telah ditetapkan oleh Rasulallah saw. dan para Khulafa’ur Roosyidin, bukan gagasan-gagasan baik yang tidak terjadi pada masa Rasulallah saw dan Khulafa’ur Rosyidin.&lt;/i&gt; Yang lain lagi memberikan takwil bahwa yang dimaksud dengan kalimat &lt;i&gt;sunnah hasanah&lt;/i&gt; dalam hadits itu adalah; &lt;i&gt;sesuatu yang diada-adakan oleh manusia daripada perkara-perkara &lt;span style="font-family: Arial; font-style: normal;"&gt;keduniaan &lt;/span&gt;yang mendatangkan manfaat, sedangkan maksud sunnah sayyiah/buruk adalah sesuatu yang diada-adakan oleh manusia daripada perkara-perkara &lt;span style="font-family: Arial; font-style: normal;"&gt;keduniaan&lt;/span&gt; yang mendatangkan bahaya dan kemudharatan. &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Dua macam pembatasan mereka diatas ini mengenai makna hadits yang telah kami kemukakan itu merupakan satu bentuk pembatasan hadits dengan &lt;i&gt;tanpa dalil,&lt;/i&gt; karena secara jelas hadits tersebut membenarkan adanya gagasan-gagasan kebaikan pada &lt;i&gt;masa kapanpun&lt;/i&gt; &lt;i&gt;dengan tanpa ada pembatasan pada masa-masa tertentu.&lt;/i&gt; Juga secara jelas hadits itu menunjuk kepada &lt;i&gt;semua perkara&lt;/i&gt; &lt;i&gt;yang diadakan dengan tanpa ada contoh yang mendahului baik dia itu dari perkara-perkara dunia ataupun perkara-perkara agama!! &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kami perlu tambahkan mengenai makna atau keterangan hadits Rasulallah saw. berikut ini: &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;"&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Hendaklah kalian berpegang pada sunnahku dan sunnah para Khalifah Rasyidun sepeninggalku". &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;(HR.Abu Daud dan Tirmidzi).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Yang dimaksud &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;sunnah &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;dalam hadits itu adalah &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;thariqah &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;yakni jalan (baca keterangan sebelumnya), cara atau kebijakan; dan yang dimaksud &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Khalifah Rasyidun&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;ialah &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;para penerus kepemimpinan beliau yang lurus&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; .Sebutan itu tidak terbatas berlaku bagi &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;empat Khalifah sepeninggal Rasulallah saw. saja&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;, tetapi dapat diartikan lebih luas, berdasarkan makna Hadits yang lain : "&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Para ulama adalah ahli-waris para Nabi ". &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;Dengan demikian hadits itu dapat berarti dan berlaku pula para ulama dikalangan kaum muslimin berbagai zaman, mulai dari zaman kaum Salaf (dahulu), zaman kaum Tabi'in, Tabi'it-Tabi'in dan seterusnya; dari generasi ke generasi, mereka adalah Ulul-amri yang disebut dalam Al-Qur'an surat An-Nisa : 63 : &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;"Sekiranya mereka menyerahkan&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; (urusan itu)&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt; kepada Rasulallah dan Ulul-amri&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; (orang-orang yang mengurus kemaslahatan ummat) &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;dari mereka sendiri, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; (akan dapat) &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;mengetahui dari mereka &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;(ulul-amri)”.&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Para alim-ulama&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;bukan kaum awam&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;yang mengurus kemaslahatan ummat Islam, khususnya dalam kehidupan beragama. Sebab, mereka itulah yang mengetahui ketentuan-ketentuan dan hukum-hukum agama. Ibnu Mas'ud&amp;nbsp;ra. menegaskan : "&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Allah telah memilih Muhammad saw. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;(sebagai Nabi dan Rasulallah)&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt; dan telah pula memilih sahabat-sahabatnya. Karena itu apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin, baik pula dalam pandangan Allah "&amp;nbsp;.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; Demikian yang diberitakan oleh Imam Ahmad bin Hanbal didalam Musnad-nya dan dinilainya sebagai hadits Hasan (hadits baik).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Dengan pengertian &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;penakwilan kalimat &lt;i&gt;sunnah&lt;/i&gt; dalam&amp;nbsp; hadits &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;diatas&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;yang salah ini golongan tertentu ini &amp;nbsp;dengan mudah membawa keumuman hadits &lt;i&gt;kullu bid’atin dholalah&lt;/i&gt; (semua bid’ah adalah sesat) terhadap semua perkara baru, baik yang bertentangan dengan nash dan dasar-dasar syari’at maupun yang tidak. Berarti mereka telah mencampur-aduk kata bid’ah itu antara penggunaannya yang &lt;i&gt;syar’i&lt;/i&gt; dan yang l&lt;i&gt;ughawi&lt;/i&gt; (secara bahasa) dan mereka telah terjebak dengan ketidak pahaman bahwa keumuman yang terdapat pada hadits hanyalah terhadap &lt;i&gt;bid’ah yang syar’i&lt;/i&gt;&amp;nbsp; yaitu setiap perkara baru yang bertentangan dengan nash dan dasar syari'at. Jadi bukan terhadap bid’ah yang &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;lughawi &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;yaitu setiap perkara baru yang diadakan dengan tanpa adanya contoh. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Bid’ah lughawi inilah yang terbagi dua yang pertama adalah &lt;i&gt;mardud &lt;/i&gt;yaitu perkara baru yang &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;bertentangan&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; dengan nash dan dasar-dasar syari’at dan inilah yang disebut &lt;i&gt;bid’ah dholalah&lt;/i&gt;, sedangkan yang kedua adalah kepada yang &lt;i&gt;maqbul&lt;/i&gt; yaitu perkara baru yang &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;tidak bertentangan&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; dengan nash dan dasar-dasar syari’at dan inilah yang dapat diterima walaupun terjadinya itu pada masa-masa dahulu/pertama atau sesudahnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Barangsiapa yang memasukkan semua perkara baru &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;yang tidak pernah dikerjakan oleh Rasulallah saw, para sahabat dan mereka yang hidup pada abad-abad pertama itu&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;kedalam bid’ah dholalah, maka dia haruslah mendatangkan terlebih dahulu &lt;i&gt;nash-nash yang khos&lt;/i&gt; (khusus) untuk masalah yang baru itu maupun yang &lt;i&gt;‘am&lt;/i&gt; (umum), agar yang demikian itu tidak bercampur-aduk dengan bid’ah yang maqbul berdasarkan penggunaannya yang lughawi. Karena &lt;i&gt;tuduhan&lt;/i&gt; bid’ah dholalah pada suatu amalan sama halnya dengan &lt;i&gt;tuduhan mengharamkan&lt;/i&gt; amalan tersebut. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kalau kita baca hadits dan firman Ilahi dibuku&amp;nbsp;ini, kita malah diharuskan sebanyak mungkin menjalankan ma’ruf (kebaikan) yaitu semua perbuatan yang &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;mendekatkan&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; kita kepada Allah swt. dan menjauhi yang mungkar (keburukan) yaitu semua perbuatan yang &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;menjauhkan&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; kita dari pada-Nya agar kita memperoleh keuntungan (pahala dan kebahagian didunia maupun diakhirat kelak). Begitupun juga orang yang menunjukkan kepada kebaikan tersebut akan diberi oleh Allah swt. pahala yang sama dengan orang yang mengerjakannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Apakah kita hanya berpegang pada satu hadits&amp;nbsp;yang kalimatnya: &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;semua bid'ah dholalah&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&amp;nbsp;dan &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;kita buang&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; ayat ilahi dan hadits-hadits yang lain yang menganjurkan manusia selalu berbuat kepada kebaikan? Sudah tentu Tidak!&amp;nbsp; Yang benar ialah bahwa kita harus berpegang pada semua hadits&amp;nbsp;yang telah diterima kebenarannya oleh jumhurul-ulama serta tidak hanya melihat tekstual kalimatnya saja tapi memahami makna dan motif setiap ayat Ilahi dan sunnah Rasulallah saw. sehingga ayat ilahi dan sunnah ini satu sama lain tidak akan berlawanan maknanya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 27pt 0pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Berbuat kebaikan itu sangat luas sekali maknanya bukan hanya masalah peribadatan saja. Termasuk juga kebaikan adalah hubungan baik antara sesama manusia (toleransi) baik antara sesama muslimin maupun antara muslim dan non-muslim (yang tidak memerangi kita), antara manusia dengan hewan, antara manusia dan alam semesta. Sebagaimana para ulama pakar Islam klasik pendahulu kita sudah menegaskan bahwa pelanggaran &lt;i&gt;hak asasi manusia&lt;/i&gt; tidak akan diampuni kecuali oleh orang yang bersangkutan, sementara hak asasi Tuhan diurus oleh diri-Nya sendiri. &lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-weight: normal;"&gt;Manusia manapun tidak pernah diperkenankan membuat klaim-klaim yang dianggap mewakili hak Tuhan.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; Dalam konsep tauhid, Allah lebih dari mampu untuk melindungi hak-hak pribadi-Nya. Karena itu, kita harus berhati-hati untuk tidak melanggar hak-hak asasi manusia. Dalam Islam, Tuhan sendiri pun &lt;i&gt;tidak&lt;/i&gt; akan mengampuni pelanggaran terhadap hak asasi orang lain, kecuali yang bersangkutan telah memberi maaf. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2471196886602119956-5649542389378721252?l=hal-bidah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2471196886602119956/posts/default/5649542389378721252'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2471196886602119956/posts/default/5649542389378721252'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hal-bidah.blogspot.com/2010/08/apa-yang-dimaksud-bidah-dalam-hadits.html' title='Apa yang dimaksud Bid&apos;ah dalam hadits Rasulallah saw.?'/><author><name>AWePe</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_uK6_qhrF-cI/TFcJ0Lh2OFI/AAAAAAAAADw/ccTUj5P4NUA/s72-c/makam-Nabi-SAW.JPG' height='72' width='72'/></entry></feed>
